Yakin deh, kalau listing di ISX, pasti kodenya JOKO.. Buy JOKO!! hehe..
Anyway, teknologi ini saya rasa cukup bagus untuk alternatif energi yang lebih ramah lingkungan. Mengacu ke hukum kekekalan energi, mestinya energi yang dibutuhkan untuk memecah H20 adalah SAMA (kalau tidak lebih besar) dengan energi yang dihasilkan. MUNGKIN baru ekonomis kalau energi untuk memecah H20 diperoleh dari tenaga surya (solar cell) <http://www.howstuffworks.com/solar-cell.htm>. Kalau dari PLN ya sama aja. Jadi kalau dipikir ini hanya konversi energi saja. But it's still good thing though.. SAVE THE PLANET. Regards, DE On Dec 6, 2007 6:42 AM, ALX™ <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mudah2an benar adanya bahwa bisa diproduksi/dijualdengan harga Rp.3.000 > /ltr > Dan mudah2an benar adanya bahwa perhitungan biayanya juga dg > mempertimbangkan biaya investasi dlsb. > (jangan kayak dulu lagi orang-orang mengkritik kita bisa jual pesawat > murah krn harga pokoknya dan tidak memperhitungkan biaya investasi...biaya > gaji, litbang dlsb) > > Mudah2an... Who knows? ;-) > > -- > Salam > ALX™ > > > On 12/6/07, Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED] > wrote: > > > > > Jawa Pos > > Jumat, 30 Nov 2007 > > Siapkan Produksi 10 Liter per Detik > > > > Sementara itu, Joko Suprapto mengungkapkan, blue energy bisa murah > > karena teknologi listrik yang murah pula. "Yang utama harus ada > > listrik murah. Kalau tidak, sama saja. Sebab, energi untuk membuat > > blue energy ini sangat besar," ungkapnya. > > > > Joko mengaku, saat ini bisa menghasilkan blue energy dengan harga > > sekitar Rp 3.000 per liter untuk setiap bahan bakar pengganti. > > Termasuk premium dan solar. "Kalau minyak tanah sekitar dua ribuan > > tanpa subsidi," jelasnya. > > > > > > >
