Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Adalah sebuah kebahagiaan, jika apa yang buat mendapatkan perhatian dari sahabat-sahabat kita. Walaupun bukan itu esensi dari perbuatan itu sendiri.
Sepulang dari Rembang, Jawa Tengah, Senin 8 Juni 2008, penulis langsung mengecek benarkah profil penulis dan Rumah Ilmu Indonesia dimuat di salah satu Surat Kabar Nasional, REPUBLIKA, seperti yang disampaikan sahabat-sahabat lewat kolom komentar di facebook penulis. Subhanallah, ternyata memang benar. Membaca tulisan itu, campur aduk rasa di hati. Amanah besar itu bukan lagi disaksikan satu dua orang, tapi oleh banyak orang. Mereka akan memberi penilaian subjektifnya masing-masing, yang akan membantu mengontrol gerak dan jalannya cita-cita yang telah dibuat dan terikrarkan. Mudah-mudahan penulis bisa tercukupkan dengan penilaian dari Allah semata. Berikut kami salinkan rubrik itu disini, semoga memberi nilai inspirasi positif - terutama bagi para guru - dan jalan kebaikan, terutama bagi sosok yang dirinya dimuat dalam tulisan itu. Fa idza azzamta fa tawakal 'alallah Salam, Yayasan Rumah Ilmu Indonesia http://www.rumahilmuindonesia.or.id Reza Ervani : Memerangi Buta Huruf Al Quran Rubrik SOSOK HU REPUBLIKA, Ahad 7 Juni 2009 Suatu hari di tahun 2001, Reza Ervani bersama satu orang temannya melakukan perjalanan ke Cidaun, Cianjur Selatan, Jawa Barat. Salah satu daerah terpencil di Jabar dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang kecil pula. Jika melihat buruk dan kurangnya fasilitas yang ada, seperti jalan yang rusak, dan jarangnya kendaraan masuk ke daerah ini, wajar jika IPM daerah berpemandangan indah itu rendah. Reza diminta temannya untuk melakukan training anak SD. Training dilakukan di sebuah madrasah yang jauh dari kata megah. Ketika melihat sekeliling, ia terenyuh. Bagaimana tidak, semua pengajar di madrasah itu sudah tua dengan cara belajar tradisional. Hanya satu orang guru yang terlihat masih sangat muda. Guru perempuan itu baru lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. "Saya bertanya kepadanya, kenapa mau mengajar disini, jauh dari mana-mana, jalan jelek, dan jarang angkutan umum." Cerita Reza Ervani. Dengan ringan, si perempuan berkata,"Saya lahir disini, disekolahkan oleh orang yang penghasilannya di dapat dari tani di Cidauh. Masak setelah lulus saya membangun negeri orang lain". Kalimat sederhana namun dalam itu seolah menampar dirinya. Cidaun tak memiliki banyak sekolah. Kalaupun sekolah ada, gurunya tidak ada. Sama halnya dengan tempat ia dilahirkan di Belitung. Berbagai pertanyaan tentang apa yang telah ia lakukan berkecamuk di hatinya. Buta Al Quran Keresahan dalam hatinya berkecamuk tatkala ia membaca surat kabar yang menuliskan data Departemen Agama dan pantauan lapangan Lembaga Studi Al Quran (LSQ) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Barat. Data itu menyebutkan 50 persen Muslimin dewasa buta huruf Al Quran. Pemberantasan buta huruf Al Quran di jabar ini belum didukung dana. Padahal pemberantasan buta huruf latin meningkat dua kali lipat. Ditambah lagi fakta, kebanyakan orang tua memasukan anaknya ke Taman Pendidikan Al Quran (TPA) hanya untuk mengisi waktu. Kompetensi anak tidak terlalu dibangun. Yang dilakukan hanya mengaji. "Saya semakin merenung dan dengan modal seadanya, yaitu niat, kerja keras dan terus meminta pertolongan Allah, saya dibantu beberapa orang mendirikan Rumah Ilmu Indonesia (RII) dengan salah satu program unggulannya Indonesia Bebas Buta Huruf Al Quran pada 2012,"kata lelaki kelahiran 12 September 1980 ini menjelaskan. Sekilas program itu mungkin terlihat mustahil. Namun, ia percaya segala sesuatu yang rumit pasti dimulai dengan sebuah langkah awal. Dengan mengucap basmallah ia pun mulai bertindak dengan bantuan beberapa orang teman dan donatur. Beasiswa Langkah awal yang dilakukannya adalah memberikan beasiswa kepada pengajar. Karena bagaimana mungkin target itu bisa cepat tercapai, jika sampai sekarang Jabar masih kekurangan guru mengaji yang bisa tahsin dan tahfidz. Ia mencontohkan, Bandung memiliki dua lembaga privat Quran, yakni Jendela Hati dan MAQDIS. Namun mereka pun kekurangan guru. Ada kalanya, guru di MAQDIS mengajar pula di Jendela Hati. Untuk kelas pertama, beasiswa diberikan kepada 22 orang calon guru. Beasiswa yang diberikan tak hanya untuk belajar saja, namun seluruh keperluannya ditanggung. Mereka belajar tahsin dan tahfidz secara intensif. Seleksi alam pun berlaku. Ada calon pengajar yang tidak siap hingga akhirnya mundur di tengah jalan. Dari 22 calon pengajar, yang dinyatakan bertahan hingga lulus hanya sembilan orang. Ketika RII menggenjot pengadaan guru, sembilan guru itu disebar ke kantung-kantung yang membutuhkan guru dengan pemberlakuan ikatan dinas dakwah. Bisa di perkotaan atau pedesaan. Untuk pedesaan yang menjadi sasaran utama adalah daerah-daerah yang kekurangan guru seperti Cianjur Selatan. Di sana mereka akan mengajar dan menciptakan tenaga pendidik baru untuk disebarkan kembali. "Saat ini banyak yang minta guru, mulai dari beberapa universitas dan lembaga di Bandung hingga daerah luar Jawa seperti Papua, namun kita belum bisa menyanggupinya, karena tenaganya masih terbatas."kata Reza Program Utama Menurut perhitungan Reza satu orang ugru mengajar sepuluh orang per hari dengan mengajar di dua kelas dalam satu kali paket belajar. Bila semuanya lancar, program utama RII akan terwujud. Yakni penyediaan 1000 tenaga pengajr Al Quran hingga 2012, pelaksanaan kelas tahsin reguler hingga 100 ribu siswa hingga 2012, penyebaran tenaga didik Al Quran ke beberapa daerah, dan pelaksanaan donasi 100 ribu mushaf Al Quran. "Untuk bulan Mei Oktober 2009 ini beasiswa calon pengajar di buka di Cimahi, Bandung, Bogor dan Cicalengka" katanya. Tidak tertutup kemungkinan kelas dibuka untuk di luar Jabar. Saat ini bantuan mengalir dari mana-mana, baik dari dalam maupun luar negeri. Meskipun melelahkan dan sempat terpikir untuk menyudahi, ia teringat pada orang-orang yang telah mengamanatkan harta atau apapun kepadanya. Ia pun mengoptimalkan keberadaan TPA. Setelah lulus TPA, diharapkan anak tersebut minimal hafal satu juz Al Quran. Cara pengajaran yang dilakukan memang berbeda. Jika biasanya orang belajar teori dulu, maka ia menciptakan metode baru yakni praktik dulu baru teori. Yang penting bisa mengaji dulu, untuk membenarkan semua bacaan akan dilakukan di kelas lanjutan. Komunitas Untuk meningkatkan dukungan, Reza mengembangkan komunitas. Baik pengembangan komunitas di kelas, Kuliah Keluarga Sakinah di Bandung, Bogor dan Jakarta, maupun pengembangan komunitas maya melalui [email protected] serta komunitas-komunitas di facebook. Reza yang dikenal orang sebagai ahli teknologi informasi tak pernah menyangka kehidupannya akan diabdikan untuk agama. Padahal dul ia tak bisa mengaji. Setiap mengaji, ia selalu duduk paling belakang dan malas-malasan memperhatikan guru. Pernah, suatu hari, ketika ia duduk di kelas lima SD, ustadz mengumumkan akan mengetesnya membaca QS Al Baqarah 1 5. Ia kaget lalu meminta temannya membacakan dan ia menghafalkannya. Ketika di tes, antara mulut, mata dan telunjuknya tidak sinkron. Bacaan sudah kemana, mata dan telunjuk masih dimana. "Saya baru serius belajar ketika di Bandung. Makanya saya tidak mau ada orang-orang seperti saya dulu," tuturnya | reni susanti
