Senin 09 Juni 2008
pkl: 00.45

Saya
dan Endah terbangun dari tidur, ketika tiba-tiba terdengar suara aneh
yang menderu seperti badai di atas atap rumah. Reflek  saya memberi
isyarat padanya untuk segera 'mengamankan' Alief. Gemuruh yang lebih
menyerupai  suara yang ditimbulkan gempa. Kami memastikannya dengan
memasang indera lebih tajam. Tanda-tanda gempa atau getaran yang
biasanya menggoyangkan benda-benda tidak terdeteksi. Gemuruh aneh itu
terdengar menjauh, lalu hilang. Meski adrenalin masih berpacu dengan
asma-Nya. Asumsi berubah: Entah. Kami berusaha lelap. Pagi-pagi sekali
saya harus berkejaran dengan hari senin: Jakarta, kota yang menahan
kami untuk berjauhan sementara.

Rabu, 11 Juni 2008
pkl: 20.00 wib.

Saya
menerima sms dari Endah, dia mengabarkan kalau Alief rewel terus sejak
tadi sore katanya. Saya hanya bisa menenangkannya, saya bilang mungkin
Alief kangen sama abinya. 


pkl: 01.15 wib

Saya
terbangun oleh suara sms di HP. Saya buka, "Bi, ada yang ganggu lagi,
suara gemuruh di atap, dan suara...... Bun juga mencium bau....".
Astaghfirullahaladzim. Hilang sudah kantuk saya. Bangun dan menelpon
Endah. Mengalirlah cerita, mulanya sama seperti yang pernah saya dengar
pada hari Senin yang lalu, kemudian muncul suara "kukukukukukuk.."
Seperti tawa, (atau lebih seperti burung?). Apapun, timbul was-was
dalam hati saya. Tak ada yang bisa saya lakukan selalin menenangkannya.
Untungnya, saat itu Endah ditemani  Ibu dan Kakak perempuan saya.
Beberapa saat berselang, saya ikut berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa
dengan mereka. Sms kedua datang, masih dari Endah. Isinya masih hal
serupa, dia mengabarkan bahwa suara-suara aneh itu kembali datang.
Bahkan kali ini dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi dari luar
(pintu kamar mandi terletak tepat di sebelah kamar kami, dan memiliki
pintu alumunium yang memiliki akses ke halaman belakang rumah). 

Kesimpulan
yang saya dapatkan adalah, bahwa suasana saat itu sudah mencekam. Dan
lagi-lagi hanya doa yang bisa saya panjatkan. Ya Robb, lindungi
keluarga saya dari kejahatan malam.

Kamis, 12 Juni 2008 

Siang
itu saya merasa sangat tidak tenang di kantor. Pikiran saya terus
tertuju ke rumah. Endah kembali sms tentang kondisi yang 'mencekam' di
sana. Ibu saya selalu mengulang-ulang kejadian tadi malam. Dan itu
berdampak pada psikologis dan terpengaruhnya Endah dengan kondisi yang
ada. Sulit untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Terdengar
isaknya di seberang. 

Saya
memutuskan untuk segera pulang ke Bogor sore itu. Dan besoknya berarti
saya harus bolos kerja. Mudah-mudahan mendapat pemakluman dari kantor.
Alhamdulillah, saya sampai di Bogor sekitar pkl 09.00 wib. Ada lega
dalam benak Endah, Ibu, dan Kakak saya. Mungkin juga Alief merasakan
hal yang sama.

Meluncurlah
cerita dari mereka, banyak versi. Endah lebih banyak diam. Sebenarnya
sulit untuk percaya, namun aura mistis malam itu membuat saya waspada. 


pkl: 23.30 wib

Semuanya
sudah lelap. Mereka merasa aman setelah malam sebelumnya nyaris tidak
tidur. Saya masih terjaga, setiap suara yang terdengar janggal, saya
curigai. War is begin. Suara
itu muncul lagi, saya mendengarnya, jauh.. mendekat. Jantung saya sudah
berdetak cepat. Kuping saya waspada, seumpama kelinci saat predator
mendekat. Mata saya tajam, seumpama elang yang siap mencengkram mangsa.
Rambut halus di tubuh saya berdiri, (seumpama pengecut) serempak.
Respon alami pada sebuah kondisi mencekam. 

Gempraaang!! Sebuah
hentakan seakan menimpa atap seng dapur. Persiapan saya tidak percuma,
rasa penasaran dan kesal pada sumber suara itu mengalahkan takut dalam
diri saya. Saya berdiri dan mendatangi sumber suara. Membuka dan
memukul kaca pintu dengan telapak tangan, menyaingi suara aneh tadi.
Saya ambil parang yang ada di samping pintu, amarah saya pada mahluk
tak jelas tadi memuncak, makian saya lontarkan --sambil terus berdoa
meminta perlindunganNya-- di malam gelap. Hanya pekat yang menanggapi.
Beberapa pemuda yang mendengar teriakan saya sempat datang, dan terjadi
sedikit press converence.

Malam
yang terasa panjang itupun berakhir pagi. Subuh menjadi penawar
gelisah. Malam yang tidak biasa itu menjadi pembicaraan kami. Saya,
Endah, Ibu, Kakak, dan orang-orang sekitar. Asumsipun beraneka ragam.
Malam berikutnya kami bisa terlelap. Alhamdulillah.


Sabtu, 14 Juni 2008
pkl: 23.45 wib

Saya
dan Endah masih terjaga dan berbincang tentang banyak hal. Alief bab,
dan baru selesai dibersihkan. Malam hening, angin pedesaan bertiup
pelan di luar sana, saya mendengar suara itu lagi. Masih jauh, sengaja
tidak saya sampaikan pada Endah. Suara itu makin dekat, Endahpun
mendengarnya, saya katakan padanya untuk tenang, doa sudah berbaur
dengan adrenalin. kukukukukukuuk..! nya semakin jelas dan serasa
melintas di atas atap kamar kami. Saya waspada, Endah memeluk Alief.
Dan tiba-tiba saja, pintu kamar mandi kembali digedor dari luar,
berbarengan dengan suar tersebut. Saya melompat menghampiri, apapun
itu, akan saya hadapi. Lahaulawalaquwwata illa billah...

Brag!!
Saya pukul pintu dan membukanya, hanya gelap malam di hadapan saya,
tidak ada tanda-tanda bahwa sesaat tadi ada sesuatu di sana. 

Katakanlah: 
Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (1). 
Dari kejahatan makhluk-Nya (2). 
Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita (3). 
Dan
dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada
buhul-buhul (4). Dan dari kejahatan pendengki apabila ia mendengki (5).

(QS Al-Falaq: 1-5)


Dani Ardiansyah
    HP : 085694771764
 http://edumuslim.org
http://catatankecil.multiply.com
 http://hamasahputri.multiply.com  



      

Kirim email ke