Teknologi yang Membuat Kita Malas Membaca
Oleh : Reza Ervani
Hari ini penulis
menamatkan sebuah buku, 379 halaman, dalam sehari. Hanya sebuah buku
Novel Sherlock Holmes memang, tetapi menjadi istimewa, karena
kebiasaan ini sudah hampir lima tahun hilang rupanya. Kebiasaan
tenggelam dalam buku.
Dulu ketika SD, penulis
terbiasa menghabiskan waktu dengan buku-buku seperti ini. Hampir
semua karya Agatha Cristhie sudah penulis lahap ketika kelas 1 SMP,
sampai sebuah kejadian konyol – terjebak di perpustakaan PT. Timah
– sempat mewarnai hobi satu ini.
Belum lagi buku-buku Lima
Sekawan, Kho Ping Hoo, Hans Christian Anderson hingga Wiro Sableng,
juga menjadi sahabat akrab harian ketika kecil.
Ketika SMA dan kuliah,
buku-buku berat semacam tafsir Al Azhar Buya Hamka, buku-buku
biografi mulai menjadi menu sehari-hari. Tak lupa pula buku-buku
fiksi lokal dari Pramoedya Ananta Toer, NH Dini dan novel-novel
terjemahan dari Danielle Steel, Mark Twain, Sir Arthur Conan Doyle,
dan lain-lain.
Saat itu membaca terasa
begitu nikmat ...
Apa yang berbeda ?
Saat kami kecil, siaran
televisi sehari-hari hanyalah ada TVRI, itupun pukul 5 sore baru
mulai tayang. Belum ada komputer, belum ada internet, handphone dan
segala perangkat teknologi informasi dan komunikasi.
Saat kuliah pun, tidak
ada televisi di kosan. Handphone pun tak punya. Walau komputer ada,
dia belumlah secanggih saat ini.
Jadi pilihan untuk
menambah pengetahuan hanya satu … Membaca …
Lantas bagaimana hipotesa
bahwa internet dan segala teknologi informasi membuat kita mampu
belajar lebih cepat ?
Lebih cepat mungkin iya,
tapi lebih mendalam ? Penulis pribadi meragukan …
Teknologi Informasi dan
Komunikasi mungkin membuat kita banyak tahu, tapi susah untuk menjadi
spesialis di satu bidang.
Pengetahuan kita bak
ensiklopedi, tapi ia hanya sebatas lema, definisi-definisi singkat
tentang segala sesuatu.
Banyak yang hilang,
diantaranya adalah semangat menelaah, semangat mengkaji dan semangat
meneliti.
Kita anggap bahwa dengan
“Speed Reading” kita sudah bisa mengetahui banyak hal. Padahal
satu hal yang harus disertai saat proses membaca adalah merenung …
dan itu sama sekali tidak bisa kita lakukan dengan membaca secara
terburu-buru.
Begitu banyaknya
informasi yang bersileweran di sekitar kita, membuat kita sadar atau
tidak sadar, menjadi bingung dan mengalami distorsi informasi.
Menganggap semuanya penting, padahal tidak sama sekali.
Buku, dalam artian kertas
yang dijilid secara konvensional, bukan dalam bentuk elektronik,
tetap akan menjadi mata air pengetahuan yang tak tergantikan,
betapapun zaman bergeser.
Teknologi, seharusnya
tidak membuat kita menjadi makhluk yang malas membaca
Allahu 'Alam ...