Apakah Nabi Muhammad Saw. merokok........?

wallu'alam. sampai detik ini sejauh pengetahuan saya belum ada satupun dokumen 
yang mendokumentasikan hal ini. bahkan dalam beberapa hadits pun rokok tidak 
disinggung, tidak seperti minuman keras dan lain-lainnya.

dibandingkan kemanfaatannya merokok memang jauh lebih besar kemudharatannya. 
Sebab hal inilah yang membuat rokok menjadi haram. Diluar itu sebenarnya 
merokok bisa saja bersifat netral, dalam artian mubah; sebab ia tidak 
memabukkan (membuat lupa diri), jika dikonsumsi secara wajar (hanya penghangat 
saja misalnya). Tapi karena itu tadi, manfaat lebih kecil dibanding dampak 
jeleknya maka ia jatuh kedalam wilayah haram.

Sampai saat ini saya belum menemukan data sejarah yang valid mengenai kapan 
rokok pertama kali ditemukan. Hanya ada beberapa artikel yang menyebutkan bahwa 
rokok pertama kali dilakukan oleh orang
Indian penduduk asli Amerika; keperluan pemujaan dewa/roh. Setelah
Benua amerika dijelajahi orang eropa, mereka mencoba menirukan orang
indian menghisap tembakau dan membawanya sebagai lifestyle baru di
Eropa. sejak saat itu bersamaan dengan penjajahan bangsa2 eropa ke
seluruh dunia, rokok ikut tersebar pula ke seluruh dunia.

Jika data ini benar, maka masa dimana ketika rokok ini pertama kali ditemukan 
jauh terjadi setelah masa hidup Nabi. Bahkan kita tahu bahwa benua amerika 
sendiri baru ditemukan setelah kebudayaan eropa muncul terlebih dahulu. Orang 
Spanyol dan inggrislah yang pertama kali menemukan benua baru ini.

Dalam konteks Indonesia, dikenal rokok kretek. Konon jenis rokok ini merupakan 
varian lain dari rokok sebagaimana ditemukan sebelumnya.Rokok Kretek adalah 
jenis rokok  yang mengandung campuran cengkeh dalam racikan
tembakaunya. Karena cengkeh merupakan tanaman asli indonesia, maka
rokok kretek banyak ditemukan pertama kali di indonesia.

Menurut cerita, rokok kretek ditemukan di Kudus, Jawa Tengah, oleh seseorang 
yang bernama Djamari
menjelang berakhirnya abad ke-19. Pada masa itu sudah menjadi kebiasaan
pria ataupun wanita merokok. Tak banyak sumber yang mengatakan
bagaimana profil Djamari sang penemu rokok kretek tersebut. dikisahkan
Djamari awalnya mengalami nyeri di dada, kemudian dia mengoleskan
minyak cengkeh dan sakit di dadanya tersebut mulai berkurang, dan
Djamari akhirnya mulai mencoba mencampurkan cengkeh pada racikan
tembakau yang akan dirokok dan sakitnya bisa hilang.
Sembuhnya Djamari menjadi berita yang hangat dari mulut ke mulut, juga
tentang resep barunya dengan menambahkan cengkeh pada rokok. akhirnya
mereka menyebut resep Djamari dengan rokok kretek, karena ketika
dibakar rokok dengan campuran cengkeh berbunyi
“kreettekkkkrettteeekkk”. namun sayang penemu rokok kretek ini tidak
banyak lagi meninggalkan kisah dan cerita hidupnya (briliano.wordpress.com)
ROKOK DIMATA PENGGUNA


rokok dimata penggunanya tidak hanya berfungsi sebagai life style ataupun 
peneguh identitas. lebih jauhnya rokok pun memiliki fungsi psikologis, 
disamping biologis. Chiki - sebut saja demikian - salah seorang kawan saya, 
fotographer cewek di kantor saya, justru menemukan mood nya jika sebatang Lucky 
Strike mengepul di mulutnya. Menurutnya photo yang dihasilkan ketika merokok 
jauh lebih dapet (istilahnya untuk menyebut hasil photo yang berkualitas) 
dibanding jika tidak merokok.

Tentu saja dampak ini menurut saya lebih bersifat psikologis dimana sugesti 
kepercayaan diri Chiki lebih kuat jika mengulum rokok. Hasil jepretannya pun 
terlihat maksimal.

dan andaikata rokok haram dalam versi ini, maka ibunya di rumah harus 
mengencangkan ikat pinggang. Sebab sistem penggajian di kantor saya didasarkan 
atas produktifitas dan kualitas. Bisa dibayangkan jika karena Chiki tidak 
merokok, maka dalam sebulan bisa jadi penghasilannya setengah dari penghasilan 
utuh biasanya. Perlu diketahui, teman saya itu menjadi tumpuan pencari nafkah 
di keluarganya sepeninggal ayahnya.

Bijaknya permasalahan rokok ini memang disikapi secara arif. Habbit yang sudah 
terlanjur dilakukan memang sulit untuk berhenti. Merokok memang bukan termasuk 
habbit yang bagus. Namun melarangnya sampai ketingkat haram pun bukanlah solusi 
terbaik, bahkan menurut saya A Historis.
Ribuan bahkan jutaan orang menggantungkan hidupnya dari rokok. Mulai dari para 
pekerja tembakau, pelinting rokok di pabrik, distrubutor, agen, toko bahkan 
hingga para penjual rokok di pinnggir jalan menggantungkan nasibnya dari 
berjualan rokok. Sekarang coba bayangkan jika mata rantai ini diputus, ladang 
mencari nafkah satu-satunya hilang, maka krisis sosial kan melonjak
Belum lagi kontribusi dari perusahaan rokok itu sendiri. Sebut saja dalam hal 
ini PT. DJarum Indonesia. Terus terang saja, sampai saat ini saya penikmat bola 
Indonesia, khususnya Indonesia Superleague. Keberlangsungan kompetisi sepakbola 
tertinggi di negeri ini bergantung dari pendanaan Produsen rokok ini. 
Sebagaimana diketahui, dua tahun belakangan ini PT. Djarum menjadi sponsor 
tunggal liga sepakbola. Jika pabrik ini ditutup, maka tentu saja saya orang 
pertama yang merasa dirugikan.
Tak jauh beda dengan sepakbola, dalam dunia bulutangkis pun demikian. Kontingen 
olimpiade di beijing kemarin jelas-jelas didanai PT. Djarum. Dan hasilnya kita 
mendapatkan satu medali emas.

Belum lagi misalnya sampoerna, yang mengadakan beasiswa. Puluha teman saya yang 
tidak mampu akhirnya dapat mengecap manisnya wisuda di Universitas Padjadjaran 
Bandung. Bahkan kini dikontrak dan disalurkan untuk bekerja di 
perusahaan-perusahaan ternama.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, Rokok dan industrinya masih 
dibutuhkan. Saya katakan demikian, agar kita tidak terjebak dalam hipokrisi. Di 
satu sisi dicela dan diharamkan, namun disisi lain turut menikmati dari efek 
berantai keberhasilan industri rokok.

Bersambung........






















      

Kirim email ke