MBA (Married By Azzam)
Oleh Dani Ardiansyah
Menikah muda? Nggak deh. Setidaknya begitu prinsip saya sejak lama tentang
pernikahan. Meskipun lagi ngetren, saya selalu tetap dengan prinsip saya.
Menikah bukanlah sebuah proses instant yang bisa dilakukan dengan sekejap mata.
Prosesnya panjang, harus saling menganal secara lebih dalam pasangan, apapun
nama prosesnya. Selain itu, saya beranggapan, sebelum menikah kita harus
menjadi kaya dulu, mapan, dan paling tidak punya usaha.
Menikah adalah salah satu resolusi hidup yang tidak pernah saya targetkan
waktunya. Meski sepenuhnya sadar, bahwa selain sunnah Rasul, menikah juga
secara naluriah menjadi hasrat yang paling manusiawi yang terkadang bisa jadi
sangat mendesak. Tapi saya benar-benar tidak pernah menargetkannya dengan
serius. Berbeda dengan Fachri (AAC), yang serius membuat peta hidup dengan
target menikah. Tentu saja banyak pertimbangan yang mempengaruhi sikap saya
tentang pernikahan tersebut.
Tapi sampai kapan? Orang tua saya bukan orang yang berlebih dalam hal materi.
Jadi sudah bisa disimpulkan, bahwa saya tidak dapat mengandalkan mereka dalam
hal ini. Dari sana, muncul sebuah tekad, bahwa suatu saat, ketika saya akan
menikah, maka segala sesuatunya harus bisa saya tanggulangi sendiri, tanpa
perlu merepotkan orang tua. Sudah cukup pengorbanan mereka dalam membesarkan
saya selama ini. Meskipun menikahkan anak adalah tugas orang tua, tapi bagi
saya, cukup ridho dari mereka saja yang saya dapatkan. Selain itu, saya harus
bisa melakukannya sendiri. Dari prinsip ini, lalu muncul kesimpulan dalam diri
bahwa saya harus giat dalam bekerja dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.
Saya seorang karyawan swasta dengan gaji yang pas-pasan, background
pendidikanpun tidak menjamin. Saya selalu berfikir, dengan gaji yang saya
terima setiap bulan dengan jumlah yang sangat minim, dan selalu habis menutupi
kebutuhan sehari-hari, akan berapa lama saya mengumpulkan uang untuk biaya
pernikahan saya kelak? Dan keraguan-keraguan itu senantiasa muncul, mengganggu
pikiran saya, bahkan menimbulkan sikap pesimis. Tapi, saya tidak pernah
berhenti berdoa, saya selalu meminta kepada Tuhan agar diberikan seorang
pendamping yang akan menerima saya apa adanya.
Hingga pada suatu saat, saya mengenal seorang gadis yang mampu mengobarkan
semangat saya untuk melaksanakan janji yang setara dengan perjanjian Allah
dengan bani israil: Mistaqhon ghalizon; pernikahan. Keputusan untuk menikah
tiba-tiba saja datang tanpa banyak pertimbangan. Dan sikap saya, tentu saja
berbaur, antara rasa percaya diri dan minder, antara berani dan takut, antara
ksatria dan pecundang. Yah, semuanya menjadi satu. Dan saya merasa harus
melakukan sesuatu dengan perasaan itu. Saya harus mensublimasi semuanya hingga
ada hasil akhir dari perang rasa itu menjadi sebuah sikap: Lahaula walaquwwata
illa billah. Tentunya dengan segala prasangka baik pada Allah swt, bahwa saya
akan menjadi ‘kaya’ setelah menikah. Dan segenggam azzam yang tancapkan dalam
hati.
Tentu saja ada tahap-tahap dimana saya sebagai seorang laki-laki, yang siap
meminang seorang gadis. Saya harus memenuhi segala persyaratan yang akan
diajukan oleh calon pendamping, seberat apapun. Dengan tetap berkeyakinan,
bahwa Allah akan memberikan calon pendamping yang tepat, dan mengerti keadaan
saya, seperti yang selalu saya minta dalam doa.
Untuk mempermudah pemetaan kebutuhan pernikahan, saya harus membuat tabel
kebutuhan untuk proses tersebut. Itu yang selalu terpikirkan oleh saya. Tentu
saja dengan segala pertimbangan dan harapan, bahawa biaya pernikahan saya tidak
akan melebihi kemampuan saya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tentu saja saya harus bekerja keras, saya
harus bisa mencari uang tambahan agar semuanya bisa terpenuhi dengan baik.
Tidak banyak waktu yang saya miliki untuk itu. Karena sejak komitmen itu
datang, saya harus segera membuat keputusan. Karena ini bukan sebuah proses
yang biasa dilakukan oleh kebaanyakan orang, ini adalah proses menuju sebuah
mahligai suci. Jika saja saya menunda-nundanya, berarti saya membiarkan
kesempatan yang telah dijanjikan, bahwa akan sempurnanya separuh agama saya.
Selain itu, saya juga khawatir, setelah komitmen yang saya tegaskan dalam
proses ta'aruf, akan menimbulkan riak-riak cinta yang berlebihan pada calon
istri saya, bukankah hal itu harus dijaga? Agar hati ini terbebas dari rasa
yang tidak seharusnya. Dan, jika pernikahan itu saya tunda, maka besar
kemungkinananya saya akan merasakan hal tersebut.
18 hari adalah sisa waktu yang saya punya setelah proses khitbah saya lakukan.
Dan itu bukan sebuah waktu yang cukup leluasa untuk sebuah persiapan
pernikahan. Dan lucunya dalam kondisi "tertekan" seperti itu, kadang-kadang
kita sulit berfikir secara jernih. Alih-alih mencari dan mendapatkan solusi,
saya malah merasakan kebuntuan. Dan disinilah sepertinya kita harus berbagi,
mengungkapkan persoalan yang tengah kita hadapi kepada orang-orang yang kita
anggap mampu memberikan solusi. Atau palung tidak, dengan bercerita kita telah
meringankan beban pikiran kita dengan berbagi, meskipun tidak ada solusi yang
berarti.
walaupun sedikit terlambat, saat itu saya bercerita kepada seorang teman
tentang apa yang sedang saya hadapi saat itu. Dan darinya saya mendapatkan ide
untuk mengatasi masalah keungan yang tengah saya hadapi. Dia menganjurkan agar
saya menjual buku yang pernah saya tulis, secara online di internet dengan
menyertakan alasan saya menjual buku tersebut, dengan harapan calon pembeli
yang membaca keterangan tersebut, akan menaruh simpati dan memutuskan membeli
buku yang saya jual. Ironis memang. Tapi saya pikir tidak ada salahnya itu
dicoba.
Alhamdulillah, memang Allah maha pemurah, setelah ide itu saya jalankan, diluar
dugaan saya, banyak sekali respon positif atas hal tersebut. Bukan hanya dari
orang-orang yang berniat membeli buku saya, tapi banyak juga sahabat-sahabat
dari dunia maya yang manaruh simpati pada saya dan membantu mengirimkan uang
secara cuma-cuma untuk membantu biaya pernikahan saya. Dan itu benar-benar
membuat saya menangis.
kekhawatiran akan minimnya dana persiapan pernikahan agak mereda. Saya
terhibur oleh kebaikan orang-orang itu. Banyak diantara mereka yang tidak saya
kenal langsung, tapi benar-benar tulus membantu saya. saya benar-benar
membuktikan janji Allah. Bahwa niat yang baik akan mendaptkan banyak kemudahan
yang tidak diduga-duga.
Satu pelajaran benar-benar saya dapatkan. Ketika kita berada dalam sebuah
posisi sulit dan terpojok, jangan pernah enggan berbagi cerita, mintalah
pendapat orang-orang yang dekat dengan kita, karena terkadang, jawaban doa kita
pada sang pencipta, dijawab-Nya melalui orang-orang yang terkadang tidak kita
sangka. Allah menjawab dengan berbagai cara yang mengejutkan. Jangan pernah
berhenti berdoa, dan jangan pernah berhenti berusaha.
Dani Ardiansyah
I-Moov Mobile Solution
Jl. Radio Dalam Raya No. 5H
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
|Phone +6221 722 8968|Fax +6221 727 97214 |
HP : 085694771764