Friday, July 05, 2013 13:51 WIB
Setelah Men-downgrade IHSG, Morgan Stanley Dikritik Perkeruh Market
Ipotnews - Analis sekuritas menilai riset Morgan Stanley dapat membuat
kondisi pasar modal Indonesia semakin tidak kondusif. Riset tersebut juga
bersifat negatif karena memberikan gambaran tentang kondisi pasar modal
Indonesia yang bukan lagi tempat yang nyaman untuk berinvestasi.
Sebelumnya kepala Morgan Stanley (MS) yang berbasis di New York, Jonathan
Garner, memberikan gambaran bahwa pasar modal Indonesia bukan lagi tempat yang
nyaman bagi investor untuk berinvestasi. Pasar ekuitas Indonesia diturunkan
menjadi underweight (jenuh jual) dari equalweight (normal).
"Pasar saham Indonesia merupakan yang paling rentan di Asia Tenggara
untuk pelarian modal di tengah valuasi mahal saham berkapitalisasi besar oleh
investor asing," ujar Garner, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (5/7).
Oleh Morgan Stanley, IHSG juga divaluasi aktiva bersihnya sebesar 2,8
kali aktiva bersih. Jumlah tersebut adalah yang tertinggi diantara 17
pergerakan ekuitas Asia, bahkan setelah mengalami pelemahan 11% dari level
tertingginya di 20 Mei 2013.
"Indonesia masih merupakan negara yang relatif kelebihan kepemilikan
(overowned)," tulis Garner dan koleganya di Hong Kong, Yang Bai dan Pankaj
Mataney.
Berdasarkan data Bloomberg, selama tujuh tahun terakhir, investor asing
memang telah melakukan beli bersih (net buy) di pasar modal Indonesia dengan
jumlah sebesar US$16 miliar. Akan tetapi, pada 2013 ini, investor asing telah
melakukan jual bersih (net sell) senilai US$210 juta.
Rating tersebut juga didasari oleh riset PT CIMB Securities Indonesia
tiga hari yang lalu. Dalam riset tersebut disebutkan, CIMB Securities Indonesia
memangkas rekomendasi saham-saham di bursa lokal terkait potensi inflasi dari
kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Kepala Riset PT Trust Securities, Reza Priyambada, menilai riset tersebut
dirilis oleh Morgan Stanley pasca Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan
ekonomi Indonesia di 2013 menjadi 5,9% karena kenaikan inflasi yang dapat
mengganggu permintaan domestik dan melemahkan investasi. Pemerintah menaikkan
harga BBM dalam negeri pada bulan lalu untuk pertama kalinya sejak 2008.
"Dalam penilaian kami, pernyataan dari Morgan Stanley tersebut dapat
membuat kondisi pasar modal Indonesia semakin tidak kondusif dan memberi
gambaran pasar modal Indonesia bukan lagi tempat yang nyaman untuk
berinvestasi," ujar Reza, Jumat (5/7).
Jika memang demikian, lanjut Reza, maka pihaknya menilai kondisi
fundamental emiten tidak dapat menjadi dasar penilaian dari para investor untuk
memilih suatu saham. Padahal realita yang terjadi di sepanjang semester pertama
2013 adalah investor asing telah membukukan keuntungan lebih dari Rp1 triliun
dari selisih beli bersih dan jual bersih.
"Akankah mereka (Morgan Stanley) akan kembali mengeruk keuntungan di
tengah kondisi pasar yang panik? Sungguh penilaian yang tidak mendasar dan
hanya membuat pelaku pasar panik tanpa ada solusi bagaimana memajukan pasar
modal Indonesia," kritik dia.
(Rheza Andhika/mk)