Salah satu tafsir dari al-Baqarah 185 - 189 itu menyebut "..hilaal adalah Bulan 
yang bentuknya sangat tipis sehingga mirip dengan sehelai benang yang 
melengkung..".

Jika kita merujuk pada data-data visibilitas yang valid dan reliabel, 
"..sehelai benang yang melengkung.." itu dibahasakan sebagai busur sabit 
bercahaya, dengan panjang busur (dalam derajat) berbanding terbalik terhadap 
diameter apparent Bulan saat itu dengan lebar sabit terlebarnya (keduanya dalam 
satuan menit busur) dan berbanding lurus dengan limit Danjon. Hilaal selalu 
memiliki panjang busur < 180 derajat, dan sejauh ini berdasarkan data 
pengamatan yang ada, panjang busur terkecilnya berada di sekitar 30 - 45 
derajat. Atas dasar inilah, apa yang dilihat cak Moeid di Condrodipo Gresik itu 
memang hilaal itu sendiri, karena teorinya (menurut Bradley Schaefer) pada 
senjakala itu hilaal sudah memiliki panjang busur 38 derajat.

Salam,


Ma'rufin




----- Original Message ----
From: Muhammad Zainudin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, August 30, 2008 6:51:58 AM
Subject: Apa Itu Hilal ---> Re: Hisab Rukyat Trap ---> Re: [ RHI ] Rukyat Minded


 
Sepertinya sekali lagi saya harus mohon maaf, nih Pak…
 
Untuk sedikit memberi gambaran yang lebih gamblang, mengapa
saya menghindar dari diskusi lebih jauh tentang definisi hilal, ada baiknya
saya ceritakan salah satu dari hasil renungan saya. Mudah-mudahan renungan ini
ada benarnya. Meski begitu saya tetap membuka kemungkinan adanya kesalahan. Dan
menjadi kewajiban Pak Ma’rufin dan saudaraku yang lain untuk meluruskannya.
 
Sebenarnya, di samping alasan empiris yang sudah saya sebut
sebelum ini, sebenarnya ada alasan lain yang lebih penting kenapa saya enggan
bicara ‘apa itu hilal’, yaitu alasan teologis.
 
Begini: Kita tahu adanya satu ayat di dalam Al-Qur’an yang
dengan jelas menyebut kata ‘hilal’. Ayat tersebut adalah QS. Al-Baqarah: 189 –
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hilal-hilal, katakanlah dia
itu tanda-tanda waktu untuk manusia dan (untuk) ibadah haji.”
 
Untuk memahami lebih jauh ‘ada apa dengan ayat ini’ (bukan
ada apa dengan ayat-ayat cinta lho…), agaknya kita perlu mengetahui tafsir yang
terkandung pada ayat ini, termasuk konteks yang melingkupinya (asbabun nuzul).
Di antara beberapa kitab tafsir, ada satu kitab tafsir yang relevan dengan tema
kita, yaitu tafsir Al-Manar karangan As-Syaikh Muhammad Rasyid Ridha. Kitab
tafsir ini ketika mengungkapkan asbabun nuzul ayat di atas menyatakan:
 
(Dari hadits), “dan dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu
Asakir dari jalan As-Sudy As-Shaghir dari Al-Kalby dari Abu Shalih dari Ibn
Abbas bahwa sahabat Muadz bin Jabal dan Tsa’labah bin Ghanimah bertanya: “Wahai
Rasulullah ada apa dengan hilal itu, ia muncul (pertama kali) tipis sekali
seperti garis lalu membesar hingga besar, separuhnya dan bundar kemudian tidak
berhenti (sampai di situ) ia menyusut dan menipis hingga kembali kepada bentuk
semula, (mengapa) tidak dalam satu bentuk saja?” Lalu turunlah ayat ini.
(As-Syaikh Muhammad Rasyid Ridha menerangkan: ) “Sungguh telah masyhur sebab
turunnya ayat ini karena Ulama Balaghah menempatkannya dalam permasalahan ‘ada
dan tidak adanya kesesuaian antara pertanyaan dan jawaban’. Mereka berpendapat
bahwa yang diinginkan oleh penanya adalah penjelasan sebab-sebab perubahan
bentuk yang biasa terjadi (pada hilal), namun jawaban datang tiada lain
menerangkan hikmahnya bukanlah menjelaskan ilatnya (peristiwa astronomis –
pen.), karena hal inilah yang menjadi obyek agama. Cocok sekali apa yang
disebut dalam ilmu balaghah dengan Uslubul hakim atau Al-Uslubul Hakim.” (lih.
Al-Manar II: 202)
 
Dari kutipan di atas, saya seolah
menangkap kesan adanya semacam keengganan Al-Qur’an untuk menjawab pertanyaan
sahabat Muadz dan Tsa’labah tentang ‘apa itu hilal?’. Al-Qur’an agaknya lebih
suka bicara hikmahnya (atau fungsi dan faedahnya: tanda-tanda waktu untuk
manusia dan ibadah haji). Inilah salah satu gaya khas Al-Qur’an dalam
menerangkan suatu masalah: lain pertanyaan, lain jawaban. Barangkali beginilah 
gaya
‘plesetan’ Al-Qur’an 14 abad yll.
 
Dengan demikian, jika Al-Qur’an
saja enggan bicara definisi hilal maka saya pun hanya mengamini saja. Dan waktu
pun sudah membuktikan: pikiran dan tenaga yang dikuras selama ratusan tahun pun
belum membuahkan hasil untuk menjawab secara pasti dan meyakinkan ‘apa itu
hilal’, padahal kita tahu (pada saat merukyat) bahwa hilal itu ya seperti yang
kita lihat itu…
 
Wallahu a’lam wa ahkam,
M.Z.

------------ --------- --------- --------- --------- 

 
Untuk Pak Ma’rufin dan saudara-saudaraku yang lain, menjelang
Ramadhan besok ini, ijinkan saya mohon maaf jika ada sikap dan corat-coret saya
yang tidak berkenan di hati. Marilah kita tegakkan bulan Ramadhan ini dengan 
memperbanyak
amal shalih. Selamatkan ibadah puasa kita! Siapa tahu ini Ramadhan terakhir
untuk kita…
 


----- Original Message ----
From: Muhammad Zainudin <[EMAIL PROTECTED] com>
To: rukyatulhilal@ yahoogroups. com
Cc: Pranoto Hidaya Rusmin <[EMAIL PROTECTED] com.sg>
Sent: Thursday, August 28, 2008 7:20:45 AM
Subject: Re: Hisab Rukyat Trap ---> Re: [ RHI ] Rukyat Minded


Maaf Pak, mungkin saya salah, tapi saya pribadi meragukan bahwa titik 
persoalannya pada"bagaimana definisi hilal". Pernyataan itu sudah sering saya 
dengar, umumnya datang dari para pakar astronomi kita (yang paling getol 
mengkampanyekan sebelum ini di antaranya Pak Thomas Djamaludin, Pak Hendro S, 
dsb.). Dulunya saya juga beranggapan seperti itu, tetapi akhirnya saya berpikir 
bahwa kalau kita masih berkutat pada "definisi hilal", kita hanya akan 
memperpanjang masalah ini yang sudah berjalan sekian ratus tahun, dan tidak 
akan bisa keluar darinya. Akhirnya dari hasil perenungan saya beberapa tahun 
ini mengatakan bahwa ini semua harus diakhiri.
Menurut saya, dengan "mengejar definisi hilal", sekali lagi kita terjebak pada 
putaran masalah "problematika rukyat" yang sudah saya kupas panjang lebar pada 
tulisan saya itu. Termasuk di dalamnya pencarian kriteria visibilitas hilal 
yang agaknya sulit akan mencapai titik temu. Oleh karena itu saya mengusulkan 
untuk meninggalkan sama sekali pola pikir "RUKYAT MINDED" yang sudah terlanjur 
menghinggapi kita.
Kalau sudah bisa meninggalkan pola pikir ini, maka 'rukyat' yang selama ini 
kita pahami sebagai bernilai ibadah (ta'abudi), mengikuti 'sunnah Nabi', dsb. 
kita ganti dengan 'observasi' yang bernilai duniawi. Dengan begitu, 'observasi' 
ini akan bernilai riset dimana persyaratan metode ilmiah harus dikedepankan. 
Oleh karenanya saya juga ikut mengkririk mereka yang berpaham HISAB (atau 
rukyat?), tetapi sama sekali tidak pernah melakukan riset dan observasi 
lapangan. Riset penting dilakukan untuk menyusun dan mengkaji ulang pemodelan 
atau postulat hisabnya.
Observasi tidak lagi ingin melihat hilal, tetapi bertujuan untuk mengetahui 
manzilah Bulan dan Matahari sebagai dasar perhitungan waktu-waktu dan 
penyusunan kalender kamariah sebagaimana isyarat kuat dari Al-Qur'an. Observasi 
yang kita lakukan tidak lagi mengintip hilal setiap awal bulan kamariah, tetapi 
hari-hari lain justru penting dilakukan untuk mengetahui posisi 
(manzilah/konstelas i) Bulan dan Matahari setiap saatnya.
Allahu a'lam,
M.Z.



----- Original Message ----
From: Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED] com>
To: rukyatulhilal@ yahoogroups. com
Cc: Pranoto Hidaya Rusmin <[EMAIL PROTECTED] com.sg>
Sent: Wednesday, August 27, 2008 9:11:53 AM
Subject: Hisab Rukyat Trap ---> Re: [ RHI ] Rukyat Minded


Singkat saja...

Sering kita terjebak pada mana yang lebih baik, mana yang lebih syar'i : hisab 
atau rukyat? Sementara esensi persoalannya justru tidak berada di ranah itu, 
pak Zainuddin.

Titik utama persoalannya pada bagaimana definisi hilaal itu sendiri, yang 
sampai sekarang belum ada titik temunya di antara berbagai kalangan. Kenapa ? 
Maaf, dalam pandangan saya pribadi, ini lebih karena : 

        * Kita tidak memahami esensi kalender Hijriyyah secara lebih mendalam 
(mohon maaf, contoh aktualnya ya pak Pranoto ini).
        * Kita tidak/jarang mendokumentasikan hasil observasi dan juga jarang 
melakukan observasi.
        * Dan sebagai konsekuensi dari keterbatasan data hasil observasi kita, 
kita berpegang pada asumsi atau hipotesis (bukan konklusi yang valid dan 
reliabel). Saya ambil contoh, misalkan saja Majelis Tarjih PP Muhammadiyah 
ataupun lembaga2 hisab ormas lainnya yang memakai kriteria wujudul hilaal 
menggunakan definisi hilaal : Bulan pasca konjungsi lebar sabit dan ketinggian 
(altitud)nya memenuhi parameter Odeh atau Yallop, untuk melengkapi postulat 
yang ada selama ini (ketika Bulan terbenam lebih lambat dari Matahari), 
sebenarnya persoalan sudah selesai. Simpel bukan? Sebab baik di-hisab ataupun 
di-rukyat hasilnya akan sama saja, karena data-data pengamatan bulan sabit 
(hilaal) sejak 2.500 tahun silam sampai sekarang memang menghasilkan konklusi 
seperti itu 

Hanya saja, maukah kita berpegangan pada data, bukan sekedar pada asumsi? 
Meskipun sejatinya kita berada di agama yang paling rasional (coba bandingkan 
tauhid Islam dengan konsep sejenis di agama lain), namun realitasnya kita 
jarang menggunakan data. Silahkan ditanyakan ke diri kita masing-masing. 
Membenturkan hisab vs rukyat, itu sebuah trap (jebakan) yang membuat kita makin 
jauh dari persoalan utamanya.

Salam,


Ma'rufin


    


      

Kirim email ke