Mas Didi,
saya cukup imprressed membaca tulisan anda.
suka atau tidak suka, inilah memang realita yang terjadi di masyarakat kita.
begitu banyak atau bahkan sudah terlalu banyak sekolah sekolah yang berdiri
hanya dengan berbekal keinginan: agar di wilayah itu ada sekolah.
lebih dari itu? jangan dipikirkan.
walhasil, sekolah2 itu tumbuh tanpa kendali dan hanya berpikir keuntungan 
semata.
kasihan, lagi2 yang menjadi korban adalah rakyat kita.�  pendidikan yang 
seharusnya menjaid haq
setiap insan, kini dikebiri dengan alasan dana dan sdm.
padahal, hanya dengan berbekal semangat untuk mengentaskan kebodohan, lihat 
saja di daerah mas Didi tsb.
para kader POsyandu telah mampu meng-upgrade diri mereka menjadi seorang guru 
(yang melebihi para
guru itu sendiri)
kita berharap kita semua bisa bertindak, ketika� institusi pendidikan telah 
berubah menjadi
institusi bisnis, akan ada banyak lagi� 'kader kader pos yandu' lainnya yang 
punya idealisme
dan semangat yang menyala, untuk bisa sedikit memberi haq kepada mereka yg 
miskin.
kalau tidak dengan kerja nyata, bukankah wacana sudah terlalu cukup?
salam,
ika rais�


----- Pesan Asli ----
Dari: Didi Mardiyanto SP.MM <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sabtu, 14 Juni, 2008 15:30:24
Topik: [rezaervani] [CATHAR] Ibu Guruku Tukang Timbang Bayi


Ibu Guruku Tukang Timbang Bayi …
Oleh Didi Mardiyanto
�
�
Assalamu'alaikum Wr.Wb
�
Perumahan Taman Griya Kencana atau biasa disebut TGK, adalah salah satu 
perumahan yang ada di Kota Bogor .�  Walaupun secara administratif masuk ke 
wilayah kota bogor , namun lokasinya relatif cukup jauh dari ibukota Bogor .�  
Seperti kebanyakan perumahan yang baru tumbuh, warga perumahan�  TGK sebagian 
besar adalah keluarga muda yang memiliki 1 atau 2 anak yang masih berada 
dikisaran antara 0 hingga 12 tahun.�
�
Secara strata sosial, sebagian besar warga memang bekerja sebagai karyawan 
swasta, namun kebanyakan berada pada level yang tidak terlalu tinggi di 
perusahaannya.�  Ibu-ibunya sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang 
kesehariannya adalah mengurus rumah dan anak balita mereka.
�
Kelembagaan Sosial di TGK tumbuh dengan baik.�  Salah satunya adalah Lembaga 
Posyandu yang dalam kegiatannya diawaki oleh ibu-ibu yang bekerja sebagai 
relawan yang menyandang gelar sebagai Kader Posyandu.�  Radio Komunitas Suara 
Kencana juga hadir, menyemarakkan TGK dengan beragam program penyiaran dan 
Program Off air yang secara berkala diadakan.
�
Pemikiran tentang perlunya dilahirkan satu lembaga baru, perlahan hadir ketika 
para Kader Posyandu mengisi slot siaran Kreasi Anak Griya di Radio Komunitas 
Suara Kencana.�  Para Kader Posyandu yang menjadi Host dalam acara Kreasi Anak 
Griya, agak tergagap-gagap ketika menyadari bahwa di TGK banyak anak yang sudah 
masuk usia TK tetapi tidak bisa ikut sekolah TK karena orang tua mereka 
menyatakan tidak mampu menyekolahkan anak mereka di sekolah TK.�  “ Biar aja … 
nanti langsung masuk SD “ ujar mereka ketika ditanya kenapa tidak disekolahkan 
ke sekolah TK.
�
Para Kader Posyandu yang kegiatannya berbasis kepada kesehatan anak balita, 
merenung dan berpikir bahwa akan timpang ketika asupan gizi dan pemantauan 
kesehatan yang mereka lakukan terhadap balita TGK, ternyata tidak diimbangi 
dengan asupan pendidikan sejak usia dini.
�
Renungan tersebut akhirnya berbuah aksi nyata …. Membentuk Pos PAUD yang 
diberinama�  PAUD Karang Balita yang dalam pengelolaannya berbasis sukarelawan 
dengan mengusung jargon “ Sekolah Murah Tapi Tidak Murahan “
�
Tanggapan warga … luar biasa …�  pada kegiatan pengajaran pertamanya tercatat 
sebanyak 80 anak yang dititipkan oleh warga untuk belajar di PAUD Karang 
Balita.�  Antusiasme warga tentunya harus dijawab dengan melakukan perencanaan 
kegiatan dengan mengadopsi seluruh kurikulum yang harus diberikan kepada anak 
yang berada di jenjang sekolah taman kanak-kanak.
�
Para Kader Posyandu yang berperan ganda menjadi Guru, harus secara kilat 
mengupgrade diri mereka untuk dapat menjalankan peran sebagai pendidik.�  
Upgrade kemampuan yang dilakukan oleh para kader Posyandu tersebut untuk 
pertama kalinya adalah sangat sederhana, yaitu mengupgrade diri agar menjadi 
lebih sabar menghadapi anak-anak dan lebih banyak lagi menghapal lagu-lagu yang 
bernuansa taman kanak-kanak.� �  Koordinator PAUD bergerak cepat dengan 
mengekplorasi beragam permainan anak yang sering dimainkan di Taman 
Kanak-kanak.�
�
Kehadirannya yang pada saat baru menjadi wacana, banyak diremehkan oleh Lembaga 
Taman Kanak-kanak yang terlebih dahulu hadir, berbalik menjadi kekhawatiran 
bahwa PAUD Karang Balita akan mencaplok lahan bisnis mereka.�  Bagaimana tidak 
…. Ketika Lembaga Taman Kanak-kanak yang ada di TGK rata-rata hanya memiliki 30 
anak didik, PAUD Karang Balita langsung menggebrak dengan 80 anak didik.
�
Tanggal 10 September 2006, PAUD Karang Balita diresmikan oleh Kepala Kelurahan 
Kencana berbarengan dengan Peresmian Perpustakaan Suara Kencana oleh Kepala 
UPTD Perpustakaan Daerah Kota Bogor, yang pendiriannya diinisiasi oleh Radio 
Komunitas Suara Kencana, melaluai suatu rangkaian kegiatan akbar yang bertajuk 
Gebyar Hari Aksara.
�
Semangat para Guru PAUD Karang Balita terus menggelora ketika berhasil 
mendapatkan Surat Keputusan dari Kepada Dinas Pendidikan Kota Bogor nomor No. 
425/13.DISDIK/ 2007�  Tanggal 22 Januari 2007 sebagai Lembaga Pendidikan Anak 
Usia Dini yang beroperasi secara resmi.�  Gelora Semangat memang pantas 
berkobar, karena terbitnya SK tersebut menjadikan PAUD Karang Balita sebagai 
satu-satunya Penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini yang memiliki izin resmi 
di lingkungan TGK.
�
Keinginan dari orang tua anak didik agar fasilitas belajar ditingkatkan, 
disambut dengan kesediaan salah seorang warga yang bersedia halaman rumahnya 
digunakan sebagai tempat belajar bagi siswa-siswi PAUD Karang Balita.� �  Pada 
perkembanganya, PAUD Karang Balita kini memiliki Gedung Sendiri yang berukuran 
45 M2 dengan luas lahan bermain lebih dari 300 M2 yang pembangunannya disupport 
oleh salah satu instansi pemerintah dan mendapatkan kucuran dana lebih dari 25 
juta rupiah untuk pengadaan peralatan ajar dan alat peraga pendidikan dari 
Dinas Pendidikan Jawa Barat.
�
Satu Bulan sekali, kegiatan PAUD Karang Balita harus diliburkan, karena 
berbarengan dengan kegiatan Posyandu.�  Pada saat kegiatan Posyandu, para Guru 
beralih tugas menjalankan peran masing-masing dalam pengelolaan Posyandu.�  Dua 
Fungsi yang berbeda yang dilakukan oleh orang yang sama, kadang mendapatkan 
komentar yang menggelitik dari siswa-siswi PAUD Karang Balita …. Ibu Guruku 
Tukang Timbang Bayi ….� �  Wassalamu'alaikum Wr.Wb
�
�
�
�
�


      Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang 
juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/

Kirim email ke