Semoga langkah pak Arif ini diikuti oleh banyak suami-suami lain..

"Dan semua kekurangan istriku tersimpan tidak terlihat dalam relung relung 
gelap lautan"
Sebenarnya semua jenis kekurangan bisa diperbaiki, minimal dikurangi kalau 
tidak mungkin dihilangkan.
Selama yang punya kekurangan mau berusaha dan ada pihak yang mendukung 
usahanya tersebut..
Baik istri maupun suami..
Apalagi kalau disertai dengan rasa cinta seperti lautan .. :)

Jadi tidak perlu disimpan dalam relung gelap lautan, karena suatu saat dia 
bisa muncul ke permukaan dalam bentuk yang menakutkan..

wasalam
-dwip-




arif rahman <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
05/22/2008 11:57 AM
Please respond to
[email protected]


To
[email protected]
cc

Subject
[rezaervani] Cintaku seperti lautan







dah seminggu saya ga buka milis ini......hmm....ada sekian ratus email 
masuk....luar biasa.....pertumbuhan milis ini......
sedikit urun rembug juga.....
ketika saya menikah......saya menganggap pernikahan saya adalah ibadah, 
istri saya hampir sempurna kebalikan dari yang saya harapkan......tidak 
ada rasa cinta, tidak ada rasa bangga......
begitu selesai menikah.....pertama yang ada dalam hati saya 
adalah......bersyukur, alhamdulillah Allah sudah mengamanahi saya seorang 
istri.....maka saya ingin meniru Rasulullah SAW, sebaik-baik kamu adalah 
yang paling baik terhadap keluarganya.....
saya berdoa kepada Allah SWT, Ya Allah....karuniakanlah dan limpahkanlah 
rasa cinta dalam hatiku terhadap istriku sebagaimana Engkau telah 
mencintaiku selama ini.
hari berlanjut........kewajibanku adalah membahagiakan istriku....segala 
usaha saya kerahkan agar cinta bisa tumbuh....Alhamdulillah.....Allah 
menumbuhkan benih cinta itu.......dan alhamdulillah.....benih itu tumbuh 
di tanah yang subur, hari demi hari cinta itu kian subur......dari sekedar 
senyum hingga kecup mesra kepada istri di saat mengerjakan pekerjaan 
sehari-hari.....
Sesungguhnya kebahagiaan itu bukan berada di luar, dia muncul dari dalam 
diri kita.
Kebahagiaan muncul ketika kita bisa mensyukuri karunia yg diberikan Allah 
kepada kita.
Makanan mewah di restoran terkenal memang enak, tetapi apa gunanya kalo 
tidak bisa mengobati rasa lapar (habis cuman ada di bayangan doank), jadi 
makanan terbaik dan paling enak adalah makanan yg ada ketika kita 
membutuhkannya......
Istri kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya diberikan Allah 
kepada kita untuk disyukuri, semua kelebihan  istriku selalu terkenang 
dalam mataku dan segala kekurangannya tertutup oleh cintaku.
Sering dikatakan bahwa dengan bersinergi maka 1 + 1 = >2
Masalahnya...bisakah kita bersinergi dengan pasangan kita? Bersinergi, 
bekerjasama antar 2 atau lebih manusia, pasti ada cocok dan tidak 
cocok......tinggal bagaimana kita bersatu dalam hal yg sesuai dan 
mencintai dalam hal yang berbeda.
Menikah bukan untuk sekedar berhura-hura dalam bercinta.......
Menikah bukan pula sekedar suka dan tidak suka
Menikah adalah tanggung jawab
Sudahkah kita memenuhi tanggung jawab itu
Atau sudah siapkah kita untuk meluapkan cinta yang berasal dariNya kepada 
pasangan kita?
Aku mencintai istriku seperti air lautan
Semua kelebihan istriku muncul ke permukaan menjadi pulau dan gunung
Dan semua kekurangan istriku tersimpan tidak terlihat dalam relung relung 
gelap lautan
Entahlah....semoga ada yg paham....hehehe....

----- Original Message ----
From: rosy eka iik <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, May 19, 2008 8:56:43 AM
Subject: [rezaervani] Re: [RENUNGAN] Kesempurnaan menikmati ditentukan 
oleh ketepatan berhenti menikmatinya

Urun pendapat, yaa......... ........
Kesempurnaan menikmati peran kita sebagai suami adalah ketika Allah telah 
memanggil salah satu diantara kita dan itu adalah saat yang paling tepat, 
karena yang menentukan adalah Dzat Yang Maha Tepat, Dzat Yang Maha Tahu 
kapan harus berhenti nafas seseorang. Sehingga kita dapat merenungi 
kembali masa-masa kebersamaan kita bersama istri tercinta, baik suka 
maupun duka, sedih ataupun senang, (bahkan ketika kita berdiam-diam/ 
marahan sekalipun) saat itu adalah saat-saat terindah bagi kita (ini tentu 
saja hanya dapat dirasakan oleh suami yang mencintai istrinya dengan baik 
dan istri yang mencintai suaminya dengan baik pula).
RasuluLLAH adalah profile suami yang mencintai istrinya dengan baik, 
sehingga ketika Beliau Saw. wafat semua istrinya merasa dirinyalah saja 
wanita yang sangat dicintai RasuluLLAH.
Allahu'alam


----- Original Message ----
From: Abah <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Sunday, May 18, 2008 8:38:26 PM
Subject: [rezaervani] Re: [RENUNGAN] Kesempurnaan menikmati ditentukan 
oleh ketepatan berhenti menikmatinya

Salam,
Untuk Syarif, saya sepenuhnya sepakat dengan gagasan umum kalimat itu. 
Kesempurnaan menikmati ditentukan oleh ketepatan berhenti menikmatinya.
untuk bahan renungan selanjutnya, maka izinkan saya bertanya, apakah ada 
tanda-tanda yang dapat dimaknai seseorang sebagai isyarat untuk berhenti 
menikmati sesuatu? 
Dalam konteks kegiatan apa saja kalimat itu menjadi relevan? misalnya saya 
sebagai seorang suami sekarang. Apakah saya harus berhenti pada saat yang 
tepat sebagai suami, jika ingin mencapai kesempurnaan menikmati..he. 
.he..? 
Apakah tujuan berhenti menikmati pada waktunya itu hanya agar kita 
memperoleh kenikmatan yang sempurna? 

Wassalam,

Dudung AR

Syarif Niskala <[EMAIL PROTECTED] agung.co. id> wrote:
Sahabat-sahabat milist yang  budiman,

Semoga email ini menjumpai sahabat dalam kesehatan yang prima, kebahagiaan 
yang merona dan rasa syukur yang dalam.

Di bawah adalah  sebuah sudut pandang singkat dan sederhana, yang semoga 
bermanfaat.

---------

Kesempurnaan menikmati  ditentukan oleh ketepatan berhenti menikmatinya
 
Dalam melukis lukisan  abstrak - membutuhkan kemampuan untuk mengenali 
kapan saat untuk berhenti (Mario  Teguh).
Bagaimana jadinya sebuah lukisan  abstrak jika kanvasnya tidak menyisakan 
ruang tanpa cat minyak.  Apakah  mudah dibedakan antara luksan anak yang 
sedang belajar membuat garis dengan  maestro abstrak, jika ruang lukisnya 
penuh dengan garis-garis tak  beraturan.  Jadi perbedaan corat-coret 
seorang anak dengan maestro Affandi,  hanya pada saat kapan terakhir 
mengangkat kuas dari kanvas.
 
Dalam menggaruk - harus  mengetahui kapan saat yang tepat untuk berhenti.
Menggaruk bagian yang gatal  adalah salah satu kenikmatan yang mudah dan 
memiliki sensasi kepuasan  tinggi.  Tapi akan segera menjadi bencana bagi 
kesehatan kulit jika kita  tidak berhenti saat lapisan kulit ari bagian 
terluar mulai terkelupas.  Dan  luka lecet akibat garukan, jarang sembuh 
dalam hitungan jam, melainkan hari  untuk meninggalkan noda.  Pula, segera 
setelah menggaruk yang melewati  batas waktunya, akan meninggalkan perih - 
bukan lagi  kenikmatan.
 
Berhenti makan tepat  sebelum kenyang (Muhammad Saw).
Pasti banyak rahasia dari  anjuran mulia untuk berhenti makan tepat 
sebelum kenyang.  Tetapi kita  semua yang sangat berpengalaman melewati 
batas tipis itu, seringkali diserang  penurunan fokus konsentrasi, 
kantuk, begah kekenyangan, gangguan  pencernaan, kegemukan, serangan 
jantung, kencing manis dan sederet disfungsional  tubuh akibat pola makan 
yang tidak adil bagi tubuh.  Kemudian banyak  pribadi yang dihukum atau 
menghukum diri dengan menolak atau dihindarkan  mengkonsumsi jenis makanan 
tertentu - bahkan ada pembatasan yang membuat dirinya  tersiksa.  Padahal 
kenikmatan makan adalah salah satu anugerah yang asasi  makhluk hidup.
 
Bangun tidur disepertiga  malam (Wahyu Illahi)
Tidak akan cukup lautan tinta  untuk menuliskan seluruh hikmah, walau 
hanya dari sepenggal wahyu.  Khabar  dari para penikmat sepertiga malam 
terakhir adalah kekuatan perkataan,  kejernihan pikiran, kebeningan hati, 
kesantunan berperilaku, sensitivitas  tinggi, kedamaian perasaan, rasa 
cinta paling tinggi, kebersahajaan sikap,  kebijakan yang luas dan lain 
sebagainya.  Bukan jumlah jam jaga dalam  sepertiganya yang paling 
menentukan, melainkan pilihan penggalannya yang  mengkondisikan.  Bukankah 
para kupu-kupu malam, telah menghabiskan setengah  malamnya untuk berjaga, 
hanya saja bagian penggalan di muka - yang kemudian  mengkondisikan 
kehidupan yang hina.  Entah apa kalimat rahasianya  pada alam ini; 
sepertiga malam awal untuk para pecinta dunia dan sepertiga  malam 
terakhir untuk para pecinta dunia-akhirat.  Sepertiga malam awal  untuk 
banyak aktivitas keburukan dan sepertiga malam terakhir untuk banyak 
aktivitas kebaikan.
 
Mengundurkan diri dari  kursi kepemimpinan
Salah satu kenikmatan yang  paling mempesona manusia, membanjirkan begitu 
banyak darah, meneteskan begitu  banyak air mata kepedihan, menyedot 
paling banyak angka berbilang biaya; adalah  kenikmatan berkuasa.  Kita 
telah banyak menyaksikan akhir yang tragis,  memilukan, menghinakan, dari 
para pemimpin yang melewati batas usia  kepemimpinannya.  Sejarah kita 
juga mencatat pribadi-pribadi emas yang  mengenali dan berhenti tepat dari 
kursi kekuasaan - baik atas rencana dirinya  atau rencana Yang Maha 
Merencanakan.  Para Nabi mulia selalu Dihentikan  pada saat 
kegemilangannya. Katanya Dr. Mahatir Mohammad mengundurkan diri pada titik 
terbaiknya.  Buya HAMKA berhenti menjabat saat yang tepat.  Bung  Hatta 
mengundurkan diri pada saat yang tepat.
Kualitas visioner seorang  pemimpin yang sebenarnya adalah mengetahui saat 
yang tepat meletakkan  jabatannya, bukan karena aturan ketat periodesasi.
 
Mohon agar kita tidak khawatir,  sebab jika kita - Anda dan saya,  tidak 
melihat dengan jelas kapan saat  yang tepat itu datang, kita bisa meminta 
bantuan dari Yang Maha Mengetahui,  bahkan untuk kepemimpinan di keluarga 
kita.  Mungkin istilah khusnul  khatimah - meninggal dalam kemuliaan, 
adalah istilah lain dari saat  pemberhentian yang tepat pada kehidupan 
ini.
 
Kesempurnaan menikmati ditentukan oleh ketepatan berhenti  menikmatinya.
 
---
 
Terima kasih  yang dalam atas kesediaan menerima sudut pandang di atas.
Selamat menikmati  jamuan akhir pekan yang penting dalam kehidupan  kita.

Wassalam

Syarif  Niskala
syarifniskala. wordpress. com

 




Kirim email ke