Jangan-jangan, setelah pasar China dapat PR dari 'bandar', berita di bawah dijadikan alasan 'bandar' untuk kasih PR ke pasar Indonesia.
Setelah PR selesai dengan nilai bagus, maka akan naik kelas. Untuk para investor: Ingatlah pelajaran investasi dari Warren Buffet, belilah saham yang valuasinya terdiskon cukup besar. Belilah saham, dimana anda tidak takut bila pasar saham tutup selama enam bulan ke depan atau anda tiba2 harus ke kutub utara atau sehingga tidak bisa memantau market. Ketika terjadi panic selling, itulah kesempatan mendapatkan barang dengan harga terdiskon. Untuk para trader: Jangan lupa take profit. Jangan lupa cut loss. Akan selalu ada hari trading. Kumpulkan kemenangan anda, dan jangan takut untuk cut loss. Disiplin dengan trading plan anda. Menang dan kalah dalam trading adalah hal biasa. Masih ada hari esok, dan hari esok akan selalu ada. Semoga bermanfaat. jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu --- In [email protected], Jack Cowok <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Irwan , > > Selamat pagi. > Jangan-jangan apa pak? > > Buat rekan lain, hati hati, ini sangat berpengaruh secara global ke saham BlueChip lainnya. > > Salam > Jack > > Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Berita berikut ini terkait dengan saham Indosat (ISAT). > Ada yang bisa memberikan informasi tambahan mengapa > bisa sampai separah ini yang tampaknya tidak ada > mekanisme kontrol dari internal? > > Atau, jangan-jangan......? > > Perlu dilakukan pemeriksaan lebih detil dan rinci atas hal tersebut. > Kerugian negara sebesar Rp350 milyar adalah jumlah yang tidak > kecil. Jumlah ini lebih dari setengah pendapatan negara hasil > dari divestasi Dipasena. > > Saham ISAT perlu dihindari dan diwaspadai akibat kasus ini. > > jabat erat, > Irwan Ariston Napitupulu > > http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A01&cdate=05-JUN-2007&inw_id=529788 > -------------------------------------- > Potensi kerugian negara capai Rp350 miliar > Indosat rugi transaksi derivatif > > JAKARTA: PT Indosat Tbk membukukan akumulasi kerugian sebesar Rp653 > miliar akibat keterlibatannya dalam transaksi derivatif senilai Rp2,5 > triliun (sekitar US$275 juta) yang tidak disertai mekanisme lindung > nilai (hedging). > > Sumber Bisnis mengatakan transaksi itu dimulai pada 2004 dengan > melakukan 17 kontrak perjanjian dengan sejumlah institusi keuangan. > "Persoalannya transaksi itu dilakukan tanpa lindung nilai seperti yang > dianjurkan dalam standar akutansi." > > Lembaga keuangan yang terlibat dalam perjanjian itu adalah Goldman > Sachs Capital Market (GSC) New York, Standard Chartered Bank > (Jakarta), JP Morgan Chase Bank, Goldman Sachs International, Merrill > Lynch, Barclays Capital (London), ABN AMRO Bank, dan HSBC. > > Transaksi derivatif adalah transaksi yang mengandung risiko sangat > besar, sehingga secara khusus diatur dalam standar akuntansi keuangan. > > Di Indonesia, transaksi itu diatur dalam Pernyataan Standar Akutansi > Keuangan (PSAK), sementara di Eropa dikenal dengan IFRS (International > Financial Reporting Standars) dan di Amerika Serikat diatur dalam US > GAAP (United States Generally Accepted Accounting Principles). > > Dalam PSAK No. 55 tentang Akutansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas > Lindung Nilai disebutkan bahwa transaksi derivatif mensyaratkan adanya > dokumentasi formal atas analisa manajemen risiko dan analisis > efektivitas transaksi jika ingin melindungi risiko transaksi derivatif > tersebut. > > Berdasarkan dokumen yang diperoleh Bisnis, tiga tahun berturut-turut > (2004-2006) auditor independen Ernst & Young memperingatkan manajemen > Indosat agar membenahi kebijakan formal manajemen risiko yang > berkaitan dengan transaksi derivatif. > > "Mengingat transaksi swap perseroan tidak memenuhi kualifikasi sebagai > instrumen hedging, maka perseroan tidak bisa memasukkannya dalam > akuntansi spesial hedging. Karena itu, untuk tujuan akuntansi, > perubahan dalam nilai dari transaksi seperti itu dicatatkan langsung > dalam pendapatan," tulis dokumen itu. > > Anggota Komisi XI DPR Dradjad H. Wibowo (F-PAN) menyatakan negara > kehilangan potensi penerimaan pajak dan dividen sekitar Rp350 miliar > akibat kesalahan manajemen transaksi derivatif PT Indosat. > > Dia mengungkapkan kesimpulan itu berdasarkan neraca konsolidasi > Indosat pada 2004 dan 2005 (audited) dan angka-angka awal laporan > keuangan 2006 (non-audited) dalam rapat kerja Komisi XI dengan Menteri > Keuangan di Jakarta, kemarin. > > Neraca konsolidasi Indosat, menurut Dradjat, mencantumkan satu pos, > yakni pos 'Rugi dari perubahan nilai wajar atas transaksi > derivatif-bersih' (loss on change in fair value of derivatives-net) > yang pada 2004 kerugiannya tercatat Rp170,45 miliar. Kerugian itu > kemudian turun menjadi Rp44,21 miliar pada 2005. > > "Tapi pada 2006 kerugian derivatif ini bisa meledak menjadi Rp438 > miliar. Totalnya selama tiga tahun sekitar Rp653 miliar. Ini adalah > skandal keuangan yang tidak bisa ditoleransi." > > Implikasi dari kerugian itu adalah pemerintah kehilangan Rp351 miliar, > yaitu dari potensi dividen sebesar Rp93 miliar (14,29% dari Rp653 > miliar) ditambah potensi pajak sebesar Rp196 miliar (30% dari Rp253 > miliar) dan pajak dividen yang diterima investor publik sekitar > Rp60-an miliar. Sementara itu, pemegang saham publik PT Indosat > berpotensi kehilangan dividen sebesar 44,87% dari Rp653 miliar, yaitu > Rp293 miliar. > > Terkejut > > Seorang manajemen puncak PT Indosat, yang tidak bersedia disebutkan > namanya, mengemukakan selama ini persoalan transaksi derivatif belum > pernah menjadi pembicaraan di dewan direksi BUMN itu. "Itu masuk > kewenangan direktur keuangan." > > Ketika dikonfirmasi soal transaksi derivatif, Direktur Keuangan PT > Indosat Wong Heang Tuck mengaku terkejut soal itu. "Kami punya > kebijakan treasury yang mengatur Indosat dalam melakukan hedging. Kami > mulai menyusun draf mengenai kebijakan itu pada 2005," katanya kepada > Bisnis melalui layanan pesan singkat. (Firman Hidranto & Wisnu Wijaya) > ([EMAIL PROTECTED]/bastanul. [EMAIL PROTECTED]) > > Oleh Abraham Runga & Bastanul Siregar > Bisnis Indonesia > > > > > > > --------------------------------- > Luggage? GPS? Comic books? > Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search. > DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI. Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] untuk unsubscribe dari milis saham [EMAIL PROTECTED] untuk subscribe ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
