Pake logika aja. Kalo MS bilang udah kemahalan, kenapa dia masih sibuk belanja? 
Mustinya kan dia sibuk jualan...:D
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Radia <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 6 Jul 2013 20:49:50 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Bls: [saham] Riset Morgan Stanley Tak Akan Terlalu Berdampak: BEI


Kalau morgan stanley mengatakan jenuh jual, berarti target ihsg skr, brp? 
3600-4000? atau brp?



------------------------------
Pada Sab, 6 Jul 2013 04:33 Waktu Terang Hari Pasifik T Jayamudita menulis:

>      Friday, July 05, 2013       16:41 WIB  
>      Riset Morgan Stanley Tak Akan Terlalu Berdampak: BEI 
>     
>
>      Ipotnews - Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai riset Morgan 
> Stanley tentang pasar modal Indonesia tidak akan terlalu berdampak terhadap 
> kinerja pasar modal Indonesia. BEI yakin industri pasar modal Indonesia masih 
> dapat tumbuh seiring dengan kinerja emiten yang terus melakukan ekspansi 
> usaha.
>
>      Demikian dikatakan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, 
> Samsul Hidayat, Jumat (5/7). Ia menambahkan bahwa setiap investor pasti telah 
> memiliki perspektif investasi sendiri sehingga dampak dari proyeksi tersebut 
> tidak akan terlalu berdampak signifikan.
>
>      "Emiten yang terus melakukan ekspansi menandakan pertumbuhan ekonomi 
> yang masih positif. Minat perusahaan untuk memperoleh pendanaan dari pasar 
> modal juga masih tetap tinggi," tambah Samsul, Jumat (5/7).
>
>      Sebelumnya Kepala Morgan Stanley (MS) yang berbasis di New York, 
> Jonathan Garner, memberikan gambaran bahwa pasar modal Indonesia bukan lagi 
> tempat yang nyaman bagi investor untuk berinvestasi. Pasar ekuitas Indonesia 
> diturunkan menjadi underweight (jenuh jual) dari equalweight (normal).
>
>      "Pasar saham Indonesia merupakan yang paling rentan di Asia Tenggara 
> untuk pelarian modal di tengah valuasi mahal dan saham besar oleh investor 
> asing," ujar Garner, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (5/7).
>
>      Oleh Morgan Stanley, IHSG juga divaluasi aktiva bersihnya sebesar 2,8 
> kali aktiva bersih. Jumlah tersebut adalah yang tertinggi di antara 17 
> pergerakan ekuitas Asia, bahkan setelah mengalami pelemahan 11% dari level 
> tertingginya di 20 Mei 2013. "Indonesia masih merupakan negara yang relatif 
> kelebihan kepemilikan (overowned)," tulis Garner dan koleganya di Hong Kong, 
> Yang Bai dan Pankaj Mataney.
>
>      Tingkat Utang Rendah
>
>      Dari sisi makro ekonomi, Global Research Bank of America Merril-Lynch, 
> Andrew Peck, dalam risetnya mengatakan dari sisi rasio tingkat utang, 
> Indonesia dan Filipina paling baik dibandingkan negara di kawasan Asia 
> lainnya. Korea, China dan Malaysia adalah negara dengan rasio tingkat utang 
> yang paling mengkhawatirkan.
>
>      "Tingkat utang Indonesia dan Filipina belum mengalami peningkatan secara 
> drastis dalam beberapa tahun terakhir meskipun pertumbuhan produk domestik 
> bruto-nya naik cukup signfikan. Saat ini (kuartal pertama 2013), Indonesia 
> merupakan negara dengan rasio utang publik terendah di Asia setelah Hongkong, 
> yakni hanya sekitar 23% dari PDB," jelas Peck, seperti dikutip dalam 
> risetnya, Jumat (5/7).
>
>      Padahal jika melihat di kuartal kedua 1997, sebelum krisis moneter 
> terjadi, rasio utang publik Indonesia sebesar 71,8% dan di kuartal keempat 
> 2007 sebesar 33,1%. Tingkat utang surat utang pemerintah Indonesia dalam 
> denominasi mata uang asing di kuartal pertama 2013 juga tercatat cukup rendah 
> di level 14,1% terhadap PDB dibandingkan di kuartal kedua 1997 di level 26,3% 
> dan kuartal keempat 2007 sebesar 18,7% terhadap PDB.
>
>      "Kedua negara (Indonesia dan Filipina) memang mengalami pertumbuhan 
> utang yang cepat dalam beberapa tahun terakhir, namun sebagian besar berasal 
> dari tingkat utang dengan basis bunga utang yang rendah. Kredit dalam negeri 
> Indonesia hanya sekitar 33% dari PDB dan di Filipina hanya 39 dari PDB," 
> papar Peck.
>
>      Untuk sementara, lanjut Peck, rasio tingkat utang tersebut memang tidak 
> mewakili risiko sistemik terjadinya krisis di suatu negara. Namun hal 
> tersebut dapat tumbuh menjadi tidak stabil jika pemerintah dan bank sentral 
> di negara-negara di Asia mengacuhkannya. "Kami berharap tindakan 
> makroprudensial yang tepat dapat dilakukan oleh pemerintah dan bank sentral 
> di Korea, China, Malaysia dan Thailand. Sedangkan Indonesia dan Filipina 
> terhindar dari risiko tersebut," imbuh dia.(Rheza/ha) 


Kirim email ke