Terlepas dari menyerahkan semuanya kepada Allah, saya yakin ini ada 
penjelasan ilmiahnya..
Bisa jadi itu memang binatang.. atau orang yang punya maksut jahat..

Mungkin pak Dani bisa pasang kamera CCTV di genteng dan di depan 
pintu kamar mandi untuk mengetahui ada apa sebenarnya di atap sana..
jangan lupa ditambahkan lampu supaya bisa terekam dengan jelas..
Atau minta bantuan petugas siskamling untuk monitor rumah Pak Dani 
di jam 11.30 - 12.30

Semoga kita semua dijauhkan dari tangan-tangan jahat..
Amien

wasalam
-dwip-


--- In [email protected], eli nurfajriah <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> wow,,,
> bang dani,,, dari cerita anda saja,,, saya (sedikit) merasakan 
suasana mencekam tersebut,,,
> hm,,,apalagi kalau berhadapan langsung ya????
> subhanallah,,,,
> semoga bang Dani dan keluarga dijauhkan dari hal-hal yang membuat 
tidak tenang
> semoga bang Dani dan keluarga diberi ketenangan untuk dapat 
melewati setiap malamnya...
> semoga bang Dani dan keluarga selalu berada dalam Lindungan, dan 
Rahmat Allah SWT
> aamiiiiin
> 
> -e,,,3Li,,,-
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Dani Ardiansyah <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; FLP PUSAT 
<[EMAIL PROTECTED]>; Penulis Lepas 
<[EMAIL PROTECTED]>; Reza Ervani 
<[email protected]>; Pembaca Asma Nadia 
<[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, June 16, 2008 2:02:12 PM
> Subject: [rezaervani] [CATHAR] Suara Aneh di Atap Rumah
> 
> 
> Senin 09 Juni 2008
> pkl: 00.45
> 
> Saya
> dan Endah terbangun dari tidur, ketika tiba-tiba terdengar suara 
aneh
> yang menderu seperti badai di atas atap rumah. Reflek  saya memberi
> isyarat padanya untuk segera 'mengamankan' Alief. Gemuruh yang 
lebih
> menyerupai  suara yang ditimbulkan gempa. Kami memastikannya dengan
> memasang indera lebih tajam. Tanda-tanda gempa atau getaran yang
> biasanya menggoyangkan benda-benda tidak terdeteksi. Gemuruh aneh 
itu
> terdengar menjauh, lalu hilang. Meski adrenalin masih berpacu 
dengan
> asma-Nya. Asumsi berubah: Entah. Kami berusaha lelap. Pagi-pagi 
sekali
> saya harus berkejaran dengan hari senin: Jakarta, kota yang menahan
> kami untuk berjauhan sementara.
> 
> Rabu, 11 Juni 2008
> pkl: 20.00 wib.
> 
> Saya
> menerima sms dari Endah, dia mengabarkan kalau Alief rewel terus 
sejak
> tadi sore katanya. Saya hanya bisa menenangkannya, saya bilang 
mungkin
> Alief kangen sama abinya. 
> 
> 
> pkl: 01.15 wib
> 
> Saya
> terbangun oleh suara sms di HP. Saya buka, "Bi, ada yang ganggu 
lagi,
> suara gemuruh di atap, dan suara...... Bun juga mencium bau....".
> Astaghfirullahaladz im. Hilang sudah kantuk saya. Bangun dan 
menelpon
> Endah. Mengalirlah cerita, mulanya sama seperti yang pernah saya 
dengar
> pada hari Senin yang lalu, kemudian muncul suara "kukukukukukuk. ."
> Seperti tawa, (atau lebih seperti burung?). Apapun, timbul was-was
> dalam hati saya. Tak ada yang bisa saya lakukan selalin 
menenangkannya.
> Untungnya, saat itu Endah ditemani  Ibu dan Kakak perempuan saya.
> Beberapa saat berselang, saya ikut berdoa, semoga tidak terjadi 
apa-apa
> dengan mereka. Sms kedua datang, masih dari Endah. Isinya masih hal
> serupa, dia mengabarkan bahwa suara-suara aneh itu kembali datang.
> Bahkan kali ini dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi dari luar
> (pintu kamar mandi terletak tepat di sebelah kamar kami, dan 
memiliki
> pintu alumunium yang memiliki akses ke halaman belakang rumah). 
> 
> Kesimpulan
> yang saya dapatkan adalah, bahwa suasana saat itu sudah mencekam. 
Dan
> lagi-lagi hanya doa yang bisa saya panjatkan. Ya Robb, lindungi
> keluarga saya dari kejahatan malam.
> 
> Kamis, 12 Juni 2008 
> 
> Siang
> itu saya merasa sangat tidak tenang di kantor. Pikiran saya terus
> tertuju ke rumah. Endah kembali sms tentang kondisi 
yang 'mencekam' di
> sana. Ibu saya selalu mengulang-ulang kejadian tadi malam. Dan itu
> berdampak pada psikologis dan terpengaruhnya Endah dengan kondisi 
yang
> ada. Sulit untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. 
Terdengar
> isaknya di seberang. 
> 
> Saya
> memutuskan untuk segera pulang ke Bogor sore itu. Dan besoknya 
berarti
> saya harus bolos kerja. Mudah-mudahan mendapat pemakluman dari 
kantor.
> Alhamdulillah, saya sampai di Bogor sekitar pkl 09.00 wib. Ada lega
> dalam benak Endah, Ibu, dan Kakak saya. Mungkin juga Alief 
merasakan
> hal yang sama.
> 
> Meluncurlah
> cerita dari mereka, banyak versi. Endah lebih banyak diam. 
Sebenarnya
> sulit untuk percaya, namun aura mistis malam itu membuat saya 
waspada. 
> 
> 
> pkl: 23.30 wib
> 
> Semuanya
> sudah lelap. Mereka merasa aman setelah malam sebelumnya nyaris 
tidak
> tidur. Saya masih terjaga, setiap suara yang terdengar janggal, 
saya
> curigai. War is begin. Suara
> itu muncul lagi, saya mendengarnya, jauh.. mendekat. Jantung saya 
sudah
> berdetak cepat. Kuping saya waspada, seumpama kelinci saat predator
> mendekat. Mata saya tajam, seumpama elang yang siap mencengkram 
mangsa.
> Rambut halus di tubuh saya berdiri, (seumpama pengecut) serempak.
> Respon alami pada sebuah kondisi mencekam. 
> 
> Gempraaang!! Sebuah
> hentakan seakan menimpa atap seng dapur. Persiapan saya tidak 
percuma,
> rasa penasaran dan kesal pada sumber suara itu mengalahkan takut 
dalam
> diri saya. Saya berdiri dan mendatangi sumber suara. Membuka dan
> memukul kaca pintu dengan telapak tangan, menyaingi suara aneh 
tadi.
> Saya ambil parang yang ada di samping pintu, amarah saya pada 
mahluk
> tak jelas tadi memuncak, makian saya lontarkan --sambil terus 
berdoa
> meminta perlindunganNya- - di malam gelap. Hanya pekat yang 
menanggapi.
> Beberapa pemuda yang mendengar teriakan saya sempat datang, dan 
terjadi
> sedikit press converence.
> 
> Malam
> yang terasa panjang itupun berakhir pagi. Subuh menjadi penawar
> gelisah. Malam yang tidak biasa itu menjadi pembicaraan kami. Saya,
> Endah, Ibu, Kakak, dan orang-orang sekitar. Asumsipun beraneka 
ragam.
> Malam berikutnya kami bisa terlelap. Alhamdulillah.
> 
> 
> Sabtu, 14 Juni 2008
> pkl: 23.45 wib
> 
> Saya
> dan Endah masih terjaga dan berbincang tentang banyak hal. Alief 
bab,
> dan baru selesai dibersihkan. Malam hening, angin pedesaan bertiup
> pelan di luar sana, saya mendengar suara itu lagi. Masih jauh, 
sengaja
> tidak saya sampaikan pada Endah. Suara itu makin dekat, Endahpun
> mendengarnya, saya katakan padanya untuk tenang, doa sudah berbaur
> dengan adrenalin. kukukukukukuuk. .! nya semakin jelas dan serasa
> melintas di atas atap kamar kami. Saya waspada, Endah memeluk 
Alief.
> Dan tiba-tiba saja, pintu kamar mandi kembali digedor dari luar,
> berbarengan dengan suar tersebut. Saya melompat menghampiri, apapun
> itu, akan saya hadapi. Lahaulawalaquwwata illa billah...
> 
> Brag!!
> Saya pukul pintu dan membukanya, hanya gelap malam di hadapan saya,
> tidak ada tanda-tanda bahwa sesaat tadi ada sesuatu di sana. 
> 
> 
> Katakanlah: 
> Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (1). 
> Dari kejahatan makhluk-Nya (2). 
> Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita (3). 
> Dan
> dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada
> buhul-buhul (4). Dan dari kejahatan pendengki apabila ia mendengki 
(5). 
> (QS Al-Falaq: 1-5)
> 
> 
> Dani Ardiansyah
>  
> HP : 085694771764
> http://edumuslim. org
> http://catatankecil .multiply. com
> http://hamasahputri .multiply. com
>


Kirim email ke