Hadiah Ilmuwan AS: Seleksi Alamnya Charles Darwin Salah Kaprah!

Saturday, 13 February 2010 13:10

E-mail Print PDF

12 Februari 2010: peringatan ulang tahun Darwin sekaligus perayaan kekeliruan 
teori evolusinya.

Hidayatullah.Com -- Kali ini bukan dari cendekiawan pendukung penciptaan, bukan 
pula ilmuwan terkemuka pembela perancangan cerdas. Mereka ini tetap teguh 
meyakini evolusi, dan ilmuan materialis. Namun mereka tidak mau tunduk pada 
tokoh yang nyaris dituhankan, Charles Darwin, dan menghadiahkan bantahan ilmiah 
berupa buku yang mendobrak darwinisme di bulan Februari 2010 ini. Mereka adalah 
para ilmuwan Amerika Serikat (AS), yakni profesor filsafat Jerry Alan Fodor 
asal Rutgers University dan profesor ilmu kognitif Massimo Piattelli-Palmarini 
dari the University of Arizona.

Di bulan perayaan ulang tahun sang bapak teori evolusi, Charles Darwin, 
tepatnya 12 Februari, kedua ilmuwan itu meluncurkan sebuah buku berjudul "What 
Darwin Got Wrong" (Apa Kekeliruan Darwin). Sang penulis yakin bahwa pola 
penyesuaian diri atau model adaptasi ala Darwin sama sekali cacat. Dengan kata 
lain teori yang mengajarkan adanya mutasi genetis acak pada makhluk hidup, yang 
kemudian tersaring melalui seleksi alamiah, dan menghasilkan sifat-sifat yang 
menguntungkan dalam hal kemampuan bertahan hidup dalam lingkungan tertentu 
adalah salah kaprah.

Meski bukan dalam rangka menolak teori evolusi sama sekali, bahkan 
membenarkannya, karya kedua penulis itu setidaknya termasuk yang jujur mengenai 
kekeliruan-kekeliruan teori evolusinya Charles Darwin. Hal ini ditegaskan 
Stuart Newman, profesor sel biologi dan anatomi di New York Medical College, 
ketika mengulas buku itu:

          "Evolusi memerlukan sebuah teori yang meyakinkan jika perjuangannya 
agar diterima masyarakat hendak dimenangkan. Karya berani Jerry Fodor dan 
Massimo Piattelli-Palmarini, What Darwin Got Wrong, secara meyakinkan 
memperlihatkan bahwa seleksi alam bukanlah teori itu. Dengan menggunakan 
literatur ilmiah yang merambah cakupan molekuler, perilaku dan kognitif, dengan 
penjelajahan yang piawai memasuki biologi perkembangan-evolusi dan fisika 
sistem rumit, penulis melakukan pembongkaran filosofis terhadap model baku 
perubahan evolusi yang cenderung tak dapat dikembalikan lagi. Landasan berpijak 
mereka yang jelas dalam hal kebenaran fakta evolusi menjadikan karya ini 
berjasa bagi ilmu pengetahuan dan sebuah kemunduran bagi para penentangnya."  


Itulah sebuah ulasan apa adanya dari kacamata ilmuwan yang terkungkung teori 
evolusi. Namun jika ditilik dari sisi lain, dari sudut pandang di luar 
tempurung dogma evolusi, sungguhlah menarik untuk tidak menelan mentah-mentah 
begitu saja pernyataan Stuart Newman di atas. Sebab bagaimana mungkin "evolusi 
dinyatakan sebagai fakta kebenaran" tapi di saat yang sama diakui bahwa 
"evolusi masih belum memiliki teori meyakinkan" untuk menjelaskan proses 
perubahan pada makhluk hidup, hingga saat ini? Bagaimana mungkin mengamini 
bahwa "seleksi alam bukanlah teori" yang mendorong terjadinya evolusi, tapi 
pada saat yang sama menyatakan "itu adalah sebuah kemunduran bagi penentang 
evolusi"?

Namun hal di atas tidaklah aneh bagi mereka yang mencermati sejarah teori 
evolusi, yang menelaah bagaimana beragam kekeliruan, pemalsuan, kebohongan dan 
kecurangan yang dilakukan atas nama teori evolusi, kemudian dibuktikan keliru 
oleh kalangan evolusionis itu sendiri. Akan tampak bahwa seringkali ilmuwan 
evolusionis mengakui bahwa teori ini dan itu memang keliru, fosil ini dan itu 
palsu, serta penjelasan ini dan itu salah. Tapi untuk mengakui bahwa teori 
evolusi salah sama sekali, sungguh sulit, mengingat teori ini sudah menjadi 
dogma asas tunggal yang melekat kuat pada diri mereka dan harus dibenarkan 
terlebih dahulu. Bukti dicari belakangan.  

Kalau bukti-bukti itu diketahui salah kaprah di kemudian hari, maka silat lidah 
alias permainan kata-kata menjadi jurus pamungkasnya demi menjaga tegaknya 
evolusi: "mata rantainya masih hilang dan belum ketemu", atau seperti ulasan 
mengenai buku di atas "Evolusi memerlukan sebuah teori yang meyakinkan jika 
perjuangannya agar diterima masyarakat hendak dimenangkan..."

Apa artinya?  Jelas bahwa evolusi bahkan bukan lagi sebuah teori, tapi dogma 
yang kehilangan teori untuk menjelaskannya. Teori seleksi alam ala Darwin sudah 
diambrukkan oleh evolusionis sendiri. Menariknya lagi, dogma evolusi ini (tanpa 
embel-embel "teori" lagi) tetap dipertahankan sembari mencari-cari teori 
penjelasannya dengan tujuan "agar diterima masyarakat". Ilmiahkah? Teori ilmiah 
adalah teori yang muncul dan dibenarkan karena mengikuti bukti yang ada. Dengan 
kata lain arah kebenaran itu ditentukan dan diarahkan oleh ada tidaknya bukti. 
Buktilah yang mengarahkan kebenaran dan bukannya malah "agar menang dan 
diterima oleh masyarakat".

Apa artinya? Artinya teori evolusi adalah teori yang tegak dan kokoh selama 
masyarakat luas mempercayainya, meskipun tanpa bukti atau bukti palsu dan penuh 
rekayasa. Kekhawatiran evolusionis akan semakin hilangnya kepercayaan 
masyarakat terhadap evolusi menjadi pertanda jelas, betapa evolusi adalah dogma 
kosong tanpa bukti.  

Mengembalikan keimanan masyarakat pada evolusi menjadi kebutuhan pokok 
evolusionis di satu sisi, namun ketiadaan bukti ilmiah dan ketidakberadaan 
teori masuk akal menjadi kendala mengenaskan di sisi lain. Untuk memecahkan 
permasalahan besar ini, tidak mengherankan jika sepanjang sejarah evolusionis 
mencari jalan keluar dengan cara-cara tercela dan tidak ilmiah. Namun beruntung 
masih ada pengakuan-pengakuan evolusionis jujur seperti karya Jerry Alan Fodor 
dan Massimo Piattelli-Palmarini di atas. Kejujuran ini digarisbawahi oleh 
Gabriel Dover, Profesor Genetika Evolusi, University of Leicester and 
Cambridge, Inggris, saat mengulas buku itu:

          "....Buku ini akan menetapkan agenda di tahun-tahun mendatang. [Buku] 
ini tidak dapat dikesampingkan jika pengkajian mengenai evolusi hendak jujur 
dengan dirinya sendiri."


Demikianlah, ternyata masih ada sisi kejujuran evolusionis, dan ini patut 
dipuji. Meski mereka tetap berpendirian kuat bahwa evolusi 100% benar walau 
teori kuat yang menjelaskannya masih belum ditemukan, dan fosil mata rantai tak 
kunjung datang, mereka patut diacungi jempol dalam hal kejujurannya di sisi 
lain. Karena berkat kejujuran evolusionis ini pulalah mereka telah mengungkap 
berlimpah kebohongan dan kecurangan yang dilakukan rekan mereka sesama 
evolusionis. Di antara yang terkenal adalah kebohongan berusia lebih dari 
seratus tahun, yakni gambar-gambar embrio Haeckel, yang mungkin hingga kini 
masih terpampang di buku-buku pelajaran biologi, termasuk di Indonesia 
(bersambung). (wwn/amazon/evolutionnews.org/hidayatullah.com)

sumber: 
http://www.hidayatullah.com/kajian-a-ibrah/teori-evolusi/10735.html?task=view 


Kirim email ke