Saya termasuk orang yang meyakini bahwa terdapat muatan lain dibalik sesuatu yang wujud.
Sebagaimana diketahui, budaya bangsa Arab ketika wahyu diturunkan dan ketika hadits banyak dibukukan lekat dengan tamsil, perumpamaan dan amtsal. Hingga banyak ayat ataupun hadits yang pada permukaannya menyentuh wujud namun esensinya menyentuh sesuatu yang lebih dalam; nilai-nilai luhur. Perintah merapikan shalat sewajarnya dipahami pada tataran esensi, sebagaimana memahami keutamaan shalat berjamaah. Dalam hadits yang dikutip pada bagian akhir, jelas tertera keutamaan merapikan shalat/shaf dengan merapikan barisan, bersinggungan bahkan bersentuhan tidak lain sebagai cara untuk merekatkan tali ummat Demi Allah, kalian merapikan shaf kalian, atau kalau tidak maka Allah akan menjadikan perselisihan diantara hati kalian.' Nu'man berkata, 'Lalu saya melihat seorang merapatkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya. Kuncinya terletak pada 'perselisihan diantara hati kalian'. Merapikan shaf merupakan anjuran/perintah yang berwujud, namun esensinya adalah pertalian antar ummat; akhlak dan nilai-nilai luhur dalam membina hubungan sosial. Sama halnya dengan keutamaan sholat berjamaah, dimana dalam sholat berjamaah intensitas untuk bertatap muka sesama saudara seiman, bersalaman bahkan saling memaafkan lebih besar tinimbang sholat sendirian dirumah. Sejauh pemahaman saya terhadap agama yang agung ini, ibadah ritual adalah wilayah private yang hanya Allah dan diri kita sendiri yang tahu. Maka bukan kepatutan kita untuk menakar sejauh mana tingkat kesalehan seseorang, termasuk dari sholatnya sekalipun. Justru tingkat kedekatan dengan Allah akan terlihat dari akhlak yang terpancar di luar, dalam membina hubungan manusiawi; bagaimana cara dia bersikap, belajar, beramal bahkan berprestasi. Maka sungguh, keterangan yang anda sebutkan bahwa keberhasilan tentara Ummar diakibatkan keretakan dan kelalaian dalam shaf sholat hampir dipastikan mustahil. Ada sistem (bisa dikatakan hukum Allah) yang mengatur sebab dan akibat di dunia ini. Ada musabab sebelum terjadi akibat. Dalam peperangan semasa Rasul pun pertolongan Allah mengejawantah kedalam taktik, strategi peperangan yang tepat yang dipraktekan oleh Rasulallah bersama para pejuang islam dahulu. Bijak kiranya agar kita tidak terjebak pada simplifikasi. Seperti banyak keterangan lain (yang juga menurut sebagian ulama dhoif) dan celakanya dipercayai. Semisal; anda membaca sekian ribu kalimat alqur'an (surat anu dan itu) maka di hari itu rezeki anda berlipat ganda. Keterangan-keterangan semacam ini tentu saja menyesatkan ummat. Menghilangkan kreatifitas berfikir dan dorongan untuk bekerja keras. Padahal kita sama-sama tahu, sedari kecil Rasul termasuk orang yang gemar bekerja bukan orang yang berpangku tangan dan menunggu nasib baik. Bahkan dalam kegelisahannya sekalipun, Rasul dengan aktif mencari jawaban kebenaran ke Gua Hira. Proses perenungan ini harus dipahami dalam kerangka yang aktif, bukan pasif; menunggu wangsit (dilakukan dalam proses upaya mencari). Sungguh keterbelakangan ummat islam ini begitu nyata. Dan salah satunya diakibatkan oleh kekeliruan berfikir kita. Sudah saatnya melakukan proses pemikiran kembali, termasuk terhadap keterangan-keterangan yang dibuat oleh para ulama dahulu. Wallahu'alam --- On Mon, 9/15/08, indra fathiana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: indra fathiana <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [rumahilmu] [ARTIKEL] Memang Bukan Salah Si Sajadah... To: [email protected], [EMAIL PROTECTED] Date: Monday, September 15, 2008, 12:59 AM taken from http://lifeandmakel ife.multiply. com/journal/ item/46/Memang_ bukan_salah_ si-Sajadah. .smg bermanfaat ^_^ ************ ********* * Umar Bin Khattab masih tak percaya mendapatkan berita yang ia terima. Pemimpin pasukan perang untuk merebut kota Palestina mengabarkan bahwa kondisi pasukan umat Islam sudah tidak sanggup lagi menghadapi pasukan lawan. Ia meminta tambahan pasukan agar dapat menambah kekuatan tentara Islam. Benarkah? Umar meragukan berita tersebut. Bukan berarti ia tidak percaya terhadap sang komandan perang, terlebih seorang komandan pastilah termasuk insan pilihan, bukan? Bukan pula karena berita yang diterimanya itu tidak sesuai yang ia harapkan. Namun keraguan nya lahir dari mata hatinya yang bersih, ia memiliki bashiroh bahwa ada sesuatu yang salah dalam proses peperangan tersebut. Kesalahan yang membuat Rahmat dan keberkahan dari Allah jauh dari kemenangan Umat Muslim. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk menyusul para pasukan Islam ke medan pertempuran. Sendiri. Tanpa membawa pasukan tambahan, walaupun hanya satu-dua-orang tambahan. Sesampainya di sana, pertama kali yang ia lakukan adalah mengecek barisan sholat para jamaah. Dan benar saja, ditemukannya shaf sholat yang berantakan, jauh dari kerapatan dan kerapihan shaf yang seharusnya. Longgar, bengkok, tak sedap dipandang. Inilah pangkal masalahnya. Umar pun meluruskannya dan meminta para pasukan memperhatikan shaf sholat mereka. Unik benar memang cara berpikir Umar, ia tidak mencari tahu terlebih dahulu apakah pedang para pasukan sudah diasah belum, atau ia juga tidak mengecek bagaimana latihan perang para pasukan. Namun, ia cukup terpikir bagaimana shaf sholat para pasukan ketika berjamaah. Dan ternyata memang benar, setelah para pasukan memperbaiki shaf sholat, Gerbang Palestina pun dapat dengan mudah mereka masuki. Subhanallah. . Jadi, masihkah kerapihan shaf sholat dianggap tidak penting? Bahkan Rasulullah pun selalu mengecek secara seksama barisan para jamaah sholat. Tak tanggung-tanggung, Beliau tak segan-segan untuk menaiki mimbarnya agar dapat memantau barisan shaf di belakang. "Rapikan (rapat dan lurus) shaf kalian, sesungguhnya shaf termasuk bagian menegakkan sholat" (HR. Bukhori), ucap Beliau. Yapp.. sebab shaf yang longgar bukan hanya menjadi tempat gratis untuk makhluk lain (baca: Setan) menggoda sang makmum ketika sholat, namun juga menjauhkan Rahmat Nya Allah SWT. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar rodhiyallohu' anhuma menyatakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda, "Rapikanlah shaf, sejajarkan antara bahu, penuhi yang masih kosong (masih longgar), bersikap lunaklah terhadap saudara kalian dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shof, Alloh akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutus shaf, Allah akan memutusnya." (HR. Abu Dawud no.666). Adapun sifat dan tata cara merapikan shaf telah tercantum dalam banyak hadits. Diantaranya sebuah hadits dari Nu'man bin Basyir radhiyallahu' anhu, beliau berkata, "Rasulullah shallallahu' alaihi wassalam pernah menghadap manusia dengan wajahnya seraya mengatakan, Rapikanlah shaf-shaf kalian (3x). Demi Allah, kalian merapikan shaf kalian, atau kalau tidak maka Allah akan menjadikan perselisihan diantara hati kalian.' Nu'man berkata, 'Lalu saya melihat seorang merapatkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya." (HR. Abu Dawud no. 662)
