Ketika minggu kemarin plesir ke Jatinangor,
menyambangi bekas tempat kost dulu, saya teringat masa-masa dulu menjadi
mahasiswa. Meski sempat terasa asing karena penghuni kost telah berganti
wajah-wajah fresh yang menyiratkan gelora semangat. Namun 3 orang mahasiswa
“sepuh” yang tersisa di kost cukup membasahi dahaga kerinduan. Yang pasti, saya
mendapat fasilitas menginap, mandi gratis, meski kalau urusan makan saya merasa
ga enak kalau membiarkan adik-adik mahasiswa (ledekan untuk teman-teman
se-angkatan) membeli dari kantung sendiri.
Tiga orangteman saya ini sudah hampir 8 tahun menikmati subsidi dari pemerintah
untukkuliah di PTN. Kendati demikian saya yakin, tidak ada niatan mereka
merugikannegara dan menzalimi rakyat. Mungkin, masih banyak proyek membangun
peradabanyang belum kelar. Saya adalah yang pertama meninggalkan kost tercinta
diantara11 orang teman seangkatan darisedikitnya 20 penguhi kost sekitar 3
tahun lalu. Padahal saya tidak punyakomputer untuk mengerjakan skripsi,
sementara hampir seluruh teman kost sayapunya komputer, dan rata-rata mereka
baru lulus setahun lalu.
Saya bersyukur
bisa lulus lebih dulu dengan segala keterbatasan fasilitas. Satu-satunya
fasilitas yang saya punya adalah TV yang dibeli ketika tingkat 2. Itupun
akhirnya saya relakan menjadi “milik” bersama dan ditempatkan di kamar kost
teman saya setelah saya merasa terganggu dan sebal dengan TV. Jadilah saya
merasakan nikmatnya hidup dalam kesunyian, hanya berteman rak buku (meski
jarang baca juga!)
Saya melihatterkadang fasilitas membuat orang malas, terlebih bila itu dibeli
tidak sesuaidengan kebutuhannya. Atau mungkin awalnya dibeli karena kebutuhan,
kemudianmenyimpang dari tujuan karena larut dalam kenyamanan. Hampir seluruh
teman kostlebih banyak menggunakan komputer untuk bermain game dan menonton
film (maaf,bro saya bongkar rahasianya), sehingga melalaikan proyek penulisan
skripsi.Saya lah yang kecipratan berkah, leluasa menggunakan komputer pada
ba’dashubuh, dhuha, sore dan malam setelah waktu-waktu entertainment closed.
Teringat dulu
saya menunda membeli komputer karena adanya kebutuhan orang tua yang menurut
saya lebih penting. Sampai akhirnya kebutuhan orang tua tertunaikan, dan saya
lulus. Alhamdulillah. Sampai sekarang pun saya masih berprinsip demikian,
membeli sesuatu harus benar-benar karena kebutuhan, bukan sekedar mengikuti
“modern lifestyle” atau mendongkrak prestise. Sayang sekali rasanya kalau kita
makan gengsi, mending makan nasi. :-). Islam juga tidak mengajarkan hidup
berlebih-lebihan, larut dalam pemborosan dan bermewah-mewahan sementara ada hak
yang lebih utama dari itu semua. Btw, thanks bro atas semuanya…
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ