Kata Itu Bahasa Jiwa
Oleh : Reza Ervani
(Dibuat atas Permintaan Sahabat Dito Nugroho untuk Bukunya
"Pengantar Jiwa")

"Jangan Pernah Remehkan Sebuah Tulisan", begitu seringkali
penulis sampaikan pada sahabat-sahabat di Rumah Ilmu Indonesia, sebuah
lembaga yang juga lahir awalnya dari komunitas yang
"membagi-bagikan" tulisan.

Tak ubahnya dengan orasi dan pidato yang memikat, sebuah goresan pena
diatas kertas dapat pula melahirkan ribuan perubahan di atas hamparan
bumi.

Kata adalah bahasa jiwa … Apapun medianya …
Ungkapan sayang seorang bunda kepada buah hatinya adalah bahasa jiwa
Ungkapan cinta seorang suami kepada istrinya, pula adalah bahasa jiwa
Ungkapan kagum seorang santri kepada kiai-nya, itupun adalah bahasa
jiwa.
Hingga puisi-puisi cinta seorang pujangga kepada kekasihnya, penuh
dengan bahasa jiwa.

Seringkali penulis rasakan, betapa ingin setiap tulisan yang dibuat
memiliki susunan kata yang dirangkai begitu rapi, memiliki rima, tanpa
pengulangan dan berbagai pesona lainnya. Tapi terkadang hal itulah yang
menjebak bahasa jiwa sehingga ia tak lagi memancarkan pesonanya.
Mengejar kekaguman pembaca ternyata justru menghilangkan kekuatan
kata-kata. Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang lebih nyaman
membaca tulisan-tulisan "ringan" seputar kehidupan, daripada
referensi-referensi "berat" yang lebih mengandalkan akal.

Karena susunan kata adalah bahasa jiwa, maka membaca juga sesungguhnya
adalah pekerjaan jiwa, bukan akal semata. Titik temu antara sang penulis
dan pembaca ada di tataran ini, tataran jiwa, atau lebih dalam lagi,
tataran ruhi. Pertemuan inilah yang kemudian melahirkan apa yang sering
kita sebut sebagai tulisan inspirasional, menggugah hingga menggetarkan.

Penulis berpendapat bahwa tidak ada susunan kata yang dapat dinilai
dengan pantas oleh orang lain, sekalipun ia adalah seorang penulis
kawakan penuh pengalaman. Menghadirkan suasana kala tulisan itu
dilahirkan sungguh sulit dilakukan kembali, bahkan oleh si penulis
sekalipun, apatah lagi oleh orang diluarnya.

Memberikan pengantar pada sebuah catatan jiwa merupakan pekerjaan berat
– setidaknya bagi saya, penulis pengantar ini.

Mencoba masuk ke dalam ruang tempat sang penulis buku ini menyusun
kata-katanya bukanlah pekerjaan yang mudah, terlebih lagi jika diminta
memberikan pengantar dan komentar atas tulisan-tulisan itu.

Sebuah kehormatan untuk kemudian hanya bisa mengatakan, marilah sejenak
bermain-main di halaman jiwa sang penulis buku ini, untuk kemudian
mengetahui ruang-ruang baru yang mungkin belum pernah kita temukan
sebelumnya.

Memperhatikan setiap detail kalimatnya, merenungkan setiap bentuk
paragrapnya, mudah-mudahan bisa kita temukan disana bahasa itu …
bahasa jiwa.

Allahu `Alam
Bandung, Dalam Payung Hujan yang Menyejukkan


Kirim email ke