Senin, 03/12/2007
Dividen & akuisisi jadi katalis Antam
Cetak
Konsumsi nikel global diperkirakan mulai naik pada tahun depan, dipicu oleh
lonjakan permintaan dari industri baja antikarat 10% menjadi 1,47 juta ton.
International Nickel Study Group (INSG) melaporkan kenaikan permintaan
tersebut bakal mengembalikan pasar yang sempat turun 5% tahun ini dibandingkan
dengan permintaan tahun lalu.
Menurut INSG, penurunan permintaan terjadi setelah dalam lima tahun terakhir
permintaan melonjak hingga lebih dari empat kali lipat berkat pertumbuhan di
China.
Sebelum turun, harga nikel sempat mencetak rekor di London Metal Exchange
sebesar US$51.800 per ton pada 9 Mei 2007.
Ketika harga terlampau tinggi, sejumlah perusahaan pengolahan nikel termasuk
Baoshan Iron & Nikel ber-alih menggunakan nikel besi cor (nickel pig iron).
Pengalihan penggunaan ini yang kemudian menurunkan harga nikel 40%.
Kendati harga turun, analis CIMB-GK Securities Rania Rahmundita yakin industri
pertambangan nikel berada di ujung periode penggunaan pasokan (destocking).
Sebelumnya, dia mengekspektasikan penumpukan pasokan (restocking) akan dimulai
pada kuartal IV/2007.
Namun, dengan ketidakpastian global sekarang ini, banyak produsen baja
antikarat yang menunda pembelian nikel dengan harapan harga turun lebih jauh.
Akan tetapi tak perlu berkecil hati, Rania mengatakan restocking dapat saja
terjadi dalam waktu dekat yang secara potensial pada awal semester I/2008.
"Dengan ekspektasi harga nikel rebound pada semester I/2008, kami meningkatkan
asumsi harga nikel sepanjang tahun depan sebesar 7% menjadi US$15 per lb, atau
berada di atas konsensus," paparnya dalam riset mengenai PT Aneka Tambang Tbk
(Antam) yang dirilis pada 27 November.
Dengan harga US$15 per lb, nikel mestinya tetap menarik bagi produsen baja
antikarat, walaupun banyak tersedia nikel besi cor-yang kandungan nikelnya
lebih rendah.
Dalam laporan risetnya, Rania juga menyoroti soal maraknya aksi merger dan
akuisisi terhadap aset nikel yang terjadi di seluruh dunia.
Dia menilai konsolidasi industri semacam ini positif karena memungkinkan
konsentrasi produksi serta mendongkrak margin operasional dan tingkat
keuntungan penggunaan modal (return on capital employed/ROCE) dalam jangka
panjang.
Dengan latar belakang itu, CIMB-GK Securities menggenjot asumsi harga nikel
jangka panjang sebesar 33% menjadi US$8 per lb, sedikit di atas konsensus.
Sementara itu, di tengah ketidakpastian dan risiko global serta pelemahan
nilai tukar dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia, harga emas diharapkan
meroket.
"Kami menaikkan asumsi harga emas Antam sebesar 7%-30% untuk 2007-2009 menjadi
masing-masing US$695 per troy ounce, US$800 dan US$650 per troy ounce. Kami
percaya eksposur emas Antam ketinggalan dibandingkan dengan kenaikan harga
sahamnya yang diperkirakan bisa berlanjut hingga tahun depan," ujar Rania.
Di sisi produksi, Antam menggunakan minyak bakar (marine fuel oil/MFO) dalam
jumlah besar sebagai bahan bakar untuk pabrik FeNi (ferronickel).
Namun, Rania menilai dengan harga nikel yang tinggi seperti sekarang ini,
imbas kenaikan harga minyak akan cukup kecil.
Untuk setiap kenaikan 10% harga minyak, laba bersih Antam hanya akan berkurang
2%. Sebaliknya, setiap kenaikan harga nikel 10%, laba perseroan bakal
terdongkrak lebih dari 12%.
Genjot estimasi
Menyusul sejumlah perubahan asumsi dalam proyeksi kinerja Antam, CIMB-Gk
menaikkan estimasi laba bersih per saham (earning per share/EPS) BUMN itu pada
2007-2009 sebesar 4%-12%.
Mereka juga mengubah metodologi valuasi menjadi berbasis rasio harga saham
dibandingkan dengan laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) dari
sebelumnya gabungan antara arus kas diskonto, PER, dan kelebihan keuntungan
dalam jangka panjang.
Perubahan ini dilakukan menyusul penguatan momentum pasar nikel setelah adanya
aksi merger dan akuisisi, sehingga dapat meningkatkan nilai pertambangan nikel.
"Dengan memperhitungkan diskon 7%-13% terhadap harga nikel global dan valuasi
emas, mengingat risiko operasional Antam yang lebih tinggi, kami menilai
operasi nikel Antam Rp4.765 per saham."
Angka itu berdasarkan perhitungan estimasi PER 2008 sebesar 11,6 kali.
Untuk aset emasnya, CIMB-GK menggunakan valuasi Rp715 per saham berdasarkan
perkiraan PER 2008 sebesar 20 kali. Sementara itu, untuk proyek Tayan dan
perusahaan gabungan lainnya, valuasi ditetapkan mencapai Rp1.000 per saham.
Dengan semua itu, mereka menetapkan target harga Rp6.500 per saham dari semula
Rp2.820. Target itu diperoleh dari valuasi campuran.
Rania mengatakan katalis jangka pendek terhadap saham berkode perdagangan ANTM
ini dapat meliputi pembagian dividen yang mengejutkan menyusul cadangan kas
perseroan, percepatan proyek Tayan, dan akuisisi terkait dengan aset
pertambangan emas. Keduanya diharapkan mampu mengunci nilai jangka panjang bagi
Antam.
Pemodal juga perlu memerhatikan sejumlah risiko kunci seperti kemungkinan
penutupan lebih lanjut pabrik FeNi III pada tahun depan.
Namun, Rania menegaskan hal itu juga tak perlu menjadi kekhawatiran mengingat
kerugian produksi ferronickel dapat diatasi dengan penjualan bijih nikel dan
emas dalam jumlah yang lebih banyak.
---------------------------------
Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now.