Ky kmrn bikin berita anggaran APBN infrastruktur dipangkas.. Pdhl cm rumor.. Pagi WSKT diguyur ke 660, eh ga lama asing msk 27rb lot.. Pas closing dibikin lompat ke atas di 730.. Bisaaaa aja tuh BD..
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: "H Y" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 6 Jul 2013 11:56:52 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [saham] Setelah Men-downgrade IHSG, Morgan Stanley Dikritik Perkeruh Market Itu kan punya maksud, Agar para investor asing taking profit serempak... Menimbulkan kepanikan bagi trader lokal... Hingga akhirnya ikut2an cutlose sesuai ajaran para analyst sekuritas. Saat kepanikan itu mulai reda... Menyisahkan trauma dan ketakutan utk memulai ambil posisi buy kembali... Saat itulah mereka perlahan, dikit2... Kumpulin saham2 yg sdh terdiskon. Setelah stok banyak... Baru deh keluarin good news... Dipancing dengan bit volume besar... Padahal yg jual dan beli sami mawon... Harga melambung... Trader lokal baru mulai ada keberanian beli... Saat kepercayaan memasuki fase eforia... Langsung deh diguyuuuur habis2an disertai bad news.... :) Supaya bisa dapat barang murah lagi... Salam Trader, H Y ©2013 Hidupmu adalah Imajinasimu ™ http://twitter.com/HQ_Trader ...sent from my BlackBerry® Z10 -----Original Message----- From: "T Jayamudita" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 6 Jul 2013 18:31:55 To: milis obrolan-bandar<[email protected]>; milis saham<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [saham] Setelah Men-downgrade IHSG, Morgan Stanley Dikritik Perkeruh Market Friday, July 05, 2013 13:51 WIB Setelah Men-downgrade IHSG, Morgan Stanley Dikritik Perkeruh Market Ipotnews - Analis sekuritas menilai riset Morgan Stanley dapat membuat kondisi pasar modal Indonesia semakin tidak kondusif. Riset tersebut juga bersifat negatif karena memberikan gambaran tentang kondisi pasar modal Indonesia yang bukan lagi tempat yang nyaman untuk berinvestasi. Sebelumnya kepala Morgan Stanley (MS) yang berbasis di New York, Jonathan Garner, memberikan gambaran bahwa pasar modal Indonesia bukan lagi tempat yang nyaman bagi investor untuk berinvestasi. Pasar ekuitas Indonesia diturunkan menjadi underweight (jenuh jual) dari equalweight (normal). "Pasar saham Indonesia merupakan yang paling rentan di Asia Tenggara untuk pelarian modal di tengah valuasi mahal saham berkapitalisasi besar oleh investor asing," ujar Garner, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (5/7). Oleh Morgan Stanley, IHSG juga divaluasi aktiva bersihnya sebesar 2,8 kali aktiva bersih. Jumlah tersebut adalah yang tertinggi diantara 17 pergerakan ekuitas Asia, bahkan setelah mengalami pelemahan 11% dari level tertingginya di 20 Mei 2013. "Indonesia masih merupakan negara yang relatif kelebihan kepemilikan (overowned)," tulis Garner dan koleganya di Hong Kong, Yang Bai dan Pankaj Mataney. Berdasarkan data Bloomberg, selama tujuh tahun terakhir, investor asing memang telah melakukan beli bersih (net buy) di pasar modal Indonesia dengan jumlah sebesar US$16 miliar. Akan tetapi, pada 2013 ini, investor asing telah melakukan jual bersih (net sell) senilai US$210 juta. Rating tersebut juga didasari oleh riset PT CIMB Securities Indonesia tiga hari yang lalu. Dalam riset tersebut disebutkan, CIMB Securities Indonesia memangkas rekomendasi saham-saham di bursa lokal terkait potensi inflasi dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kepala Riset PT Trust Securities, Reza Priyambada, menilai riset tersebut dirilis oleh Morgan Stanley pasca Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2013 menjadi 5,9% karena kenaikan inflasi yang dapat mengganggu permintaan domestik dan melemahkan investasi. Pemerintah menaikkan harga BBM dalam negeri pada bulan lalu untuk pertama kalinya sejak 2008. "Dalam penilaian kami, pernyataan dari Morgan Stanley tersebut dapat membuat kondisi pasar modal Indonesia semakin tidak kondusif dan memberi gambaran pasar modal Indonesia bukan lagi tempat yang nyaman untuk berinvestasi," ujar Reza, Jumat (5/7). Jika memang demikian, lanjut Reza, maka pihaknya menilai kondisi fundamental emiten tidak dapat menjadi dasar penilaian dari para investor untuk memilih suatu saham. Padahal realita yang terjadi di sepanjang semester pertama 2013 adalah investor asing telah membukukan keuntungan lebih dari Rp1 triliun dari selisih beli bersih dan jual bersih. "Akankah mereka (Morgan Stanley) akan kembali mengeruk keuntungan di tengah kondisi pasar yang panik? Sungguh penilaian yang tidak mendasar dan hanya membuat pelaku pasar panik tanpa ada solusi bagaimana memajukan pasar modal Indonesia," kritik dia. (Rheza Andhika/mk)
