Bismillah

Untuk Sahabatku,

Sahabatku, apa kabar ?
Semoga Allah selalu menyertai setiap langkah-langkahmu, sebagaimana
aku juga berharap DIA menyertai langkah-langkahku di sini.

Sahabatku,
Bagaimana kondisi imanmu saat ini ? Masihkah hatimu di terangi
cahaya hidayah-NYA yang dulu berusaha kau raih dengan tertatih-
tatih ? Ataukah, kegelapan kembali menyelimuti hari-harimu ? Ah,
semoga pelita itu masih dan akan tetap menyala dalam hatimu meskipun
angin puting beliung melanda imanmu.

Sahabatku,
Aku teringat kembali akan penggalan-penggalan waktu yang kita
habiskan untuk meniti jalan cinta-NYA. Aku ingat, saat dulu kau
mengutarakan kerinduanmu untuk bisa membaca kalam Ilahi. Kau merasa
sangat sedih, karena di usiamu yang hampir seperempat abad kau masih
belum mengenali huruf-huruf dalam kitab suci kita yang mulia. Latar
belakang keluarga dan kehidupan masa kecil membuatmu tak sempat
belajar mengaji dan mengarahkan jalan hidupmu jauh dari rambu-rambu
religi. Kewajiban yang lima waktu pun seringkali kau tinggalkan. Aku
tersenyum mendengarnya, lalu berusaha memberimu semangat, bahwa
tiada kata terlambat untuk belajar dan memulai suatu kebaikan. We
are never too old to learn ! Lalu, kita ber azzam untuk mulai
mengeja kalam-NYA. Kita sisihkan waktu setiap pagi sebelum memulai
aktifitas. Huruf demi huruf yang di ucapkan terbata-bata kau resapi
dengan penuh kesungguhan. Kadang, ada saat-saat aku merasa
semangatmu melemah. Ku diamkan sejenak untuk kemudian ku tarik
engkau kembali. Aku pun begitu. Kadang aku melemah untuk kemudian
menguat kembali. Kita kan manusia, bukan malaikat, begitu ucapku.
Tiada ku temukan rasa malu atau rendah diri pada mu, meski bacaanmu
diiringi canda bernada ejekan dari orang sekitar. Lembar demi lembar
kau tuntaskan buku IQRO yang sudah kumal sampai khatam. Ku lihat
binar kebahagiaan di mata mu kala itu, dan sempat ku lihat genangan
air mata yang berusaha keras kau tahan. Kemudian, kau bersemangat
untuk terus melanjutkan ke juz amma dan  sampailah saat kau membuka
Al-Qur'anul Karim dengan percaya diri. Kau bilang, Insya Allah,
Ramadhan tahun ini engkau sudah bisa tilawah sendiri. Amin. Semoga
Allah mengabulkan keinginan baikmu.

Ah, sahabatku,
Maafkan aku, karena aku bukanlah pengajar yang baik. Aku hanya tahu
permukaannya saja, belum sampai  ke inti. Bacaan tilawahku juga
masih jauh dari benar dan seringkali aku salah, karena aku pun masih
terus belajar memperbaiki bacaanku. Posisi kita sama-sama belajar.
Semoga engkau tidak keberatan dengan kondisiku.

Tahukah kau sahabat,
Betapa bahagianya aku saat kau bilang bahwa kewajiban lima waktu mu
sudah tidak bolong-bolong lagi, bahkan kau mulai menambahkan  sholat
sunnah. Senyum syukurku mengembang saat kau kirim sebuah pesan
singkat bahwa kau mulai mengunjungi rumah Allah untuk ikut shalat
berjamaah. Dan aku bersemangat untuk ikut serta saat kau berniat
mengerjakan shaum-shaum sunnah. Kita "Fastabiqul Khairat, berlomba-
lomba dalam kebaikan"  Semoga Allah menjaga hatiku agar tidak merasa
ujub, merasa menjadi penyebab semua perubahan baikmu, karena syetan
berupaya hebat menyisipkan virus-virus penyakit qolbu. Hanya Allah,
DIA lah yang memberikan cahaya-NYA kepada siapa yang DIA kehendaki.
Semoga Allah juga menjaga hatimu, meluruskan niatmu dalam
mengerjakan semua amal shalih hanya karena-NYA semata. Kita saling
menceritakan amal-amal yang dikerjakan hanya bertujuan untuk saling
menguatkan, saling memberi semangat, saling belomba, tanpa ada
sedikitpun niat pamer dan riya. Semoga Allah menerima amal-amal kita
yang sangat sederhana, dan mengampuni jikalau tercampur niat yang
kurang lurus.

Sahabatku,
Ingatkah kau ketika kita mengunjungi sebuah pameran buku islam ?
Kita berniat untuk mendengarkan sebuah talkshow, tapi kita malah
membuat "talkshow" sendiri. Saat itu, kau menceritakan sisi-sisi
lain dirimu yang belum aku ketahui. Ternyata, kau sangat dewasa
dalam usiamu yang masih belia. Ada sebuah beban berat tersampir di
pundakmu. Tanggung jawab terhadap keluarga, karena saat ini kau lah
yang menjadi tumpuan orang tua dan semua saudara-saudarimu, meskipun
kau bukan anak tertua. Dalam banyak hal, kau selalu mengalah demi
kepentingan keluargamu. Mendengar ceritamu sahabat, beban sama yang
juga ku sandang terasa menjadi lebih ringan.

Sahabatku,
Masih ingatkah kau pada novel Ayat-ayat cinta ? Kau begitu kagum
pada sosok Fahri Abdullah, sampai kau menoton film nya 3 kali ! Dan
aku mencibirmu saat kau bilang bahwa kau menangis setiap kali
menonton filmnya. Duh sahabat, tampaknya kau mudah sekali bercucuran
air mata. Mungkin itu cermin dari kelembutan hatimu.  Dari novel
itu, kau bilang bahwa kau mendapat banyak perlajaran tentang adab
perilaku seorang muslim. Aku tak berharap kau langsung `jadi'
seperti tokoh-tokoh hanif yang di gambarkan di buku itu. Setidaknya
dari yang ku lihat, buku itu memberi pengaruh positif pada perubahan
dirimu. Berminggu-minggu kemudian, Ayat-ayat Cinta menjadi topik
utama percakapan kita dan aku menyukainya, sebab dari sana aku bisa
menyisipkan sepatah dua patah kata bijak yang ku dapat dari berbagai
sumber.

Ah, sahabat,
Hanya sebatas itu lah yang aku bisa. Menyampaikan kata-kata indah
penuh makna yang belum bisa aku praktekkan sendiri. Kadang aku
merasa amat malu padamu, sebab tingkah laku ku berbeda dengan kata-
kata yang keluar dari lisanku. Sering aku mengucapkan kata `sabar'
di barengi ketergesa-gesaanku. Ku sampaikan kata "syukur" sambil
mengeluh mengenai kondisi yang menimpaku. Ku ingatkan kau
untuk "taat" sementara mencontohkan maksiat. Astaghfirullah …

Justru dari mu sahabat, ku belajar banyak hal. Kau lah aplikasi
nyata dari semua hal yang baru bisa aku ucapkan. Aku adalah  teori
dan kau adalah prakteknya. Pernah suatu kali aku bertanya, mengapa
kau bisa di kelilingi oleh begitu banyak orang yang peduli padamu.
Kau tak pernah merasa kesepian karena selalu ada teman-teman yang
dengan senang hati menemanimu. Kau jawab pertanyaanku bukan dengan
kata-kata, tapi dengan tindakan nyata. Ternyata, kau sangat peduli
pada orang-orang disekelilingmu, hingga setiap orang
merasa `special' bila bersamamu. Aku pun merasakan kepedulianmu pada
setiap masalah yang ku ceritakan padamu. Seringkali, kau membuat aku
melihat suatu masalah dari sudut yang berbeda, yang tak terpikirkan
oleh otakku yang dangkal. Tak jarang, kau menyederhakan suatu hal
yang ku anggap begitu rumit lalu membuat kesedihan menjadi sebuah
senyuman. Padahal, aku lebih dahulu menghirup udara di dunia ini.
Bilangan usiaku lebih banyak dari mu. Tapi, dalam banyak hal aku
bertingkah layaknya anak kecil dan kau orang dewasa. Ku buktikan
sendiri bahwa bilangan usia tak menentukan kedewasaan seseorang. Dan
untuk semua pelajaran berharga yang ku dapat darimu, jarang aku
menyampaikan rasa terima kasihku. Maafkan aku sahabat,..

Dan, ingatkah kau pada diskusi-diskusi kita tentang buku Laskar
Pelangi- nya Andrea Hirata ? Kita begitu kagum pada sang penulis
hingga rela izin kerja untuk hadir pada acara jumpa penulis. Buku
Laskar Pelangi memberi kita banyak pelajaran dan hikmah. Tentang
impian-impian yang bisa di raih, tentang makna sebuah jalinan
persahabatan yang tulus dan tentang perjuangan untuk mencapai
kehidupan yang lebih baik.

Sahabat,
Terkenangku pada majelis ilmu yang kita hadiri. Awalnya, aku merasa
ragu mengajakmu duduk di rumah-NYA untuk mendengar tausiah sang
ustadz. Itu hal yang baru bagimu, kan sahabat ? Hatiku was-was. Aku
takut engkau kapok dan jera, mengganggap semua ativitas itu
membosankan. Akan tetapi, semua buruk sangka ku sirna, ketika dengan
antusias kau bercerita tentang hikmah dan ilmu yang kau dapat dari
majelis itu. Hati ku bersorak ketika engkau bertanya kapan lagi
jadwal acara serupa karena engkau berniat hadir kembali. Hanya satu
niat dalam hatiku saat mengajakmu duduk dalam majelis ilmu itu. Aku
ingin engkau merasakan ketenangan seperti yang telah aku rasakan,
mendapatkan manfaat kajian ilmu yang disampaikan, mendapatkan `darah
segar' energi untuk menghadapi kerasnya kehidupan, memperoleh
pencerahan untuk hati yang gelap gulita karena persoalan-persoalan
dunia, dan meraih keridhoan-NYA. Semoga setiap langkah kita dicatat
sebagai tabungan kebaikan. Semoga, pada saat hari dimana kaki dan
tangan berbicara, kaki-kaki ini bisa bersaksi bahwa ia pernah kita
gunakan untuk melangkah menuju kepada-NYA.

Wahai sahabatku,
Bersamamu kurasakan indahnya sebuah hubungan yang berhulu dan
bermuara pada NYA. Bersamamu, kubuktikan  bahwa cinta-NYA mengikat
hati-hati yang terserak. Maka izinkanlah aku berkata bahwa aku
mencintaimu dalam bingkai cinta pada-NYA. Bahwa aku menyayangimu
dalam kerangka kasih sayang-NYA. Dan bahwa aku akan merindukanmu
dalam kerinduan akan kebersamaan meniti jalan keridhoan-NYA.

Lalu, tibalah saat perpisahan …
Jalan takdir memaksa kita untuk mengakhiri episode-episode bersama.
Tibalah waktu bagi kita untuk menapaki jalan masing-masing yang
telah dibentangkan di hadapan kita. DIA telah mempersilangkan nasib
kita untuk suatu tujuan. Takdirku dan takdirmu bertemu pada suatu
titik, dan kemudian terpisah pada titik yang lain. Semuanya terjadi
berdasarkan skenario-NYA.

Sahabat,
Tahukah kau apa yang paling aku takutkan saat aku tak berada di
sisimu lagi ? Aku takut kau meletakkan Kitab suci di pojok mejamu
tanpa pernah membukanya lagi. Aku takut kau tinggalkan kewajiban
lima waktu karena tenggelam dalam kesibukan duniawi. Aku takut,
semangatmu untuk mengikuti majelis-majelis ilmu yang baru menyala
menjadi padam seiring lingkungan pergaulan barumu. Aku takut ghiroh
yang berpendar itu akan meredup seiring waktu tanpa kau sadari.

Sungguh sahabatku,
Perpisahan ini membuatku gamang, karena aku merasa belum menuntaskan
amanah untuk menjadi jalan hidayah bagimu. Begitu banyak yang ingin
aku tularkan padamu sebanyak yang ingin aku serap darimu. Bilakah
DIA berkenan mempertautkan kembali jalan nasib kita ? Aku berharap
DIA mengirimkanmu sahabat-sahabat lain yang jauh lebih baik dariku.
Mempertemukan kau dan aku dengan orang-orang yang di rindukan surga,
para kekasih Allah.

Tetapi, aku percaya padamu duhai sahabatku,
Aku percaya bahwa DIA akan menuntunmu pada jalan yang lurus. Aku
yakin engkau tak akan mudah begitu saja rela melepaskan cahaya
hidayah yang telah tersemai di hatimu. Engkau akan berjuang sekuat
tenaga untuk mempertahankan, memupuk, dan merawat benih-benih cinta-
NYA yang mulai tumbuh. Engkau akan mencari cara untuk terus
merasakan manisnya iman yang terhujam kuat di dada.

Teriring doa untukmu, sahabatku,

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada
kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan
karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena
sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (Ali Imron : 8)





Kirim email ke