Yup, memang, jika menggunakan teknologi pada saat misi Apollo dijalankan, saat itu tidak tersedia pilihan untuk mengamankan peralatan elektronis portable dari gempuran radiasi kecuali dengan membungkusnya dalam selimut khusus (yang sekali lagi, juga mengandung timbal). Namun pada saat ini, masalah ini bisa diatasi dengan melakukan soft error pada komponen2 semikonduktor dalam peralatan elektronis tersebut. Maksudnya, pada prosesornya misalnya, atau pada IC-nya, diberi impurities (pengotor) ketika dalam pembuatannya. Sebab dengan cara ini komponen itu jadi relatif lebih tahan terhadap radiasi.
Misi Mars Pathfinder 1997 yang menerjunkan robot rover Sojourner di permukaan Mars mungkin bisa menjadi contoh dari aplikasi teknik ini. Sojourner rover hanyalah sebesar box Sarimi, ditenagai sinar Matahari lewat solar cell-nya, namun juga membawa satu unit RHU (Radioisotope Heater Unit) sebagai sumber panas untuk menghangatkan komponen2 elektronik didalamnya agar bekerja optimal. Meski berbasis Plutonium-244 yang pemancar alfa murni, benturan partikel alfa dengan selongsongnya tentu saja menciptakan radiasi gamma. Di sisi lain, Sojourner juga dihujani guyuran sinar kosmis dari antariksa karena atmosfer Mars tidaklah sekuat atmosfer Bumi dan tidak dideteksi keberadaan sabuk radiasi di Mars (mohon diralat jika ini tidak tepat). Meski demikian, rover mungil ini mampu bertahan beroperasi hingga 4 bulan. Ia baru "mati" gara2 terjadinya badai pasir di lokasinya, yang kemungkinan besar menguburnya sehingga kehabisan tenaga. Mendaratkan rover di Bulan? Ayuk ! Salam, Ma'rufin ________________________________ From: Anton William <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, October 30, 2008 5:36:53 AM Subject: Re: [astronomi_indonesia] Re: Pendaratan di bulan, benarkah ? sabuk van allen itu ga cuma satu, ada dua. ada sabuk bagian dalam dan ada sabuk bagian luar. yang radiasinya paling kuat dan berbahaya itu sabuk bagian dalam. beruntungnya sabuk bagian dalam itu ga terlalu tebal sehingga astronot ga akan terlalu lama berada di dalam sana... selama satu kali misi apollo, astronot akan mendapat total radiasi sekitar 1 rem. ini sama saja dengan radiasi sejenis yang diterima manusia yang tinggal di permukaan laut selama tiga tahun. jadi ga berbahaya. ilmuwan apollo juga memikirkan jalur terpendek yang paling mungkin untuk melewati sabuk bagian dalam. setelah apollo lepas dari sabuk bagian dalam maka radiasi yang diterima akan menurun secara drastis. yang agak beresiko itu adalah instrumen elektronik yang memang rentan terhadap radiasi yang ada disabuk van allen. kalau komputer yang anda miliki dibawa ke luar angkasa tanpa perlindungan maka dalam belasan detik komputer itu sudah menjadi sampah :P. ilmuwan apollo menyiasatinya dengan membungkus instrumen elektronik tersebut dengan material khusus sehingga amanlah instrumen elektronik tersebut. hal yang sama juga dilakukan terhadap film emulsi yang dibawa oleh apollo. misi apollo yang mendaratkan manusia ke permukaan bulan adalah misi apollo 11. sebelum apollo 11 ini sudah ada misi-misi apollo lainnya yang melakukan pengujian kemampuan roket saturn V, pengujian re-entry, pengujian lunar orbit rendezvouz, pengujian kemampuan mengorbit bulan, dll. jadi apollo ga langsung berhasil, ada serangkaian ujicoba penting yang membuat mereka bisa ke bulan. kalau saya ga salah, misi "apollo 1" gagal, menewaskan 3 astronot. apollo 8 adalah misi pertama membawa awak sekaligus melakukan streaming video --komunikasi dilakukan dalam panjang gelombang radio. ketika itu mereka menguji kemampuan modul komando untuk mengorbit bulan. saat mengorbit bulan, apollo 8 menayangkan permukaan bulan, biar lebih dramatis astronot membacakan ayat bibel :P. misi ini terbukti sukses dan mengangkat popularitas misi apollo. berikutnya adalah misi apollo 10 yang juga melakukan streaming melalui televisi. wajar jadinya kalau streaming televisi pada misi apollo 11 adalah hal yang biasa, mengingat pada misi-misi sebelumnya streaming sudah diujicobakan. pada misi apollo 11 streaming di permukaan bulan masih menggunakan video hitam-putih. kalau masih penasaran dengan misi apollo silahkan kunjungi halaman-halaman berikut: http://www.badastro nomy.com/ bad/tv/foxapollo .html http://history. nasa.gov/ apollo.html (ada buku2 yang bisa dibaca secara online) kalau ada yang tertarik silahkan ikuti kompetisi mendaratkan wahana ke permukaan bulan yang diselenggarakan google http://www.googlelu narxprize. org/ anton w. --- On Wed, 10/29/08, Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED] com> Komunikasinya tetep ada jeda-lah. Secara teori (jika mengacu jarak saja), ada jeda 1 detik-an, namun dalam praktiknya ada jeda sekitar 10 detik. Ini bukan hal yang aneh dalam komunikasi satelit, karena hal yang sama juga dialami seperti misalnya jika kita berkomunikasi dengan memanfaatkan jaringan satelit yang diorbitkan di orbit GEO (Geostationer Earth Orbit) yang 35.880 km dari permukaan Bumi itu. Kalo lewat jaringannya Iridium yang LEO (Low Earth Orbit) alias hanya 2.000 km memang tidak begitu terasa. Karena ada jeda begitu, terlebih komunikasinya berlangsung antar satelit, maka salah satu penyiasatannya dengan kalimat-kalimat yang pendek. Untuk menyiasati ketiadaan atmosfer, para astronot di Bulan mengenakan baju khusus yang berfungsi sebagai pelindung sekaligus "atmosfer" mini. Baju ini melindungi pemakainya dari panas (karena radiasi inframerah Matahari), radiasi keras (ultraviolet) , radiasi pengion (sinar X, proton, elektron dan neutron energetik) serta benturan mikrometeorit. Baju ini terdiri dari 3 lapis, katun (yang terdalam), dilapis kevlar dan jalinan serat kevlar + karet sebagali lapisan terluar. Baju ini memberikan perlindungan selama minimal 6 jam berturut-turut, disesuaikan dengan aktivitas EVA (extra vehicular activities) di Bulan yang rata-rata menghabiskan waktu 6 jam. Baju ini juga dilengkapi dengan tanki oksigen, tanki cadangan, penyerap karbondioksida dan penampung urine. Menembus sabuk radiasi van Allen ? (Maaf diralat, yang benar namanya van Allen, kalo van Halen itu nama rocker). Untuk melewatinya ya tetap duduk manis di dalam wahana antariksa lah. Sabuk radiasi ini, berdasarkan riset Explorer 1, Sputnik 3 dan satelit2 lainnya, itu kan merupakan tempat elektron dan proton terjebak. Keduanya merupakan radiasi partikel bermuatan, sehingga penanganannya sebenarnya relatif lebih mudah dibanding jika misalnya kita menghadapi radiasi tak bermuatan macam foton gamma maupun neutron. Kajian menunjukkan jika wahana antariksa dilapisi dengan timbal (timah hitam) setebal 3 mm saja, dosis radiasi yang diterimanya saat melewati sabuk van Allen sebesar 2.500 rem/tahun. Karena wahana antariksa melintasi sabuk van Allen paling banter hanya dalam setengah jam saja, maka bisa kita perhitungkan bahwa radiasi yang diterimanya hanyalah sebesar 0,14 rem. Ini tidak bermasalah, karena ambang batas radiasi yang bisa diterima tubuh tanpa mengakibatkan efek berarti itu sebesar 50 rem. Jika timbalnya ditebelin, tentu radiasi yang diterima wahana antariksa (dan juga penumpang didalamnya) akan lebih kecil lagi.

