Kebenaran dari hasil riset Econit 2008 "kali ini" masih membutuhkan waktu untuk 
dibuktikan, tapi kelompok Econit ini sejak awal 2000-an berulang kali 
meramalkan bahwa Indonesia akan mengalami Krismon ke 2, yang sampai saat ini 
belum terbukti walaupun sudah berjalan 7 tahun lebih dalam milenium ini. Apakah 
membutuhkan another 7 tahun lagi untuk membuktikan risetnya "kali ini"?


  ----- Original Message ----- 
  From: Harsito ismu 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, January 26, 2008 8:39 PM
  Subject: Re: [saham] Re: Econit: Ekonomi Indonesia 2008 Hadapi "Awan Mendung"


  Tanggapan saya;

  Saya kok kurang mengerti dengan tulisan ini,
  seharusnya econit sebagai lembaga indepandent, membuat
  tulisan yang netral tidak tendensius seperti ini.
  Hampir seluruh ahli2 ekonomi baik dari luar atau dalam
  negeri membuat analisis bahwa ekonomi indonesia
  cukup....sekali lagi cukup bagus di thn 2008 ini
  (tidak bagus2 sekali memang). Tapi ini kok, nada nya
  sumbang sekali. Terus di tulis nya pas kondisi JSX
  penuh ketidakpastian.

  Saya malah menjadi kuatir, jangan2 econit punya misi
  tersendiri dengan harga2 saham di JSX. Atau jadi
  corong promosi nya bandar tertentu.
  Kalau nanti taruhlah, JSX hasil akhirnya ternyata
  cukup, cukup saja seperti yg diramalakan. Apa enggak
  malah malu itu econit yg bikin ramalan2 spt itu?

  cheers,

  --- BI9 80SS <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  > 16/01/08 11:56
  > Econit: Ekonomi Indonesia 2008 Hadapi "Awan
  > Mendung" 
  > Jakarta (ANTARA News) - Lembaga riset ekonomi Econit
  > Advisory Group mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia
  > menghadapi "awan mendung" pada tahun 2008.
  > 
  > "Tidak berbeda dengan kondisi sebelum krisis
  > 1997/1998 yang ditandai dengan munculnya berbagai
  > resiko, akan merupakan awan mendung bagi ekonomi
  > Indonesia," kata ekonom Econit, Rizal Ramli, ketika
  > menyampaikan Economic Outlook 2008 di Jakarta, Rabu.
  > 
  > Menurut dia, jika terjadi goncangan, baik domestik
  > maupun eksternal, awan mendung itu bisa terakumulasi
  > mengakibatkan instabilitas ekonomi dan sosial.
  > 
  > "Jika kita membandingkan kondisi sebelum krisis
  > ekonomi dan politik tahun 97/98 dengan saat ini
  > (2008), sulit untuk tidak menarik kesimpulan bahwa
  > berbagai faktor pemicu krisis muncul dengan besaran
  > yang berbeda-beda," kata Rizal.
  > 
  > Menurut dia, saat ini terjadi kontradiksi kinerja
  > indikator finansial yang sangat baik (finansial
  > bubble), sementara di sisi lain terjadi perlambatan
  > sektor riil dan percepatan deindustrialisasi sektor
  > manufaktur.
  > 
  > Perbaikan kinerja indikator finansial sangat
  > vulnerable (rapuh) jika tidak didukung oleh
  > perbaikan produktivitas, daya saing dan investasi
  > riil, karena yang terbentuk akhirnya hanya balon
  > finansial yang akan terus menggelembung sebelum
  > akhirnya kempes secara perlahan atau mendadak.
  > 
  > Jika balon finansial itu kempes secara perlahan,
  > ekonomi akan mengalami soft landing dengan dampak
  > relatif minimum. Tetapi jika balon finansial
  > tersebut kempes mendadak akibat shock internal
  > maupun eksternal maka ekonomi akan mengalami hard
  > landing dengan dampak yang lebih luas dan kompleks.
  > 
  > Menurut Rizal, penyebab utama kontradiksi sektor
  > finansial dan riil adalah derasnya aliran modal
  > global dalam bentuk hot money ke negara-negara
  > berkembang Asia termasuk Indonesia. Sampai November
  > 2007, jumlah dana asing di instrumen finansial
  > Indonesia mencapai sekitar Rp891 triliun.
  > 
  > Goncangan baik karena faktor eksternal maupun
  > domestik, dapat berakibat terjadinya arus balik hot
  > money dan terkoreksinya balon finansial. 
  > 
  > Indonesia sangat rentan terhadap shock karena
  > sejumlah faktor. Faktor itu adalah peningkatan
  > ekspor dan cadangan devisa hanya ditopang kenaikan
  > harga komoditi internasional dan aliran hot money.
  > Peningkatan itu tidak diikuti dengan peningkatan
  > daya saing ekspor atau peningkatan aliran investasi
  > langsung.
  > 
  > Faktor lainnya adalah pertumbuhan sektor perbankan
  > yang semu. Net interest margin perbankan pada 2007
  > sangat besar mencapai 5,7 persen, namun tidak
  > didukung oleh perbaikan kinerja fundamental seperti
  > peningkatan penggunaan kredit.
  > 
  > Econit juga mengungkapkan mulai adanya kelebihan
  > pasokan di sektor properti komersial. Suplai sektor
  > properti tidak diikuti dengan kenaikan permintaan.
  > 
  > Faktor yang juga menyebabkan Indonesia rawan
  > guncangan adalah kenaikan harga saham yang melebihi
  > kinerja fundamental dari emiten di pasar modal.
  > 
  > Rekam jejak (track record) pemerintah yang buruk
  > dalam meredam gejolak harga kebutuhan pokok dan
  > dinamika politik domestik yang mulai meningkat lebih
  > awal dari dugaan, juga menjadi faktor penyebab
  > Indonesia rawan guncangan.
  > 
  > "Berbagai faktor/resiko itu merupakan awan mendung
  > bagi ekonomi Indonesia. Jika terjadi guncangan baik
  > domestik maupun eksternal, awan mendung itu bisa
  > terakumulasi mengakibatkan instabilitas ekonomi dan
  > sosial," tegas Rizal Ramli.(*)
  > 
  > 
  > 
  > Copyright © 2008 ANTARA
  > 
  > 
  > 
  > 
  > 
  > ---------------------------------
  > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

  __________________________________________________________
  Never miss a thing. Make Yahoo your home page. 
  http://www.yahoo.com/r/hs


   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.11/1244 - Release Date: 1/25/2008 
7:44 PM

Kirim email ke