Hilangnya Entitas Penulis
Penulis:
Sismanto
Email: [EMAIL PROTECTED]


Beberapa tahun yang lalu ketika Munir, bukan nama sebenarnya masih
kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Timur. Munir
berasal dari Aceh, salah satu propinsi yang berada paling ujung di
negara kita. Dia belajar menuntut ilmu tanpa membawa bekal apapun, hanya
sekedar pakaian ala kadarnya, dan berbekal semangat belajar tak kenal
henti. Siapapun pasti sangat berbelas kasihan kepadanya, tapi munir
tidak ingin dikasihani, dia terus bekerja mencari nafkahnya lewat jalan
berdakwah untuk membiayai kuliahnya. Guna mengurangi pengeluaran, Munir
terpaksa menginap dari satu masjid ke masjid yang lain. Malam ini di
masjid ini dan malam berikutnya di masjid sana, semua orang sekitar
masjid hampir mengenalnya. Ketika Munir mendapatkan honor dari
dakwahnya, dia sisihkan untuk keseharian dan membiayai kuliahnya.

Hobinya menulisnya sudah terasah sejak dia duduk di bangku SMP, bahkan
ketika masih SMA dia tinggal di salah satu pesantren di Madura. Saat
masih SMA inilah bekat dan minat menulisnya semakin terasah, secara
pesantren ini mempunyai ekskul menulis untuk mengasah bakat anak
didiknya. Beberapa lomba kepenulisan sampai tingkat propinsi pernah dia
sabet. Pun ketika Munir menjejakkan kaki di bangku kuliah meski dengan
biaya yang pas-pasan, dia selalu bersemangat menyelesaikan kuliahnya
dengan jerih payahnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Kemampuan menulisnya sudah tidak diragukan lagi, beberapa tulisannya
menghiasi media lokal maupun nasional. Sebut saja mulai dari koran
tempo, Malang Post, Jawa Pos sampai dengan Kompas, bahkan sampai masuk
di koran Jakarta Post. Yang lebih saya apresiasi lagi, pernah juga
tulisannya tembus di media luar negeri. "Sungguh prestasi yang
membanggakan" pikirku.

Ketika dia masih kuliah, dia selalu berbicara tentang idealisme sebagai
seorang penulis. Tidak diberi honor pun dia tetap menulis. Lambat laun
idealismenya sebagai penulis pun memudar seiring himpitan ekonomi yang
menderanya.  Idealisme penulisnya kian memudar diterpa jaman yang serba
tidak menentu, produktivitas menulisnya kian hari kian luntur karena ia
sadar bahwa dia mempunyai kebutuhan untuk memenuhi kehidupannya. Dia pun
lantas mengurangi produktivitas menulisnya untuk mencari kerja
sampingan, kerja sampingan dia dapat dan semakin lama dia enjoy dengan
kerja sampingannya tersebut.

Suatu ketika saya pernah bertanya kepadanya "mengapa kamu tidak
menulis lagi?" pertanyaan seorang sahabat untuk mengajaknya kembali
menulis. Jawabannya sederhana "alasan ekonomi mas, suatu saat jika
ekonomi saya sudah establish saya akan kembali menulis". dia malas
menulis karena himpitan ekonomi, dia butuh pekerjaan yang tetap untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga, ia tidak menggantungkan hidupnya
dari hasil jerih payahnya menulis. Saya sadar itu.

Saya semakin yakin kelak setelah semua kebutuhannya terpenuhi dia akan
kembali menulis seperti sedia kala. Karena saya yakin alasan
ketidakmenulisannya dikarenakan oleh satu masalah, masalah yang memang
menjadi momok bagi para penulis kita.

Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi rumahnya atas undangannya.
Sahabat saya terbelalak kaget melihat banyak perubahan yang terjadi pada
Munir. Munir yang dulu saya kenal sebagai seorang penulis, kini telah
memudar dengan rutinitas kerjanya. Begitu saya mendapat kesempatan
mengunjungi rumahnya, di depan rumah saya sudah disambut dengan mobil
yang lumayan mewah, rumah bertingkat dengan lantai dua, di dalamnya saya
mendapati perabotan rumah yang memadai, yang ada dalam pikiran saya kala
itu Munir akan tergugah jiwanya untuk menulis kembali secara kebutuhan
materi dan ekonominya sudah terpenuhi. Namun yang saya dapati pada diri
Munir tidak seperti yang dia janjikan seperti ketika idealisme
penulisnya tidak lekang oleh kebutuhan, idealisme menulisnya tetap
dipeertahankan meski tanpa honor dan royalti.

Sekarang, munir sudah melupakan jiwanya yang telah diasah dan
dibangunnya selama bertahun-tahun, mulai dari SMP sampai di bangku
kuliah. Munir tidak lagi menulis karena sudah sibuk dan asyik dengan
rutinitasnya, sibuk mencari harta duniawi (semoga saja barakah Nir!).
Namun saya masih melihat aurora kepenulisan munir ketika berada di sana.
Di dalam ruangan rumahnya masih tersedia perpustakaan pribadi yang cukup
banyak referensi-referensi dari buku ringan sampai ke buku-buku bacaan
yang lumayan berat bagi saya.
Saya hanya berharap dan berdoa kepada Allah supaya Munir kembali menulis
setelah dia mendapatnya, ekonomi keluarga yang relatif mapan, pekerjaan
menjadi wakil rakyat yang menjanjikan. Harapan saya, libido menulisnya
akan kembali. Sangat disayangkan jika para penulis-penulis kita
menghentikan karyanya hanya karena alasan ekonomi, betapa mubadzirnya
intelektualitas mereka jika hanya mengejar materi dan meninggalkan
entitasnya sebagai seorang penulis. Waalahu A'lam Bishowab.

Salam,
Sismanto
"Jadilah guru diri sendiri, sebelum menjadi guru orang lain"
http://mkpd.wordpress.com
http://sismanto.com

Kirim email ke