Yang Terlupakan : Pustakawan Sekolah Oleh : Reza Ervani "Bagaimana Dikti, Dikmenjur, Dikmenum, dan Menegkominfo? Mau mengebut di bidang TI, tapi melupakan perpustakaan"
Demikian yang ditulis oleh salah seorang maestro IT Indonesia, I Made Wiryana. Dulu sekali, Desember 2007, seminar pertama yang penulis adakan bersama rekan-rekan di Rumah Ilmu Indonesia adalah tentang Perpustakaan Digital. Tidak lain dan tidak bukan, latar belakangnya adalah betapa perpustakaan di negeri kita ini bukanlah tempat yang menjadi idola keluarga. Di sekolah pun, sudut sunyi keilmuan itu seringkali terlupakan. Tidak hanya terlupa secara manajerial, tapi terlupakan pula dalam inovasi, hobi dan kecintaan. Membaca Wikinomics, penulis terkagum-kagum dengan impian para ahli literasi di luar sana mewujudkan kembali perpustakaan Alexandria, perpustakaan terlengkap di Mesir pada masa Dinasti Yunani, Ptolemeus. Adakah cita-cita yang sama pernah hadir di benak kita saat ini ? Pustakawan sekolah ? Dia seolah menjadi makhluk kelas tiga di dunia pendidikan. Seakan dia tak perlu kita urusi dengan lebih seksama. Padahal pustakawan sekolah inilah seharusnya guru utama di lingkungan pendidikan dalam persoalan literasi, referensi ilmiah, hingga mungkin tempat bertanya persoalan metode penelitian. Kenyataan di lapangan memang menunjukkan, bahwa school librarian kebanyakan bukanlah lulusan jurusan perpustakaan. Tapi ini bukan berarti, bahwa profesi pustakawan sekolah boleh dijalankan asal-asalan. Kemauan belajar dan mendalami permasalahan dunia literasi harus benar-benar ada dan ditumbuhkan di jiwa pustakawan sekolah. Lembaga-lembaga pelatihan dan pengembangan pendidikan pun tak boleh melupakan mereka. Harus ada sesi-sesi khusus untuk para pustakawan sekolah. Bagaimana dengan wajah koleksi perpustakaan sekolah kita ? Bukankah ini juga menjadi kendala di lembaga-lembaga pendidikan kita ? Jika kita tidak bisa membangun fisiknya dikarenakan keterbatasan dana, kenapa tidak coba kita gagas sebuah digital library repository, terhubung dari satu sekolah ke sekolah lainnya, menerapkan Inter Library Catalog, membuat perangkat lunak yang mampu memetakan koleksi digital, membuatnya bisa dipakai di jaringan dan multi platform dan seterusnya Siapa yang mau memulai kalau bukan kita ? Yang pasti, berbicara pendidikan seharusnya membuat kita juga ingat dengan sosok itu, sosok yang seharusnya menjadi guru literasi sekolah. Sosok itu bernama Pustakawan Sekolah Bandung, 5 Juni 2009 Salam, Reza Ervani http://www.rezaervani.com <http://www.rezaervani.com/> http://www.rumahilmuindonesia.or.id <http://www.rumahilmuindonesia.or.id/> http://groups.yahoo.com/group/rezaervani <http://groups.yahoo.com/group/rezaervani>
