Ngomong-ngomong soal liquidity, duit segitu mah cuman recehan saja yang masuk Indonesia. Rasanya itu excess dari tech stock di Amrik sana. Lihat saja Microsoft berani beli aQuantive dengan 85% premium senilai USD6 billion. Berapa untungnya orang yang punya aQuantive? Terus untung itu mau dikemanain? Belum lagi Google habis belanja Doubleclick senilai USD3 billion. Dan masih banyak techstock yang melejit nilainya. Sebagian memang mengalir untuk venture capital, tech startup tetapi banyak lagi yang juga masuk ke developing market, termasuk Indonesia. Nah, kalau liquidity itu masuk, apa mereka cukup sekedar dapet cuan 20-30%?
Terus kenapa yang naik adalah saham-saham kecil (TMPI, ASGR, CPRO), karena itu lebih mudah dimainin dan potensi growthnya tinggi. Akan jauh lebih susah kalau menaikkan TLKM atau PGAS misalkan, meski pun ARPU paling tinggi dan monopoli gas, karena sudah besar jadi nggak bisa digelembungkan lagi. Tetapi kalau saham kecil seperti TMPI yang market cap nya dulu hanya <500 milyaran, dengan modal kecil saja sudah bisa menggelembungkan jadi 10x lipat. Saham menengah kaya FREN dan CPRO juga akan lebih mudah dimainkan, karena pemilik punya 60-70%, sehingga yang beredar di pasar hanya 30% saja. Jadi kalau cap CPRO 3T waktu di 185, sekarang udah 10T dengan harga 600-an, naik 3x lipat. Jadi memang kalau ingin uangnya tumbuh, ya harus mencari growth company dan invest long/medium term (1-2 tahun). Kalau mau aman ya beli deposito saja, tenang. Salam - 2007/5/20, Newsmaster <[EMAIL PROTECTED]>:
Iya pak, saya juga nggak habis pikir. Saya pikir kalau DJIA, Shanghai, dan Hangseng koreksi, maka saham-saham tersebut akan ter-koreksi yaitu ASGR, TMPI, CPRO, MTDL, MITI, ANTM, INCO, dll yang naiknya kecepetan akibatnya PBV-nya naik dan PER-nya jadi terlalu tinggi, takut putus karena mulur. Kalau PGAS, TLKM kayaknya sudah anjlog. Kasihan kalau diturunin lagi, meskipun masih bisa. Tinggal janjian saja dengan Mr Liquidity, ada nggak uang-nya (sekarang 4T per hari). Sekarang Shanghai sudah mulai batuk, China mau ketatkan aturan main karena dianggap sudah terlalu overheated. Apa seperti Malaysia waktu jamannya Mahathir kalau sudah terlalu tinggi? Kalau nggak salah waktu itu ada kontrol sehingga saham-saham pada anjlok dan orang-orang pada terjun dari lantai tujuh, nggak tahu pakai mobil atau nggak. Mudah-mudahan tidak terjadi pada index BEJ, karena terakhir turun max 3.5% atau 100 point. Barangkali kita bisa 'percaya' sama mama Laurent saja daripada analisa TA yang masuk akal. Index SS sekarang 4000-an, tolong koreksi kalau salah. DJ 13000-an data ekonomi US, inflasi dll nggak terlalu bagus, kemungkinan bisa sakit flu juga. Kalau nggak percaya, pindah saja 'minta suaka' ke republik mimpi when things happen when you are asleep. (c)uan hunte(r) wrote: > > Price Earning Ratio (PER) itu perbandingan antara harga dan > earning. Begitu gak, pak cendrawira? > Makin besar/mahal harganya dibandingkan earning, makin besar > PER-nya. Makin besar earning dibandingkan harganya, makin kecil > PER-nya. Jadi, PER yang makin kecil itu makin bagus --> murah! > > Kalau TMPI punya PER sampai 455x itu besar sekali gak? > Menurut saya sudah amat sangat besar. > Wajar gak secara rasional? tergantung... > Yang gak habis pikir, dengan PER segitu besar kok masih laku > sahamnya... > Tanyakan kenapa? Saya yang terlalu rasional atau seharusnya > saya menerima kenyataan bahwa ada hal yang tidak rasional!!! > Kecuali, ... (apa hayo yang bisa bikin rasional...?) > > Banyak pengecualian di dunia ini yang tidak rasional.... > yang kadang2 kita harus terima... > bukan karena kita tidak rasional tapi.... it's beyond our > rationality. > .. > > Pembandingan TMPI & CPRO pada posting terdahulu hanya sebagai > uangkapan bahwa masih ada hal yang tidak rasional yang berlaku > di pasar modal kita.... > > yang mungkin dapat terjadi juga pada CPRO... > kenapa? euforia... euforia..... of momentum!!! > Hey, all of you, wake up.... wake up.... wake up.... > > On 5/19/07, EKA SUWANDANA <[EMAIL PROTECTED] <esuwandan%40yahoo.com>> wrote: > > Tahun 1996 DIPASENA luas tambaknya cuma 1/4 dari luas > sekarang! Memperbaiki tambak cukup 1 tahun, nggak lama > kok, apalagi di Lampung airnya masih bagus! > > --- ihsg 88 <[EMAIL PROTECTED] <ihsg88%40gmail.com>> wrote: > > > Sayangilah uang anda. > > Bersikaplah realistis. > > Berdasarkan fundamental: > > Saya setuju dengan Bpk. Cendrawira. (Duit anda siap > > untuk dipinjam). Bila dipasena dimenangkan, ini adalah > > perusahaan yang sakit (Petambak dan managemen selalu > > bermasalah). Bukan seperti CVRD yang mengakusisi N.TO <http://n.to/> > > > > Berdasarkan TA abnormal/digoreng. > > > > Berdasarkan Bandar ini harus hati-2. (Bandar yang > > goreng adalah kelompok yang menggoreng Pgas, Inco, > > Bmri dan TOTL.) Cuma berganti sekuritas saja. > > (Sekarang mereka menangani proyek Antm, CPro dan TMPI.) > > > > Hati-2 saja bila dipasena "tidak di dapat/kalah" > > langsung keesokan harinya gosong kembali ke Rp 200 > > tanpa lot. > >
-- =========================== Se queremos progredir, não devemos repetir a história, mas fazer uma história nova. If we want to progress, we do not have to repeat history, but to make a new history.
