taken from 
http://lifeandmakelife.multiply.com/journal/item/46/Memang_bukan_salah_si-Sajadah..
smg bermanfaat ^_^

**********************



Umar Bin Khattab masih tak percaya mendapatkan berita yang ia terima. Pemimpin 
pasukan perang untuk merebut kota Palestina mengabarkan bahwa kondisi pasukan 
umat Islam sudah tidak sanggup lagi menghadapi pasukan lawan. Ia meminta 
tambahan pasukan agar dapat menambah kekuatan tentara Islam. 

Benarkah?
Umar meragukan berita tersebut. Bukan berarti ia tidak percaya terhadap
sang komandan perang, terlebih seorang komandan pastilah termasuk insan
pilihan, bukan? Bukan pula karena berita yang diterimanya itu tidak
sesuai yang ia harapkan. Namun keraguan nya lahir dari mata hatinya
yang bersih, ia memiliki bashiroh bahwa ada sesuatu yang salah dalam
proses peperangan tersebut. Kesalahan yang membuat Rahmat dan
keberkahan dari Allah jauh dari kemenangan Umat Muslim.


Akhirnya,
ia pun memutuskan untuk menyusul para pasukan Islam ke medan
pertempuran. Sendiri. Tanpa membawa pasukan tambahan, walaupun hanya
satu-dua-orang tambahan. Sesampainya di sana, pertama kali yang ia
lakukan adalah mengecek barisan sholat para jamaah. Dan benar saja,
ditemukannya shaf sholat yang berantakan, jauh dari kerapatan dan
kerapihan shaf yang seharusnya. Longgar, bengkok, tak sedap dipandang.
Inilah pangkal masalahnya. Umar pun meluruskannya dan meminta para
pasukan memperhatikan shaf sholat mereka.

Unik benar
memang cara berpikir Umar, ia tidak mencari tahu terlebih dahulu apakah
pedang para pasukan sudah diasah belum, atau ia juga tidak mengecek
bagaimana latihan perang para pasukan. Namun, ia cukup terpikir
bagaimana shaf sholat para pasukan ketika berjamaah. Dan ternyata
memang benar, setelah para pasukan memperbaiki shaf sholat, Gerbang
Palestina pun dapat dengan mudah mereka masuki. Subhanallah..

Jadi, masihkah kerapihan shaf sholat dianggap tidak penting?
Bahkan
Rasulullah pun selalu mengecek secara seksama barisan para jamaah
sholat. Tak tanggung-tanggung, Beliau tak segan-segan untuk menaiki
mimbarnya agar dapat memantau barisan shaf di belakang. "Rapikan (rapat
dan lurus) shaf kalian, sesungguhnya shaf termasuk bagian menegakkan
sholat" (HR. Bukhori), ucap Beliau.

Yapp..
sebab shaf yang longgar bukan hanya menjadi tempat gratis untuk makhluk
lain (baca: Setan) menggoda sang makmum ketika sholat, namun juga
menjauhkan Rahmat Nya Allah SWT. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Ibnu Umar rodhiyallohu'anhuma menyatakan, Rasulullah shallallahu
'alaihi wassalam bersabda, "Rapikanlah shaf, sejajarkan antara bahu,
penuhi yang masih kosong (masih longgar), bersikap lunaklah terhadap
saudara kalian dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk setan.
Barangsiapa yang menyambung shof, Alloh akan menyambungnya dan barangsiapa yang 
memutus shaf, Allah akan memutusnya." (HR. Abu Dawud no.666).


Adapun
sifat dan tata cara merapikan shaf telah tercantum dalam banyak hadits.
Diantaranya sebuah hadits dari Nu'man bin Basyir radhiyallahu'anhu,
beliau berkata, "Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam pernah
menghadap manusia dengan wajahnya seraya mengatakan, Rapikanlah
shaf-shaf kalian (3x). Demi Allah, kalian merapikan shaf kalian, atau
kalau tidak maka Allah akan menjadikan perselisihan diantara hati
kalian.' Nu'man berkata, 'Lalu saya melihat seorang merapatkan bahunya
dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya
dengan mata kaki temannya." (HR. Abu Dawud no. 662)


      

Kirim email ke