Subhanallah.. sebuah tulisan yang lahir dipadang gersang. syukran jiddan akh
atas tulisan ini. sebuah pencerahan ditengah berubahnya kondisi. semoga
setiap akhwat yang membaca ini mampu untuk kembali introspeksi diri. untuk
bisa lebih menjaga hati dan diri. karena memang syaitan itu terlalu pinter
untuk menjerumuskan setiap pribadi, terutama kaum akhwat dengan segudang
pesona.

On Thu, Jun 26, 2008 at 6:54 AM, nunuzainulfuad <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

>   Mencari Akhwat Yang Hilang
>
> Duhai akhwat idaman, dimanakah kau kini berada? Aneh, mengapa kini aku
> terlalu sering menemukanmu dimana-mana, apakah kau tak lagi menjadi
> idaman para pengidam kesucian, tak lagi special, bak bidadari syurga
> yang hadir di bumi, tak pernah tersentuh jin dan manusia.
>
> Tak kubayang, akhwatku hilang, tak lekang, dimakan jaman yang garang.
> Dulu kau tak terlihat, tapi aku tak perlu mencari-cari dirimu. Karena
> aku yakin kau ada, seperti keyakinanku beriman kepada yang ghoib.
> Semakin ghoib, semakin indah, semakin beriman. Wuih. Subahanallah.
>
> Tapi kini kau tak lagi ghoib, kau begitu menyebar, kau begitu visual,
> kau begitu obral, sehingga justru aku kehilanganmu di antara
> kerumunanmu. Terlihat tapi tak terlihat, tak terlihat justru terlihat.
>
> Duhai akhwatku, yang cantik menawan iman. Ketahuilah bahwa semakin
> ghoib dirimu maka semakin besar energi dirimu, sehingga semakin besar
> kualitas keakhwatanmu, maka semakin aku merindukanmu. Kami
> menyayangimu. Sayang sekali jika kau tak menyayangi dirimu sendiri
> lagi; dalam kekhawatiranmu yang berlebihan pada Tuhan.
>
> Ku tahu kau berhijab dalam hizibmu. Tapi mengapa harus kau lupakan
> inti perjuanganmu, apakah karena hizibmu tidak lagi tegas padamu.
> Apakah identitasmu harus bergantung pada identitas hizibmu yang mulai
> teragu?
>
> Ku yakin, kau tahu bahwa kau bagai perhiasan di mata ikhwan atau
> kawan. Dan karakter dari perhiasan adalah butuhnya sebuah atau banyak
> perhatian. Yang memperhatikan nikmat, yang diperhatikan bahagia. Dan
> biasanya perhiasan eksklusif berkarakter : diam, tersembunyi, dijaga
> ketat, personal & privacy, dan hanya orang-orang yang sudah menunaikan
> akad "jual beli" yang boleh memakainya. Kecuali perhiasan murahan, tak
> perlu akad spesial pun sudah bisa dipakai siapapun …. lalu menjadi
> manusia terbuang…na'udzubillahi min dzalik.
>
> Duhai akhwat budiman kekasih ikhwan beriman, perhatikanlah bahwa kau
> adalah perhiasan terindah. Bisakah kau bayangkan, bahwa perhiasan itu
> "diam"nya saja sudah indah dan menggoda. Maka apa yang terjadi jika
> engkau pun bergerak – kesana kemari- sehingga mata ikhwan memandangmu,
> sengaja tidak sengaja, sebab syaitan itu cerdas dan waras. Sedangkan
> ikhwan itu cerdas tapi terbatas. Karena ikhwan itu terbatas, maka kau
> harus membatasi diri dari pandangannya, agar syaitan usahanya pun
> terbatas menggoda manusia beriman, akhwat dan ikhwan.
>
> Kuharap kau lebih banyak diam yang penuh gerakan, daripada gerakan
> yang membuat ikhwan terdiam. Pahamkah maksudku? Kau begitu indah untuk
> tidak diperhatikan, perhiasan itu begitu banyak yang memperhatikan,
> kadang saling bersaing antara satu perhaiasan dengan perhiasan
> lainnya, bersaing untuk diperhatikan… tentu saja karena adanya
> perhatian. Perhatian hadir karena adanya sumber perhatian dan adanya
> yang memperhatikan.
>
> Fokus dakwah pun kadang berubah, bahasan bab menikah dan poligami
> lebih menjadi perhatian daripada bagaimana cara memperjuangkan dakwah
> ini, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah, Ilahi Robbi?
>
> Duhai akhwat, kau bukan syahwat; ku tak menyalahkanmu, tapi marilah
> mulai hari ini sama-sama kita mengambil porsi yang tidak melampaui
> suci. Sebab akhwat itu wanita, dan wanita itu makhluk indah sejati
> yang penuh perasaan, maka perlu diberikan banyak batasan. Agar
> perasaannya tidak meluap dan tumpah di sembarang nyawa. Jika satu atau
> dua batasan sudah mulai dianggap tak membatasi, maka berkhawatir
> dirilah jika engkau kesulitan mengontrol perasaanmu yang agung itu….
>
> Wahai akhwat sejati, bukanlah karena cantikmu engkau diperhatikan,
> tapi karena diperhatikanlah engkau menjadi cantik. Berterimakasihlah
> kepada orang-orang yang memperhatikanmu, dan bersyukurlah kepada Allah
> agar DIA tetap memperhatikanmu. Kalau Allah yang memperhatikanmu, maka
> para ikhwan beriman pun insya Allah tak sungkan tuk memperhatikanmu.
> Tapi kalau perhatian manusia yang engkau kejar, maka kemanakah kau
> tempatkan perhatian Tuhanmu, dari hatimu yang agung, wahai calon ibu,
> wanita yang paling perhatian….dan butuh perhatian. Harus diperhatikan.
>
> Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
> {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Insyiroh (94) : 8}
>
> 
>

Kirim email ke