Menakar Stamina Belajar Guru
Oleh : Reza Ervani

Dalam perjalanan melatih para guru, ada keasyikan tersendiri melihat
bagaimana cara para guru ini belajar, salah satunya adalah mengamati
rentang konsentrasi belajar para guru.

Secara kasar penulis mencatat bahwa rata-rata tingkat konsentrasi para
guru ini hanya berkisar 3 – 4 jam saja. Jadi, kalau sebuah pelatihan
satu hari diadakan dari pukul 09.00 s.d. 16.00, maka biasanya, usai
break makan siang, semangat untuk mengkaji hal-hal berat dan berbau
teknis akan mulai menurun. Pengecualian sering penulis dapati ada pada
guru-guru berusia muda. Guru-guru yang masih "segar" ini
biasanya memiliki stamina belajar yang lebih tinggi.

Uniknya, penulis menemukan bahwa sebenarnya jam pelaksanaan pelatihan
tidak berpengaruh. Contohnya, jika pelatihan dimulai pukul 11.00 siang,
maka konsentrasi para guru sudah akan menguap pada saat pukul 15.00,
atau menjelang sholat Ashar, bukan setelah sholat Zhuhur dan makan
siang.

Ini catatan kasar dan memang belum pernah diteliti secara resmi. Tapi
jika ini benar, mari kita coba lakukan sedikit analisa sederhana.

Rata-rata sekolah dimulai pada pukul 08.00 pagi, dan berakhir pada pukul
14.00 siang, atau sekitar 6 jam. Kita anggap jam istirahat sebagai waktu
yang dihitung pula. Berarti seorang siswa harus memiliki stamina belajar
sedikitnya 6 jam satu hari. Penulis sebut "sedikitnya", karena
biasanya para siswa ini pulang ke rumah, membawa "bekal" PR yang
setumpuk.

Kalau siswa ini adalah siswa yang rajin, taruh kata ia akan mengerjakan
PR-nya pada pukul 17.00 sore, dan beristirahat pada pukul 18.00 sore,
lalu dilanjutkan kembali seusai sholat Isya, sekitar pukul 19.30 hingga
21.00. Jika kita total, maka ia akan belajar diluar jam sekolah selama
2,5 jam, kita bulatkan saja menjadi 3 jam. Jadi seorang siswa yang baik,
harus memiliki stamina belajar setidaknya 6 + 3 jam = 9 jam, atau 9/24 =
37,5 % dari kehidupannya dalam satu hari. Anggaplah bahwa sinetron
televisi dan pacaran bukanlah budaya pelajar kita.

Jadi, jika seorang guru ingin "mengimbangi" stamina belajar para
siswanya, maka seharusnya para guru ini belajar setidaknya 9 jam satu
hari. Ini belum termasuk jika para guru ini ingin setara dengan para
siswa yang selalu "update" dengan berbagai informasi dari
internet, surat kabar, perpustakaan dan sumber informasi lainnya, maka
stamina belajar guru ini harus lebih tinggi. Belajar setelah sholat
malam, hingga menjelang saat sarapan pagi, mungkin bisa menambah jam
belajar guru.

Sekali lagi, ini adalah hitung-hitungan ideal ...

Masalahnya kemudian adalah ….

Sempatkah para guru ini belajar, setidaknya membaca buku atau surat
kabar, mengupdate informasi terbaru ilmu pengetahuan dari internet,
jurnal ilmiah dan perpustakaan ?

Mampukah para guru ini belajar, di tengah-tengah kesibukan mengurus
keluarga, melayani suami, membesarkan anak, atau menjadi tokoh
masyarakat ?

Maukah para guru ini belajar lebih banyak, padahal gaji tidak akan
bertambah hanya karena lebih pintar dari orang lain, padahal sertifikasi
sudah diterima, padahal tidak ada pujian dari kepala sekolah ?

Dengan rata-rata stamina belajar 3 – 4 jam, maka tampaknya hal ini
bukanlah sesuatu yang mudah bagi para guru.

Tapi masalahnya tidaklah pada mudah atau tidak mudah …

Jika stamina belajar para guru tidak dilatih menjadi baik, tampaknya
siswa (yang baik dan ingin sukses) harus mulai mencari sumber belajar
lain selain guru sekolah agar bisa menjadi lebih pintar.

Jika stamina belajar para guru sekolah tidak bertambah baik, maka para
guru ini tampaknya harus bersiap-siap pula menjadi sosok yang diabaikan
dalam siklus perkembangan ilmu pengetahuan …

Mau ?

Allahu 'Alam

14 September 2009, usai pelatihan Klub Guru Jawa Barat di MAN 1 Bandung



Kirim email ke