Untuk Pak GUn, Afwan, saya member milis ini yang pasif. Sangking banyaknya yang posting tulisan, curhat, cerpen, ampe bingung membacanya.
Kebetulan saya tinggal di Sapporo-Jepang utara. Tulisan bapak tidak salah, karena memang di Indonesia banyak sekali barang bekas yang diimport dari Jepang. Masyarakat Jepang sendiri sangat konsumtif dan pengennya barang baruuu melulu. Tapi dibalik itu, pemerintah Jepang melarang keras eksport barang ke LN, terutama asia. Tapi baru sekelas sepeda bekas yang terjaring karena kaum mudanya selalu memarkir sepeda di tempat yang bertuliskan dilarang parkir. Hanya satu hal yang patut dipelajari dari masyarakat Jepang. Yakni, usaha memelihara sebuah barang dengan baik, hingga sampai dari nenek hingga buyut pun masih bisa memakainya. Bukan hanya sekedar bisa memakai, tapi keliatan baik dan bagus, bahkan seperti masih baru. Mungkin poin inilah yang patut Bapak beri gambaran bahkan ajaran kepada murid-murid Bapak, generasi penerus kita. Bagaimana Pak? Hormat, Novi Mudhakir --- On Mon, 6/2/08, dwip92 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: dwip92 <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [rezaervani] Re: [CATHAR] Indonesia, Barang Bekas dan Musibah > To: [email protected] > Date: Monday, June 2, 2008, 6:08 PM > Aa Gun yang baik.. > Jangan terlalu mendiskreditkan bangsa sendiri.. > Apalagi di media umum seperti ini secara tertulis.. > > Kalaupun masih banyak kekurangan negeri ini.. > Mari kita lakukan sesuatu untuk mengubahnya.. > Lakukan sesuatu.. untuk tujuan yang besar.. > Mencapai indonesia emas..!! > > Sedikit informasi tentang kereta.. > Kebetulan saya adalah pengguna setia kereta listrik. > menurut saya, PT KAI saat ini sudah melakukan gebrakan yang > bagus. > Karcis akan dibuat elektronik, akan ada kereta dari stasiun > ke > bandara, semua kereta ekonomi diganti dengan ekonomi AC, > MRT akan > dibangun.. semuanya mengarah pada transportasi publik yang > layak. > Dipilih kereta bekas krn harganya jauuuuh lebih murah > dibanding > kereta buatan sendiri di Madiun, yang masih rentan masalah > listrik.. > kalau semua programnya berjalan dengan baik dan benar, > sistem > perkeretaapian kita sudah bisa disamakan dengan Malaysia.. > (mungkin > tinggal ditambah LCD di tiap stasiun untuk kasih info > posisi kereta) > > Sekarang, yang komplen tentang BBM naik aja masih banyak, > jadi tidak > usahlah bicara tentang barang baru.. :D > Yang kita perlu bukan barang baru, tapi barang yang > ekonomis.. > Fungsinya optimal dengan harga yang rendah.. > > Semoga nantinya akan diikuti dengan perbaikan di sarana > angkutan > umum lain.. Amien.. > kalau baca blue plannya kota Jakarta tentang transportasi, > bagus > kok..Mari berdoa semoga pelaksanaannya berjalan dengan baik > dan > benar.. > > wasalam > -dwip- > > --- In [email protected], aa gun > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > tulisan lama yang kayaknya ne belum publikasikan, > semoga belum > kadalu warsa > > > > Indonesia, Barang Bekas, dan Musibah > > By: Gunawan > > http://aagun2010.multiply.com > > > > Sebenarnya sebagai orang Indonesia aku sangat > mencintai Negara > ini, walau belum bangga sebagai orang Indonesia. Aku > bersyukur > kepada Allah SWT di lahirkan dan jadi orang Indonesia. Alam > > Indonesia (bukan katanya) sangat kaya hingga banyak > ungkapan yang > mengaguminya, tanahnya subur (ini bener lho) koes plus > pernah > bilang, tongkat dan kayu aja bisa jadi tanaman. Selain itu > orang- > orangnya (nah ini baru katanya) ramah-ramah, rakyatnya > (ini gossip > apa bukan ya) hidup berdampingan dengan damai, rakyatnya > (ini bohong > ga sih) hidup makmur dan sejahtera. Begitulah Negara ku > tercinta > Indonesia. > > > > Di balik rasa cinta, rasa bangga dan rasa syukur > diantara > realitas, isapan jempol dan data-data yang menipu, ada rasa > kecewa, > sedih mengapa? Akankah Indonesia masih ada di masa > mendatang? > (sebelom kiamat maksudnya). > > > > Barang Bekas > > Akhir-akhir ini saya mencoba berfikir mengenai dunia > > transportasi Indonesia, karena saya adalah pengguna > setianya. > Lihatlah kereta-rakyat yang murah meriah nampak seperti > seonggok > besi tua yang sedang berjalan. Ketika naik kereta, aku > sempat > membaca berita kalo kereta-kereta bekas untuk rute > jabotabek dari > Jepang akan masuk ke Indonesia. Ketika aku naik bus, kok ga > ada yang > bagusnya, aku ini sebenarnya sedang naik barang rongsokan, > tapi…apa > mau dikata, kita butuh, tapi harus seperti inikah jadi > rakyat > Indonesia? Selain itu banyak juga di jalan kulihat juga > bus-bus yang > bertuliskan entah huruf Jepang atau china, atau mungkin > Taiwan dan > itu memang bus-bus bekas dari luar negeri (inga..inga.. > luar negeri > lho, hebatkan?, pokoknya yang berbau luar negeri itu hebat, > > contohnya Vietnam, pasukan sepak bola kita dibuat tak > berkutik, he… > he…hee…, jadi malu. > > > > Bukan hanya kereta dan bus umum, kapal laut, pesawat > udara, > pesawat tempur, kendaraan militer dll, hampir semua adalah > barang > bekas, bekas dari luar negeri, ingat sekali lagi, katanya > luar > negeri itu hebat, walaupun bekas tetep luar negeri. Yah > diri ini > memang hanya bisa sedih, dan cuma bisa bilang sama > murid-murid di > sekolah, "di tangan kalian kelak akan ada perubahan, > itupun kalau > kamu mau dan punya rasa malu terhadap Negara ini yang telah > cukup > lama menjadi Negara penampung barang bekas". > > > > Sumbangan Bencana Akibat Barang Bekas > > Musibah transportasi beruntun melanda negeri ini, > apa sebabnya? > Pemerintah kita ini pemerintah yang reaksioner, ada musibah > ada > investigasi, ada bencana ribut dan ada musibah ada > tindakan, musibah > melanda saling menyalahkan. Realitas menunjukan kepada kita > kalau > pemerintah ga punya daya lindung atau proteksi terhadap > rakyatnya, "mengobati lebih baik dari mencegah begitu > mungkin > slogannya", karena Negara kita kaya semua bisa di > beli. > > > > Tapi lihatlah kenyataan akibat barang bekas, kapal > bekas > kelebihan muatan (karena kejar setoran, keuntungan, pungli > sana- > pungli sini), pesawat udara bekas dan rusak berkeliaran > diangkasa, > kereta api bekas sesak penumpang, tetapi selalu merugi > (aneh?), bus > bekas penuh sesak(karena nasibnya sama dengan kapal bekas > tadi), > akhirnya bencana/musibahpun mengintai, dan kini semua jadi > kenyataan, musibah datang bagai air turun dari tempat yang > lebih > tinggi, siapa yang menderita? ya rakyat, terutama rakyat > kecil, kalo > rakyat besar bisa bisa bayar mahal dapat yang lebih bagus > dan > fasilitasnya oke, ada banjir bisa nginap di hotel, atau > keluara > negeri, dapat tunjangan besar dan minta laptop lagi (para > anggota > yang terhina), waduh ternyata mereka masih miskin, kurang > puas, > rakus, akhirnya rakyat jadi kurus, kekurangan pangan, > kekurangan > gizi, minum obat palsu, antri beras, antre minyak tanah, > antree > sumbangan, makanan mengandung zat kimia yang membahayakan > di masa > mendatang, bukankah > > semua itu juga musibah? siapa penyebabnya, Tuhan? > apa iya? Atau > karena semua otak orang yang ingin jadi pemimpin dan yang > sudah > memimpin akal sehatnya sudah pada tumpul akibat makan uang > haram, > obat palsu, zat kimia berbahaya? Mungkin saja, wallaahu > a'lam > >
