Assalamu'alaikum

Ini Ust. Zein Alfuad ya...?
Rahmadsyah


On 6/26/08, nunuzainulfuad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Mencari Akhwat Yang Hilang
>
> Duhai akhwat idaman, dimanakah kau kini berada? Aneh, mengapa kini aku
> terlalu sering menemukanmu dimana-mana, apakah kau tak lagi menjadi
> idaman para pengidam kesucian, tak lagi special, bak bidadari syurga
> yang hadir di bumi, tak pernah tersentuh jin dan manusia.
>
> Tak kubayang, akhwatku hilang, tak lekang, dimakan jaman yang garang.
> Dulu kau tak terlihat, tapi aku tak perlu mencari-cari dirimu. Karena
> aku yakin kau ada, seperti keyakinanku beriman kepada yang ghoib.
> Semakin ghoib, semakin indah, semakin beriman. Wuih. Subahanallah.
>
> Tapi kini kau tak lagi ghoib, kau begitu menyebar, kau begitu visual,
> kau begitu obral, sehingga justru aku kehilanganmu di antara
> kerumunanmu. Terlihat tapi tak terlihat, tak terlihat justru terlihat.
>
> Duhai akhwatku, yang cantik menawan iman. Ketahuilah bahwa semakin
> ghoib dirimu maka semakin besar energi dirimu, sehingga semakin besar
> kualitas keakhwatanmu, maka semakin aku merindukanmu. Kami
> menyayangimu. Sayang sekali jika kau tak menyayangi dirimu sendiri
> lagi; dalam kekhawatiranmu yang berlebihan pada Tuhan.
>
> Ku tahu kau berhijab dalam hizibmu. Tapi mengapa harus kau lupakan
> inti perjuanganmu, apakah karena hizibmu tidak lagi tegas padamu.
> Apakah identitasmu harus bergantung pada identitas hizibmu yang mulai
> teragu?
>
> Ku yakin, kau tahu bahwa kau bagai perhiasan di mata ikhwan atau
> kawan. Dan karakter dari perhiasan adalah butuhnya sebuah atau banyak
> perhatian. Yang memperhatikan nikmat, yang diperhatikan bahagia. Dan
> biasanya perhiasan eksklusif berkarakter : diam, tersembunyi, dijaga
> ketat, personal & privacy, dan hanya orang-orang yang sudah menunaikan
> akad "jual beli" yang boleh memakainya. Kecuali perhiasan murahan, tak
> perlu akad spesial pun sudah bisa dipakai siapapun …. lalu menjadi
> manusia terbuang…na'udzubillahi min dzalik.
>
> Duhai akhwat budiman kekasih ikhwan beriman, perhatikanlah bahwa kau
> adalah perhiasan terindah. Bisakah kau bayangkan, bahwa perhiasan itu
> "diam"nya saja sudah indah dan menggoda. Maka apa yang terjadi jika
> engkau pun bergerak – kesana kemari- sehingga mata ikhwan memandangmu,
> sengaja tidak sengaja, sebab syaitan itu cerdas dan waras. Sedangkan
> ikhwan itu cerdas tapi terbatas. Karena ikhwan itu terbatas, maka kau
> harus membatasi diri dari pandangannya, agar syaitan usahanya pun
> terbatas menggoda manusia beriman, akhwat dan ikhwan.
>
> Kuharap kau lebih banyak diam yang penuh gerakan, daripada gerakan
> yang membuat ikhwan terdiam. Pahamkah maksudku? Kau begitu indah untuk
> tidak diperhatikan, perhiasan itu begitu banyak yang memperhatikan,
> kadang saling bersaing antara satu perhaiasan dengan perhiasan
> lainnya, bersaing untuk diperhatikan… tentu saja karena adanya
> perhatian. Perhatian hadir karena adanya sumber perhatian dan adanya
> yang memperhatikan.
>
> Fokus dakwah pun kadang berubah, bahasan bab menikah dan poligami
> lebih menjadi perhatian daripada bagaimana cara memperjuangkan dakwah
> ini, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah, Ilahi Robbi?
>
> Duhai akhwat, kau bukan syahwat; ku tak menyalahkanmu, tapi marilah
> mulai hari ini sama-sama kita mengambil porsi yang tidak melampaui
> suci. Sebab akhwat itu wanita, dan wanita itu makhluk indah sejati
> yang penuh perasaan, maka perlu diberikan banyak batasan. Agar
> perasaannya tidak meluap dan tumpah di sembarang nyawa. Jika satu atau
> dua batasan sudah mulai dianggap tak membatasi, maka berkhawatir
> dirilah jika engkau kesulitan mengontrol perasaanmu yang agung itu….
>
> Wahai akhwat sejati, bukanlah karena cantikmu engkau diperhatikan,
> tapi karena diperhatikanlah engkau menjadi cantik. Berterimakasihlah
> kepada orang-orang yang memperhatikanmu, dan bersyukurlah kepada Allah
> agar DIA tetap memperhatikanmu. Kalau Allah yang memperhatikanmu, maka
> para ikhwan beriman pun insya Allah tak sungkan tuk memperhatikanmu.
> Tapi kalau perhatian manusia yang engkau kejar, maka kemanakah kau
> tempatkan perhatian Tuhanmu, dari hatimu yang agung, wahai calon ibu,
> wanita yang paling perhatian….dan butuh perhatian. Harus diperhatikan.
>
> Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
> {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Insyiroh (94) : 8}
>
> 
>

Kirim email ke