Assalam.. Pernah dengar dari beberapa ceramah, kalau yang membuat 'arsy bergetar itu adalah jika istri menolak melayani suami.. benarkah demikian? apa rujukannya?
was -dwip- --- In [email protected], "Reza Ervani" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mitsaqan Ghaliza = Perjanjian yang Kuat, Al Quran Surah An Nisa ayat 21 > > Sementara untuk hadits yang berbunyi : "Menikahlah, dan jangan > bercerai kerana talaq itu menyebabkan 'arsy bergegar." > > Imaam Al Manawi dalam Faidh al qadiir #3289 mengatakan bahwa Ibn Al > Jawziyy menyebut bahawa sanadnya maudhuu'. > > As Sakhaawi dalam Al MAqaasid al hasanah #31 mengatakan dha'if > > Al Albaani dalam silsilah menyebut munkar > > Demikian, semoga sedikit membantu > > Salam, > Reza Ervani > > --- In [email protected], endah sriredjeki <indahfairy@> > wrote: > > > > Sahabats  yss, adakah yg tau dasar hukumnya(rujukan) pernyataan ini ? > > Karena itu, suami istri harus punya komitmen untuk saling setia. > Inilah mitsaqan ghalidza. Sehingga, menjaga tali pernikahan agar tetap > kokoh adalah jihad akbar. Arasyâi tidak akan berguncang saat > seseorang meninggalkan shaum wajib, tidak akan berguncang saat > seseorang lalai dalam shalat, namun ia akan berguncang tatkala > sepasang suami istri memutuskan untuk bercerai. > > Thanks > > > > > > ----- Pesan Asli ---- > > Dari: Dudy Iskandar <dudy77ekanuri@> > > Kepada: [email protected] > > Terkirim: Sabtu, 21 Juni, 2008 08:18:09 > > Topik: [rezaervani] [RENUNGAN] Merajut Tali Kesabaran dalam Keluarga > > > > > > Hikmah : > > Merajut Tali Kesabaran DAlam Keluarga > >  > > Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan > pahala mereka tanpa batas (QS. Az-Zumar [39]:10) > >  > > Pada zaman Khalifah Al Manshur, salah seorang menterinya, > Al-Ashmaâi melakukan perburuan. Karena terlalu asyik mengejar hewan > buruan ia terpisah dari kelompoknya dan tersesat di tengah padang > sahara. Ketika rasa haus mulai mencekiknya, di kejauhan ia melihat > sebuah kemah. Terasing dan sendirian. Ia memacu kudanya kearah sana > dan menemukan penghuninya yang memukau : wanita muda dan jelita. Ia > meminta air. Wanita itu berkata, â Ada air sedikit, tetapi aku > persiapkan hanya untuk suamiku. Ada sisa minumanku, kalau engkau mau > ambilahâ. > > Tiba-tiba wajah wanita muda itu tampak siaga. Ia memandang kepulan > debu dari kejauhan. âSuamiku datang â, katanya. Wanita muda itu > kemudian menyiapkan air minum dan kain pembersih. Lelaki yang datang > itu lebih mudah disebut bekas manusia. Seorang tua yang jelek dan > menakutkan . Mulutnya tak henti-hentinya menghardik istrinya. Tidak > satu pun perkataan keluar dari mulut perempuan itu. Ia membersihkan > kaki suaminya, menyerahkan minuman dengan khidmat dan menuntunnya > dengan mesra masuk ke kemah. > > Sebelum pergi, Al-Ashmaâi bertanya , âEngkau muda, cantik dan > setia. Kombinasi yang jarang sekali terjadi. Mengapa engkau korbankan > dirimu untuk melayani lelaki tua yang berahlak buruk ?â > > Jawaban perempuan itu mengejutkan Al-Asmaâi, âRosulullah > bersabda, agama itu itu terdiri dari dua bagian : syukur dan sabar. > Aku bersyukur karena Allah telah menganugerahkan kepadaku kemudaan, > kecantikanm dan perlindungan. Ia membimbingku untuk berahlak baik. Aku > telah melaksanakan setengah agamaku. Karena itu aku ingin melengkapi > agamaku dengan setengahnya lagi yakni, bersabar. (Dikutip dari > Jalaluddin RAhmat. Meraih Cinta Ilahi. 2001:238-239). > >  > > Empat bidang kesabaran. > > Kesabaran itu bisa melahirkan keajaiban. Salah satunya tergambar > dalam kisah diatas. Dengan kesabaran, wanita cantik tadi mampu > berbakti kepada suaminya yang berahlak buruk. Sesuatu yang terkadang > sulit dicerna oleh rasio. > > Tidak diragukan lagi, kesabaran adalah satu pilar penting dalam > pernikahan setelah lurusnya niat. Langgeng tidaknya sebuah pernikahan > sangat ditentukan oleh seberapa jauh tingkat kesabaran yang dimiliki > suami istri. Makin banyak bekal kesabaran yang dimiliki, maka akan > makin kokoh pula bangunan pernikahan yang dijalani. Tapi makin sedikit > kesabaran yang dimiliki, maka makin besar pula kemungkinan hancurnya > sebuah pernikahan. > > Demikian pentingnya kesabaran dalam pernikahan, ada orang > mengatakan, âBila sebelum nikah kesabaran kita hanya satu, maka > setelah menikah kesabaran kita harus seratus.â Pertanyaannya, > kesabaran seperti apa yang harus dimiliki dalam menjalani pernikahan? > > Ada empat macam bidang kesabaran. Pertama, sabar menghadapi > kekurangan pasangan. Pernikahan adalah kesimpulan terakhir setelah > seseorang mempertimbangkan semua kekurangan dan kelebihan pasangan. > Tidak pada tempatnya bila setelah menikah seorang suami mengeluhkan > kekurangan yang ada pada istrinya. Demikian pula sebaliknya. > Masing-masing harus menerima kekurangan atau kelebihan pasangannya > dengan penuh kesabaran. > > Pernikahan adalah sarana untuk saling melengkapi, bukan untuk saling > mengalahkan (QS. An-Nisa [4]:1) > > Salah satu hakikat sabar dalam pernikahan adalah menghilangkan keluh > kesah pada saat tidak enaknya menghadapi segala kekurangan. Tidak ada > keluh kesah selain pada Allah SWT. Karena itu, Rasulullah SAW > mengingatkan bahwa siapa saja yang menikah karena ketampanan atau > kecantikan, maka satu saat rupa tersebut akan menghinakannya. > Kecantikan dan ketampanan itu temporer sifatnya, tidak langgeng. > Ketika belum menikah pasangan kita begitu cantik, tapi setelah punya > anak maka kecantikan itu akan semakin menurun untuk kemudian hilang > sama sekali setelah tua. Tanpa adanya kesabaran, sebuah rumah tangga > tidak akan bertahan lama. > > Kedua, sabar menghadapi godaan. Rumah tangga itu laksana perahu. > Untuk mencapai pulau kebahagiaan di surga, perahu itu harus berlayar > mengarungi luasnya samudra masalah. Indahnya pernikahan analog dengan > indahnya pantai. Namun jangan lupa, siapa saja yang bertolak dari > pantai untuk menyeberangi lautan, maka ia akan menemukan ganasnya > ombak. Siapa saja yang tidak membawa bekal dan persiapan yang matang, > tidak mustahil bahtera rumah tangganya akan karam ditelan gelombang. > > Nikah adalah ikatan yang teramat suci lagi kuat, mitsaqan ghalidza, > sehingga jangan dinodai dengan saling menyakiti. Dalam alqurâan, > kata mitsaqan ghalidza dipakai untuk menyebutkan ikatan antara Allah > dan Rosul-Nya. Tidak akan pernah sukses seorang suami yang sering > menyakiti istrinya. Walau awalnya bergelimang harta, sukses dalam > karir, tapi pada suatu saat ia akan menemui kehancuran. Begitu pula > seorang istri yang tidak taat dan selalu menyakiti suaminya, hidupnya > tidak akan berkah dan bahagia. > > Karena itu, suami istri harus punya komitmen untuk saling setia. > Inilah mitsaqan ghalidza. Sehingga, menjaga tali pernikahan agar tetap > kokoh adalah jihad akbar. Arasyâi tidak akan berguncang saat > seseorang meninggalkan shaum wajib, tidak akan berguncang saat > seseorang lalai dalam shalat, namun ia akan berguncang tatkala > sepasang suami istri memutuskan untuk bercerai. > > Pernikahan itu menandai bersatunya darah daging suami dan istri. > Karena sudah bersatu, maka tidak mungkin lagi ada rahasia. Surga bisa > terbuka karena pernikahan, dan neraka pun bisa terbuka lebar karena > pernikahan. Orang yang menyayangi istri atau suaminya, mereka akan > disayang Yang Maha Penyayang. Rosulullah SAW bersabda, âOrang- orang > yang kasih sayang (ar-rahimun) akan dikasih sayangi oleh Yang Maha > Kasih Sayang (Al Rahman). Karena itu kasih sayangilah manusia dibumi > maka Dia yang dilangit akan kasih sayang kepadamuâ. > > Ketiga, sabar menghadapi kekurangan dan keterbatasan rezeki. > Berapapun rezeki yang kita dapat, kita harus mampu mensyukurinya. > Dengan syukur itulah Allah akan menolong rumah tangga kita dan > melipatgandakan rezeki yang kita dapatkan. Allah SWT berfirman, > Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) > kepadamu, dan jika kami mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya > azdab-Ku sangat pedih (QS. Ibrahim [14]:7) > > Keempat, sabar menghadapi keluarga dari pihak suami atau istri. > Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa pernikahan itu > mengawali bertemunya dua keluarga besar. Karena pertemuan dua > keluarga, maka yang nikah bukan aku, tapi kami. Berkaitan dengan hal > ini, Imam Syafiâi menganjurkan agar orang tua memilihkan jodoh untuk > anaknya, dengan catatan anaknya harus saling mencintai. > > Siapapun yang akan menikah, maka ia harus siap punya dua ayah dan > dua ibu. Ia pun harus siap menghormati mertua sebagaimana menghormati > kedua orangtunya. > > Sabar adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, dalam QS. Az-zumar ayat > 10, Allah SWT menjanjikan pahala luar biasa bagi orang yang sabar, > Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala > mereka tanpa batas. Wallahuâalam. > >  > > (Dikutip dari : Harian Republika) > > > > > > > > Nama baru untuk Anda! > > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan > @rocketmail. > > Cepat sebelum diambil orang lain! > > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ > > >
