Menuliskan Ideologi oleh : Reza Ervani Kenapa buku Ma'alim fii Thariq sempat dilarang beredar ? Atau kenapa Pramoedya Ananta Toer pernah dianggap sebagai orang berbahaya dizaman Orde Baru ? Kenapa catatan pinggir Goenawan Muhammad mampu membuat orang menjadi berpandangan liberal ? Atau kenapa tulisan-tulisan Harun Yahya - yang nota bene bukan seorang saintis - seputar teori darwin, membuatnya harus singgah di balik jeruji ?
Bahkan buku fiksi semacam Harry Potter & Da Vinci Code juga mampu menggelisahkan gereja. Tidak lain, karena ada ramuan ideologi yang berhasil dilarutkan oleh penulis di dalam untaian kata-katanya. Dulu penulis pernah berdebat dengan seorang rekan, yang juga penulis, tentang apakah sastra harus merupakan sesuatu yang rumit. Coba lihat novel-novel Pramoedya. Hampir semuanya mengalir seolah tidak ada apa-apanya. Penulis bahkan harus membaca "Larasati"-nya tiga kali untuk bisa menemukan "yang tersembunyi" dibalik alur cerita yang begitu "merakyat". Ternyata ada efek yang jauh lebih rumit yang mampu dihasilkan sebuah karya seperti itu daripada karya sastranya sendiri. Kekuatan itupun tampak pada beberapa penulis kontemporer, semisal pada beberapa karya Ayu Utami. Puisi, cerpen, novel menjadi sulit ditulis karena ia adalah "lahan" paling halus untuk menyampaikan pandangan seorang penulis. Novelis-novelis besar semacam Sidney Sheldon, misalnya, mampu menggerakkan orang untuk beropini tentang betapa tidak adilnya sistem perekonomian China lewat "The Earth"-nya. Buya Hamka, pujangga ulama atau ulama pujangga idola penulis itu, bahkan harus menyusun sebuah buku sejarah "Tuanku Rao, antara Fakta & Khayal" untuk meluruskan salah paham dan mitos seputar Tuanku Rao di tanah melayu. Itulah mungkin salah satu alasan betapa Kitab Suci Al Quran menjadi kuat. Karena di dalamnya banyak sekali kisah (qashshash) yang mampu menyampaikan nilai-nilai Islam tanpa menggurui. Hal inipun ditegaskan dalam Al Quran, seperti dalam ayat terakhir surah Yusuf, yang menurut beberapa ulama merupakan surah dengan alur cerita paling lengkap : "Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Al Quran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Al Quran Al Karim Surah Yusuf ayat 111) Menuliskan ideologi, sesungguhnya menjadi tantangan penulis muslim untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang inklusif dengan cara yang baik (mauizhoh hasanah). Sebagai catatan akhir, proses peramuan ideologi di sebuah karya adalah sebuah proses sadar yang dilakukan oleh sang penulis. Karenanya penulis yang matang ternyata juga memiliki kematangan dalam "fikroh"nya. Dan tentu proses pematangan itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, diantaranya melalui proses membaca, mengamati dan kontemplasi. Mampukah kita ? Insya Allah MAMPU !!! Laa haula wa laa quwwata ila billah. Bandung, 2 Jumadil Akhir 1429 H (Ditulis dan dikirim dengan communicator 9500 hadiah dari ibu)
