Dan dalam hal pendaratan manusia di Bulan, jangan dilupakan satu tokoh penting, 
genius yang berada di belakangnya, tulang punggung seluruh program antariksa 
NASA pada 1950-1960an : Wherner von Braun. Tanpa ketekunan dan kejeniusannya, 
mungkin manusia baru mendarat di Bulan pada 2020 mendatang.

Salam,


Ma'rufin




________________________________
From: Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; Rukyat <[email protected]>; Fisika <[EMAIL 
PROTECTED]>
Sent: Wednesday, October 29, 2008 5:43:16 AM
Subject: [ RHI ] Re: Pendaratan di bulan, benarkah ?


Komunikasinya tetep ada jeda-lah. Secara teori (jika mengacu jarak saja), ada 
jeda 1 detik-an, namun dalam praktiknya ada jeda sekitar 10 detik. Ini bukan 
hal yang aneh dalam komunikasi satelit, karena hal yang sama juga dialami 
seperti misalnya jika kita berkomunikasi dengan memanfaatkan jaringan satelit 
yang diorbitkan di orbit GEO (Geostationer Earth Orbit) yang 35.880 km dari 
permukaan Bumi itu. Kalo lewat jaringannya Iridium yang LEO (Low Earth Orbit) 
alias hanya 2.000 km memang tidak begitu terasa. Karena ada jeda begitu, 
terlebih komunikasinya berlangsung antar satelit, maka salah satu 
penyiasatannya dengan kalimat-kalimat yang pendek. 

Untuk menyiasati ketiadaan atmosfer, para astronot di Bulan mengenakan baju 
khusus yang berfungsi sebagai pelindung sekaligus "atmosfer" mini. Baju ini 
melindungi pemakainya dari panas (karena radiasi inframerah Matahari), radiasi 
keras (ultraviolet) , radiasi pengion (sinar X, proton, elektron dan neutron 
energetik) serta benturan mikrometeorit. Baju ini terdiri dari 3 lapis, katun 
(yang terdalam), dilapis kevlar dan jalinan serat kevlar + karet sebagali 
lapisan terluar. Baju ini memberikan perlindungan selama minimal 6 jam 
berturut-turut, disesuaikan dengan aktivitas EVA (extra vehicular activities) 
di Bulan yang rata-rata menghabiskan waktu 6 jam. Baju ini juga dilengkapi 
dengan tanki oksigen, tanki cadangan, penyerap karbondioksida dan penampung 
urine.

Menembus sabuk radiasi van Allen ? (Maaf diralat, yang benar namanya van Allen, 
kalo van Halen itu nama rocker). Untuk melewatinya ya tetap duduk manis di 
dalam wahana antariksa lah. Sabuk radiasi ini, berdasarkan riset Explorer 1, 
Sputnik 3 dan satelit2 lainnya, itu kan merupakan tempat elektron dan proton 
terjebak. Keduanya merupakan radiasi partikel bermuatan, sehingga penanganannya 
sebenarnya relatif lebih mudah dibanding jika misalnya kita menghadapi radiasi 
tak bermuatan macam foton gamma maupun neutron. Kajian menunjukkan jika wahana 
antariksa dilapisi dengan timbal (timah hitam) setebal 3 mm saja, dosis radiasi 
yang diterimanya saat melewati sabuk van Allen sebesar 2.500 rem/tahun. Karena 
wahana antariksa melintasi sabuk van Allen paling banter hanya dalam setengah 
jam saja, maka bisa kita perhitungkan bahwa radiasi yang diterimanya hanyalah 
sebesar 0,14 rem. Ini tidak bermasalah, karena ambang batas radiasi yang bisa 
diterima tubuh tanpa
 mengakibatkan efek berarti itu sebesar 50 rem. Jika timbalnya ditebelin, tentu 
radiasi yang diterima wahana antariksa (dan juga penumpang didalamnya) akan 
lebih kecil lagi.

Salam,


Ma'rufin




________________________________
From: dion_azani <[EMAIL PROTECTED] com>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, October 28, 2008 5:04:46 PM
Subject: [astronomi_indonesi a] Re: Pendaratan di bulan, benarkah ?


Rekan2, maksud saya komunikasi astronot di bulan dengan di bumi tidak
ada jeda sama sekali, seharusnya paling tidak ada jeda meskipun bukan
jeda seperti halnya berbicara dengan walkie-talkie. Mohon koreksi-nya.

Kalau tidak keberatan, saya ingin bertanya tentang hal-hal berkaitan
pendaratan tersebut:

1. Di Bulan tidak ada atmosfer, artinya tidak ada yang menahan sinar
matahari. Bagaimana astronot disana menyiasati hal tersebut ? Mohon
pencerahannya.

2. Bagaimana dengan radiasi sabuk Van Hallen, bagaimana menyiasati hal
tersebut ?

Terima kasih atas jawaban rekan2. 

--- In astronomi_indonesia @yahoogroups. com, Ma'rufin Sudibyo
<[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
>
> Ikut nimbrung, tulisan saya yang pake warna biru
> 
> 
> 
> 
> ____________ _________ _________ __
> From: dion_azani <dion_azani@ ...>
> To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
> Sent: Monday, October 27, 2008 6:58:47 PM
> Subject: [astronomi_indonesi a] Re: Pendaratan di bulan, benarkah ?
> 
> 
> Begini mas, teknologi yang saya maksud adalah teknologi komunikasi.
> Saya ingn tahu, teknologi apakah yang dipakai untuk berkomunikasi
> antara astronot di Bulan dan Bumi ? Pada tahun yang sama, 1969 proyek
> ARPANET baru dimulai. Memang beberapa wahana yang dikirim ke luar
> angkasa (bulan) mampu mengirimkan data-data fotografi tetapi apakah
> sudah mampu mengirimkan data voice (suara) ? Maaf mas, saya hanya
> ingin tahu saja ?
> 
> Sepanjang yang pernah saya baca, transmisi data (suara dan gambar)
dalam misi-misi Apollo ke Bulan salah satunya dibantu oleh satelit
komunikasi yang ditempatkan di antara orbit Bumi - Bulan. Tentu saja
sinyal dari satelit ini lantas disambungkan ke satelit komunikasi
geostasioner di orbit Bumi untuk kemudian baru diterima pusat kendali
misi. Ini sama saja dengan komunikasi dari pesawat-pesawat ulang alik
yang sedang mengorbit, misalnya, yang juga selalu direlay oleh satelit
geostasioner NASA, misalnya TDRS.
> Jadi memang komunikasinya tidak langsung dari Lunar Module ke Bumi.
Indikasi penggunaan satelit komunikasi di antara orbit Bumi-Bulan
nampak dari fakta bahwa sinyal dari Lunar Module Apollo 11, selain
diterima di Goldstone Radio Telescope di Arizona, juga diterima oleh
Honeysucke Creek Tracking Station dan Parkes Radio Telescope di
Australia. Bahkan sinyal di Australia itu lebih baik.
> 
> Saya membaca bahwa NASA berdiri pada tahun 1958 dan proyek pendaratan
> manusia (astronot) di bulan dicanangkan pertama kali pada tahun 1961
> (oleh Presiden John F. Kennedy). 
> 
> AS berhasil mengirimkan wahana untuk melakukan pendaratan lunak pada
> 1966. Setahun kemudian, sebuah wahana AS lainnya berhasil mengirimkan
> gambar TV (ini pake Voice nggak ?) pertama dari permukaan bulan.
> Puncaknya terjadi pada 17 Juli 1969, ketika AS berhasil mendaratkan
> astronotnya ke Bulan.
> 
> Apollo 11 sendiri berangkat pada bulan Juli 1969, setelah melalui
> proyek2 Apollo sebelumnya. Jadi saya merasa, apa tidak terlalu sangat
> singkat tiba2 saja Apollo 11 berhasil mendaratkan manusia di bulan ?
> Kira-kira faktor apakah yang membuat hal tersebut memungkinkan ?
> 
> Sama saja, saya juga kadang sering merasa heran, jika di 2004 - 2005
saja memiliki USB flashdisk 128 MB adalah sebuah 'kemewahan', koq
sekarang dah punya yang 4 GB hanya dalam tempo 3 tahun. Sama juga, 10
tahun silam sudah merasa cukup puas dengan Pentium 100 dan RAM 32 MB,
sekarang dah ngerasain dual core dengan ram giga-gigaan. Namun, jika
bicara teknologi komunikasi dan informasi, mari ingat kembali hukum
Moore ala Intel : kecepatan prosessor akan berlipat dua hanya dalam
waktu 18 bulan. Saya rasa analogi ini cukup membantu.Dalam hal
teknologi antariksa, juga nyaris sama. Jika pada 1921 saja baru
Robbert H. Goddard yang bisa menerbangkan roket, itupun roket kecil
dengan jangkauan terbatas, apa mungkin jika 10 tahun kemudian Jerman
(dibawah Adolf Hitler, dan khususnya lagi dibawah pengembangan oleh
Jenderal Walter Dornberger dan Wherner von Braun) sudah mampu membuat
roket raksasa dan bahkan mengujianya secara massif di Stasiun
Penyelidikan Roket
>  Peneemunde, sebelum kemudian roket raksasa ini (roket A-4/V-2)
mengambil peranan dalam Perang Dunia 2 sebagai misil balistik pertama
di dunia yang cukup menggetarkan? "Akal sehat" kita akan bilang tak
mungkin lah, hanya 10 tahun. Namun jika anda baca memoar Dornberger
tentang ini (judulnya V2 dan Hitler, dibahasa Indonesiakan pada 1989),
sebenarnya semua terasa wajar saja. 
> 
> 
> Menilik proyek Mars (pendaratan manusia di planet Mars) saja
> memerlukan studi riset yang cukup lama sebelum memutuskan pendaratan
> manusia di Mars. Apakah data-data selama proyek pendaratan di Bulan
> tidak bisa digunakan oleh proyek pendaratan manusia di Mars ?
> Sedikit koreksi, manusia belum mendarat di Mars. Dan pendaratan di
Bulan sendiri sebenarnya mengikuti "metode" trial and error. Bener
pada saat itu jarak Bumi dan Bulan sudah bisa diprediksi dengan lebih
teliti lagi sehingga melahirkan persamaan-persamaan jarak dalam fungsi
waktu. Namun persoalan radiasi, termasuk radiasi di antara Bumi -
Bulan dan radiasi dari permukaan Bulan sendiri, belum banyak diteliti.
Pendaratan manusia di Bulan membuka jendela tentang penelitian itu.
Matinya seismometer- seismometer yang ditempatkan di Bulan setelah
sukses beroperasi selama rata-rata 10 tahun, salah satunya menunjukkan
ada problem pada radiasi di permukaan Bulan.
> 
> Salam,
> 
> Ma'rufin
>


    


      

Kirim email ke