dah seminggu saya ga buka milis ini......hmm....ada sekian ratus email 
masuk....luar biasa.....pertumbuhan milis ini......
sedikit urun rembug juga.....
ketika saya menikah......saya menganggap pernikahan saya adalah ibadah, istri 
saya hampir sempurna kebalikan dari yang saya harapkan......tidak ada rasa 
cinta, tidak ada rasa bangga......
begitu selesai menikah.....pertama yang ada dalam hati saya 
adalah......bersyukur, alhamdulillah Allah sudah mengamanahi saya seorang 
istri.....maka saya ingin meniru Rasulullah SAW, sebaik-baik kamu adalah yang 
paling baik terhadap keluarganya.....
saya berdoa kepada Allah SWT, Ya Allah....karuniakanlah dan limpahkanlah rasa 
cinta dalam hatiku terhadap istriku sebagaimana Engkau telah mencintaiku selama 
ini.
hari berlanjut........kewajibanku adalah membahagiakan istriku....segala usaha 
saya kerahkan agar cinta bisa tumbuh....Alhamdulillah.....Allah menumbuhkan 
benih cinta itu.......dan alhamdulillah.....benih itu tumbuh di tanah yang 
subur, hari demi hari cinta itu kian subur......dari sekedar senyum hingga 
kecup mesra kepada istri di saat mengerjakan pekerjaan sehari-hari.....
Sesungguhnya kebahagiaan itu bukan berada di luar, dia muncul dari dalam diri 
kita.
Kebahagiaan muncul ketika kita bisa mensyukuri karunia yg diberikan Allah 
kepada kita.
Makanan mewah di restoran terkenal memang enak, tetapi apa gunanya kalo tidak 
bisa mengobati rasa lapar (habis cuman ada di bayangan doank), jadi makanan 
terbaik dan paling enak adalah makanan yg ada ketika kita membutuhkannya......
Istri kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya diberikan Allah kepada 
kita untuk disyukuri, semua kelebihan istriku selalu terkenang dalam mataku dan 
segala kekurangannya tertutup oleh cintaku.
Sering dikatakan bahwa dengan bersinergi maka 1 + 1 = >2
Masalahnya...bisakah kita bersinergi dengan pasangan kita? Bersinergi, 
bekerjasama antar 2 atau lebih manusia, pasti ada cocok dan tidak 
cocok......tinggal bagaimana kita bersatu dalam hal yg sesuai dan mencintai 
dalam hal yang berbeda.
Menikah bukan untuk sekedar berhura-hura dalam bercinta.......
Menikah bukan pula sekedar suka dan tidak suka
Menikah adalah tanggung jawab
Sudahkah kita memenuhi tanggung jawab itu
Atau sudah siapkah kita untuk meluapkan cinta yang berasal dariNya kepada 
pasangan kita?
Aku mencintai istriku seperti air lautan
Semua kelebihan istriku muncul ke permukaan menjadi pulau dan gunung
Dan semua kekurangan istriku tersimpan tidak terlihat dalam relung relung gelap 
lautan
Entahlah....semoga ada yg paham....hehehe....


----- Original Message ----
From: rosy eka iik <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, May 19, 2008 8:56:43 AM
Subject: [rezaervani] Re: [RENUNGAN] Kesempurnaan menikmati ditentukan oleh 
ketepatan berhenti menikmatinya


Urun pendapat, yaa......... ........
Kesempurnaan menikmati peran kita sebagai suami adalah ketika Allah telah 
memanggil salah satu diantara kita dan itu adalah saat yang paling tepat, 
karena yang menentukan adalah Dzat Yang Maha Tepat, Dzat Yang Maha Tahu kapan 
harus berhenti nafas seseorang. Sehingga kita dapat merenungi kembali masa-masa 
kebersamaan kita bersama istri tercinta, baik suka maupun duka, sedih ataupun 
senang, (bahkan ketika kita berdiam-diam/ marahan sekalipun) saat itu adalah 
saat-saat terindah bagi kita (ini tentu saja hanya dapat dirasakan oleh suami 
yang mencintai istrinya dengan baik dan istri yang mencintai suaminya dengan 
baik pula).
RasuluLLAH adalah profile suami yang mencintai istrinya dengan baik, sehingga 
ketika Beliau Saw. wafat semua istrinya merasa dirinyalah saja wanita yang 
sangat dicintai RasuluLLAH.
Allahu'alam



----- Original Message ----
From: Abah <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Sunday, May 18, 2008 8:38:26 PM
Subject: [rezaervani] Re: [RENUNGAN] Kesempurnaan menikmati ditentukan oleh 
ketepatan berhenti menikmatinya


Salam,
Untuk Syarif, saya sepenuhnya sepakat dengan gagasan umum kalimat itu. 
Kesempurnaan menikmati ditentukan oleh ketepatan berhenti menikmatinya.
untuk bahan renungan selanjutnya, maka izinkan saya bertanya, apakah ada 
tanda-tanda yang dapat dimaknai seseorang sebagai isyarat untuk berhenti 
menikmati sesuatu? 
Dalam konteks kegiatan apa saja kalimat itu menjadi relevan? misalnya saya 
sebagai seorang suami sekarang. Apakah saya harus berhenti pada saat yang tepat 
sebagai suami, jika ingin mencapai kesempurnaan menikmati..he. .he..? 
Apakah tujuan berhenti menikmati pada waktunya itu hanya agar kita memperoleh 
kenikmatan yang sempurna? 

Wassalam,

Dudung AR

Syarif Niskala <[EMAIL PROTECTED] agung.co. id> wrote:
Sahabat-sahabat milist yang  budiman,

Semoga email ini menjumpai sahabat dalam kesehatan yang prima,  kebahagiaan 
yang merona dan rasa syukur yang dalam.

Di bawah adalah  sebuah sudut pandang singkat dan sederhana, yang semoga  
bermanfaat.

---------

Kesempurnaan menikmati  ditentukan oleh ketepatan berhenti menikmatinya
 
Dalam melukis lukisan  abstrak - membutuhkan kemampuan untuk mengenali kapan 
saat untuk berhenti (Mario  Teguh).
Bagaimana jadinya sebuah lukisan  abstrak jika kanvasnya tidak menyisakan ruang 
tanpa cat minyak.  Apakah  mudah dibedakan antara luksan anak yang sedang 
belajar membuat garis dengan  maestro abstrak, jika ruang lukisnya penuh dengan 
garis-garis tak  beraturan.  Jadi perbedaan corat-coret seorang anak dengan 
maestro Affandi,  hanya pada saat kapan terakhir mengangkat kuas dari kanvas.
 
Dalam menggaruk - harus  mengetahui kapan saat yang tepat untuk berhenti.
Menggaruk bagian yang gatal  adalah salah satu kenikmatan yang mudah dan 
memiliki sensasi kepuasan  tinggi.  Tapi akan segera menjadi bencana bagi 
kesehatan kulit jika kita  tidak berhenti saat lapisan kulit ari bagian terluar 
mulai terkelupas.  Dan  luka lecet akibat garukan, jarang sembuh dalam hitungan 
jam, melainkan hari  untuk meninggalkan noda.  Pula, segera setelah menggaruk 
yang melewati  batas waktunya, akan meninggalkan perih - bukan lagi  kenikmatan.
 
Berhenti makan tepat  sebelum kenyang (Muhammad Saw).
Pasti banyak rahasia dari  anjuran mulia untuk berhenti makan tepat sebelum 
kenyang.  Tetapi kita  semua yang sangat berpengalaman melewati batas tipis 
itu, seringkali diserang  penurunan fokus konsentrasi, kantuk, begah 
kekenyangan, gangguan  pencernaan, kegemukan, serangan jantung, kencing manis 
dan sederet disfungsional  tubuh akibat pola makan yang tidak adil bagi tubuh.  
Kemudian banyak  pribadi yang dihukum atau menghukum diri dengan menolak atau 
dihindarkan  mengkonsumsi jenis makanan tertentu - bahkan ada pembatasan yang 
membuat dirinya  tersiksa.  Padahal kenikmatan makan adalah salah satu anugerah 
yang asasi  makhluk hidup.
 
Bangun tidur disepertiga  malam (Wahyu Illahi)
Tidak akan cukup lautan tinta  untuk menuliskan seluruh hikmah, walau hanya 
dari sepenggal wahyu.  Khabar  dari para penikmat sepertiga malam terakhir 
adalah kekuatan perkataan,  kejernihan pikiran, kebeningan hati, kesantunan 
berperilaku, sensitivitas  tinggi, kedamaian perasaan, rasa cinta paling 
tinggi, kebersahajaan sikap,  kebijakan yang luas dan lain sebagainya.  Bukan 
jumlah jam jaga dalam  sepertiganya yang paling menentukan, melainkan pilihan 
penggalannya yang  mengkondisikan.  Bukankah para kupu-kupu malam, telah 
menghabiskan setengah  malamnya untuk berjaga, hanya saja bagian penggalan di 
muka - yang kemudian  mengkondisikan kehidupan yang hina.  Entah apa kalimat 
rahasianya  pada alam ini; sepertiga malam awal untuk para pecinta dunia dan 
sepertiga  malam terakhir untuk para pecinta dunia-akhirat.  Sepertiga malam 
awal  untuk banyak aktivitas keburukan dan sepertiga malam terakhir untuk 
banyak  aktivitas kebaikan.
 
Mengundurkan diri dari  kursi kepemimpinan
Salah satu kenikmatan yang  paling mempesona manusia, membanjirkan begitu 
banyak darah, meneteskan begitu  banyak air mata kepedihan, menyedot paling 
banyak angka berbilang biaya; adalah  kenikmatan berkuasa.  Kita telah banyak 
menyaksikan akhir yang tragis,  memilukan, menghinakan, dari para pemimpin yang 
melewati batas usia  kepemimpinannya.  Sejarah kita juga mencatat 
pribadi-pribadi emas yang  mengenali dan berhenti tepat dari kursi kekuasaan - 
baik atas rencana dirinya  atau rencana Yang Maha Merencanakan.  Para Nabi 
mulia selalu Dihentikan  pada saat kegemilangannya. Katanya Dr. Mahatir 
Mohammad mengundurkan diri pada  titik terbaiknya.  Buya HAMKA berhenti 
menjabat saat yang tepat.  Bung  Hatta mengundurkan diri pada saat yang tepat.
Kualitas visioner seorang  pemimpin yang sebenarnya adalah mengetahui saat yang 
tepat meletakkan  jabatannya, bukan karena aturan ketat periodesasi.
 
Mohon agar kita tidak khawatir,  sebab jika kita - Anda dan saya,  tidak 
melihat dengan jelas kapan saat  yang tepat itu datang, kita bisa meminta 
bantuan dari Yang Maha Mengetahui,  bahkan untuk kepemimpinan di keluarga kita. 
 Mungkin istilah khusnul  khatimah - meninggal dalam kemuliaan, adalah istilah 
lain dari saat  pemberhentian yang tepat pada kehidupan ini.
 
Kesempurnaan menikmati ditentukan oleh ketepatan berhenti  menikmatinya.
 
---
 
Terima kasih  yang dalam atas kesediaan menerima sudut pandang di atas.
Selamat menikmati  jamuan akhir pekan yang penting dalam kehidupan  kita.

Wassalam

Syarif  Niskala
syarifniskala. wordpress. com

 

    


      

Kirim email ke