Memang benar klu Allah pernah bicara langsung dgn Nabi Musa, seperti yg 
disebutkan di Al-Quran, tp klu Allah bilng ke Nabi Musa sprt disebutkan  dlm 
crita dibawah ini (Cinta Sebagai Agama), apakah ada sumbernya..? Mohon 
klarifikasi dr Mas Ahmadi.

Tiba-tiba Allah Yang Mahakuasa menegurnya, "Mengapa engkau berdiri
di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta
dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau dapat
menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya."
Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut.
Tuhan berfirman, "Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan
daripadanya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri.
Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau
pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari
ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah
bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memperhatikan
keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan adalah lubuk
hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui
ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah.
Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai
makna."
Suara dari langit selanjutnya
berkata, "Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat
dengan cinta. Dan umat yang beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena
cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri." Tuhan kemudian
mengajarkan Musa as rahasia cinta.

Muslim.


Cerita yg bagus sekali, akan tetapi klu ga salah Rasulullah pernah bersabda: 
klu seumpama ada orng yg mengatakan suatu hadis
berasal dr Rasulullah, akan tetapi Rasulullah tidak pernah berkata
seperti itu, maka itu termasuk dosa.

Yang saya tanyakan ke Mas
Ahmadi, apakah cerita dibawah ini yg anda ambil dr bukunya Jalaluddin
Rakhmat yg disitu disebutkan klu Allah berbicara kepada Nabi Musa,
apakah ada hadis yg valid...? Masalahnya, apabila Rasulullah sj bilang
klu seumpama ada orng yg mengatakan suatu hadis berasal dr Rasulullah,
akan tetapi Rasulullah tidak pernah berkata seperti itu, itu adalah
sebuah dosa, apalagi di dlm cerita dibawah ini yg berkata bulan lagi
Rasullah, tp Allah...

Mungkin ada baiknya kita berhati2 dlm mengutip sesuatu.

Maaf apabila ada salah kata dan apabila sy yg salah, mngkn ada Pak Ustadz di
milis ini yg bs memberikan pencerahan...soalnya sy lihat hal ini selalu
berulang dan berulang lg terus menerus.

Muslim.




----- Original Message ----
From: ahmadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: riri <[EMAIL PROTECTED]>; SYifa <[EMAIL PROTECTED]>; daarut-tauhiid 
Moderator <[EMAIL PROTECTED]>; fatma <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: [email protected]; fitroh <[EMAIL PROTECTED]>; lia <[EMAIL 
PROTECTED]>; ASEP <[EMAIL PROTECTED]>; Eddy <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, June 5, 2008 8:17:49 PM
Subject: [rezaervani] [ARTIKEL] Cinta Sebagai Agama



Cinta Sebagai Agama

Pada zaman dahulu, hidup
seorang gembala yang bersemangat bebas. Ia tidak punya uang dan tidak punya
keinginan untuk memilikinya. Yang ia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh
keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari ia
menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya
kepada Tuhan yang dicintainya, "Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau,
supaya aku dapat persembahkan seluruh hidupku pada-Mu? Di manakah Engkau, supaya
aku dapat menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan
bernafas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku ingin mengorbankan domba-Ku ke hadapan
kemuliaan-Mu. "
Suatu hari, Nabi Musa as
melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanannya menuju kota. Ia
memperhatikan sang gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala
yang mendongak ke langit.. Sang gembala menyapa Tuhan, "Ah, di manakah Engkau,
supaya aku dapat menjahit baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, dan mempersiapkan
ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menyisir rambut-Mu dan mencium
kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkan sepatu-Mu dan
membawakan air susu untuk minuman-Mu?"
Musa mendekati gembala itu dan
bertanya, "Dengan siapa kamu berbicara?" Gembala menjawab, "Dengan Dia yang
telah menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan
malam, bumi dan langit." Musa as murka mendengar jawaban gembala itu, "Betapa
beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah
kekafiran. Kamu harus menyumbat mulutmu dengan kapas supaya kamu dapat
mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak menjadi
marah dan tersinggung dengan kata-katamu yang telah meracuni seluruh angkasa
ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan
menghukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu! "
Sang gembala segera bangkit
setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Ia
bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia
mendengarkan Musa as yang terus berkata, "Apakah Tuhan adalah seorang manusia
biasa, sehingga Ia harus memakai sepatu dan alas kaki? Apakah Tuhan seorang anak
kecil, yang memerlukan susu supaya Ia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan
Mahasempurna di dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapa pun. Dengan
berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja
telah merendahkan dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau
tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau
masih memiliki otak yang sehat!"
Gembala yang sederhana itu
tidak mengerti bahwa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang
kasar. Dia juga tak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai
seorang musuh tapi ia tahu betul bahwa seorang Nabi pastilah lebih mengetahui
dari siapa pun. Ia hampir tak dapat menahan tangisannya. Ia berkata kepada Musa,
"Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak ini aku berjanji akan menutup
mulutku untuk selamanya." Dengan keluhan yang panjang, ia berangkat meninggalkan
ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaan bahagia karena
telah meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa as melanjutkan perjalanannya
menuju kota. Tiba-tiba Allah Yang Mahakuasa menegurnya, "Mengapa engkau berdiri
di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta
dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau dapat
menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya."
Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut.
Tuhan berfirman, "Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan
daripadanya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri.
Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau
pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari
ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah
bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memperhatikan
keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan adalah lubuk
hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui
ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah.
Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai
makna."
Suara dari langit selanjutnya
berkata, "Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat
dengan cinta. Dan umat yang beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena
cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri." Tuhan kemudian
mengajarkan Musa as rahasia cinta.
Setelah Musa as memperoleh
pelajaran itu, ia mengerti kesalahannya. Sang Nabi pun merasa menderita
penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, ia berlari mencari gembala itu untuk
meminta maaf. Berhari-hari Musa as berkelana di padang rumput dan gurun pasir,
menanyakan orang-orang apakah mereka mengetahui gembala yang dicarinya. Setiap
orang yang ditanyainya menunjuk arah yang berbeda. Hampir-hampir Musa kehilangan
harapan tetapi akhirnya Musa as berjumpa dengan gembala itu. Ia tengah duduk di
dekat mata air. Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut masai. Ia berada di
tengah tafakur yang dalam sehingga ia tidak memperhatikan Musa yang telah
menunggunya cukup lama.
Akhirnya, gembala itu
mengangkat kepalanya dan melihat kepada sang Nabi. Musa as berkata, "Aku punya
pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku, bahwa tidak diperlukan
kata-kata yang indah bila kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara
kepada-Nya dengan cara apa pun yang kamu sukai, dengan kata-kata apa pun yang
kamu pilih. Karena apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah
ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia." Sang gembala
hanya menjawab sederhana, "Aku sudah melewati tahap kata-kata dan kalimat.
Hatiku sekarang dipenuhi dengan kehadiran-Nya. Aku tak dapat menjelaskan
keadaanku padamu dan kata-kata pun tak dapat melukiskan pengalaman ruhani yang
ada dalam hatiku." Kemudian ia bangkit dan meninggalkan Musa as.
Nabi Musa as menatap gembala
itu sampai ia tak kelihatan lagi. Setelah itu Musa as kembali berjalan ke kota
terdekat, merenungkan pelajaran berharga yang didapatnya dari seorang gembala
sederhana yang tidak berpendidikan.
Cerita di atas melukiskan
kepada kita bahwa ada sekelompok orang yang mengambil cinta sebagai agamanya.
Kalau seseorang telah meledakkan kecintaannya kepada Tuhan, dia tidak lagi dapat
menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan seluruh kecintaannya kepada
Allah SWT. Di dalam cinta, kata-kata menjadi tidak punya makna.
Dari kisah ini juga kita
belajar bahwa untuk dapat mendekati Allah swt, tidak diperlukan kecerdasan yang
tinggi atau ilmu yang sangat mendalam. Salah satu cara utama untuk mendekati
Tuhan adalah hati yang bersih dan tulus. Tidak jarang pengetahuan kita tentang
syariat membutakan kita dari Tuhan. Tidak jarang ilmu menjadi hijab yang
menghalangi kita dengan Allah SWT.
Kita akhiri kisah ini dengan
sabda Nabi SAW, "Innallâha lâ yanzhuru illâ shuwarikum walakinallâha yanzhuru
illâ qulûbikum. Ketahuilah, sesungguhnya Tuhan tidak memperhatikan
bentuk-bentuk luar kamu. Yang Tuhan perhatikan adalah hati
kamu."
Diambil dari buku "The Road
to Allah" karya Jalaluddin Rakhmat


let's make a harmony
for a better
future....
&
give peace a
chance


      

Kirim email ke