Memasyarakatkan Pasar Modal, Sebuah Mimpi... KOMPAS/LUCKY PRANSISKA / Kompas Images Pialang memantau pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Selasa (8/7). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 24,845 poin ke posisi 2.278,973.
Kamis, 10 Juli 2008 | 03:00 WIB Reinhard Nainggolan Perjokian di pasar modal Indonesia telah berlangsung lebih dari 10 tahun. Praktik menggunakan jasa orang lain untuk mendapatkan saham perdana itu terjadi karena minimnya saham yang dilepas ke investor ritel. Adanya saham yang dilepas ke investor ritel membangun citra seolah pasar modal telah menyentuh masyarakat luas. Hari kedua penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham PT Adaro Energy di kawasan Semanggi Expo, Jakarta, Rabu (9/7), tetap dipenuhi ratusan joki. Yang berbeda hanyalah soal penampilannya. Di hari pertama, mayoritas joki mengenakan pakaian seadanya, bahkan banyak yang memakai sandal dan kaos oblong. Joki wanita usia separuh baya, misalnya, ada yang mengenakan kebaya seakan hendak menghadiri kondangan. Namun, pada hari kedua, penampilan mereka sudah necis dan rapi. Joki pria memakai sepatu pantofel serta kemeja lengan panjang berhiaskan dasi. Beberapa di antara mereka bahkan mengenakan jas dan menenteng tas kerja. Joki wanita mengenakan blazer dan sepatu hak tinggi. Karena jumlahnya terbatas, pakaian dan pernak-perniknya dipakai bergantian. Kalau mereka tidak didandani seperti ini enggak bisa dapat formulir. Sekarang lebih ketat, kata Joan (bukan nama sebenarnya), seorang investor ritel, yang mengoordinir puluhan joki setiap kali penawaran umum perdana saham digelar. Menurut Joan, praktik perjokian yang melibatkan perusahaan-perusahaan sekuritas itu sudah menjadi rahasia umum. Hal itu telah berlangsung lebih dari 10 tahun. Praktik perjokian marak terjadi karena mayoritas penjamin pelaksana emisi IPO sebuah perusahaan hanya mengalokasikan sekitar 2 persen dari jumlah saham, yang dilepas ke publik untuk investor perorangan. Sisanya, sebesar 98 persen menjadi jatah investor institusi, khususnya institusi asing. Sebagian besar dari jatah 2 persen saham yang dilepas untuk investor ritel itu pun disinyalir telah dipesan orang-orang khusus yang tengah berkuasa. Oleh Karena itu, banyak kalangan menduga alokasi saham sekitar 2 persen kepada investor ritel hanya untuk memenuhi persyaratan yang diajukan Bapepam-LK, yaitu saham perusahaan terbuka harus dimiliki sedikitnya oleh 300 pihak. Ironisnya, ketika yang melakukan IPO perusahaan-perusahaan yang kurang berbobot, saham yang dicadangkan untuk investor ritel cukup besar, bisa lebih dari 50 persen. Investor ritel kerap memborong saham perusahaan yang kurang berbobot itu karena menilai harga setiap saham perdana itu murah. Namun, saat diperdagangkan di bursa, harga saham itu ternyata anjlok. Ya begini, kalau sahamnya bagus, untuk dapat 10 lot saja susahnya minta ampun. Kalau sahamnya jelek, baru dikasih ke kita, kata Ridwan (30), seorang investor perorangan saat ditemui di Semanggi Expo. -- Surabaya Office: Tersedia ruang kantor siap pakai di kota Surabaya. Ukuran 50 & 12 m2. Fasilitas lengkap, 3km dari pusat kota. Hubungi 031-5013570, HP: 0852 3008 3510 atau email: [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------ Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI. Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham [EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
