ICBP secara sentimen sudah mencukupkan waktunya berada dalam deraan dan
tekanan pasar. Konfirmasi dari otoritas berwenang dan berdaulat di Singapura
serta Malaysia mencukupkan kekhawatiran yang sempat berkembang, dan lebih
dari cukup untuk mengembalikan confidence pasar. Secara umum, menghentikan
konsumen makan mi di tengah akselerasi konsumsi mi itu sendiri dari tahun ke
tahun hampir dirasa tidak mungkin, kecuali ada intervensi langkah-langkah
hukum untuk melarang, yang juga lebih tidak mungkin lagi. Yang dialami oleh
mi instan lebih dulu dialami oleh produk yang mendominasi pasar seperti Coca
Cola yang di awal masa jayanya pernah diributkan dengan kontroversi sebagai
minuman obat bukan minuman biasa, dan sampai saat ini isu tentang bahaya
minuman soda karbonasi masih timbul tenggelam. Yang terjadi tingkat konsumsi
soda justru meningkat.

Indomie noodles in Singapore safe to eat (
http://www.channelnewsasia.com/stories/singaporelocalnews/view/1086815/1/.html
)
Indomie safe to eat: Malaysia (
http://health.asiaone.com/Health/News/Story/A1Story20101013-242206.html)

Secara strategi dagang dengan competitive advantage sebagai pengelola merek
dagang salah satunya mi instan dari sekian produk konsumsi lainnya, tidak
salah menempatkan ICBP sebagai paralel lokal dari produk global yang
memiliki competitive advantage seperti Coca Cola atau P&G. Dengan penguasaan
pengelolaan merek dagang dan pangsa pasar yang sangat signifikan,
produk-produk ICBP secara teknis memiliki efek "monopoli" yang dengan
sendirinya akan selalu mampu men-drive pasar ke depan dan akhirnya
meningkatkan earnings dan dividen untuk manfaat pemegang saham. Dan sebagai
produk konsumsi, produk-produk ICBP tidak akan lekang (durable)ditinggal
zaman sebagaimana produk teknologi akan selalu ditinggalkan masanya setiap 2
minggu (seperti produk telepon genggam).  "Durability" dan "Competitive
Advantage" adalah dua kata kunci yang menjadi pijakan investor sekelas
Warren Buffet dalam pencarian super stocks-nya.  Buffet pernah berujar,

"I look for business in which I think I can predict what they're going to
look like in ten to fifteen years' time. Take Wrigley's chewing gum. I don't
think the Internet is going to change how people chew gum."

INDF price bias. Banyak pelaku pasar yang segera membandingkan harga ICBP
saat ini di kisaran 5400-5700 sebagai harga yang mahal dengan membandingkan
terhadap saham induknya INDF, dan terlebih acuannya terhadap P/E ratio.
Kesan pertama membenarkan jika ICBP seharusnya di bawah harga INDF dan harga
INDF sendiri (5000-an)sudah di bawah harga IPO-nya dulu di 6200. Well, itu
konklusi kilat yang kurang tepat. INDF sudah mengalami stock split 2 kali (
http://www.indofood.com/about_history.aspx). Tahun 1996 dengan rasio 1:2 dan
2000 1:5. Artinya jika ingin melihat "label" harga INDF terhadap ICBP,
kalikan dulu dengan leverage stock split rasionya (kurang lebih 5-7) dan
akan didapat "label" riil di 30.000. Bagaimana dengan P/E ratio ICBP yang di
kisaran 15-25 di atas PER sektoral? Well, PER tool yang bermanfaat untuk
menampilkan sekilas secara kilat valuasi, tetapi tidak selalu akurat untuk
merefleksikan ekspektasi pasar, terlebih pengaruh cycle bursa lebih dominan
menjelaskan mengapa PER tinggi ketimbang PER memprediksi cycle akan ke mana.
William O'Neill (How to Make Money in Stocks) pernah berujar,

"Reliance on P/E ratios often ignores more basic trends. The general market,
for example, may have topped, in which case all stocks are headed lower. To
say a company is undervalued because at one time it was selling at 22 times
earnings and it can now be bought for 15 is ridiculous and somewhat naive."

Namun demikian, saya tidak akan men-dismiss PER begitu saja, tetapi seperti
Bill menggunakannya lebih sebagai sarana estimasi ekspansi harga untuk 2
tahun ke depan. Caranya, dengan mengalikan PER actual saat buying dengan
prediksi kenaikan PER 2 tahun ke depan, dan kemudian mengalikan PER future
tersebut dengan estimasi earnings 2 tahun ke depan. Dengan estimasi PER
ICBP, katakanlah 20 pada saat beli di 5550 maka 2 tahun ke depan PER
diprediksi naik 30% (20 X 130%=26). Kemudian eps diestimasi 2 tahun ke
depan, misalnya 336 maka P/E expansion atau ekspansi harga investasi 2 tahun
ke depan diharapkan mencapai 8736 (26 X 336) atau naik 57% dari buy point di
5550. Not bad, dan jangan lupakan potensi stock split seperti induknya dulu.

Mengapa tidak memilih INDF? Meski secara hukum masih memegang hak atas merek
dagang produk-produk ICBP, itu hanya persoalan administratif dan waktu
hingga semua hak atas merek akan dialihkan. Dan tidak hanya dialihkan,
tetapi belajar dari bagaimana korporasi lain meraup dana tambahan untuk
ekspansi induk di bidang lain di kemudian hari, bukan mustahil INDF bisa
melepas ICBP sebagaimana MPPA melepas Matahari Department Store (LPPS)-nya,
bukan? Dan dari aspek strategi investasi, mengapa memilih saham yang sudah
stock split, sementara ada saham yang jelas menghasilkan produk unggulan dan
belum stock split? Kalau saya investor, saya ingin rasakan potensi
pelipatgandaan harga setelah stock split, dan itu hanya berlaku untuk yang
belum stock split, ICBP.

Jadi, jika Anda sedang mencari saham pilihan investasi maka pertimbangkan
ICBP untuk long haul/long term investment mengingat Durable dan Competitive
Advantage-nya sebagaimana Warren Buffett memilih saham. Jika Anda tidak
punya kesabaran seperti Buffett menunggu at least 10 tahun, Anda bisa
terapkan aturan investasi guru Buffett, Benjamin Graham dengan investasi
intermediate, selama 2 tahun (time limit) atau target harga 50% (price
limit) yang mana yang lebih dulu. Saham defensif seperti ICBP pada sektor
konsumsi akan menjadi bantalan dan diversifikasi portofolio Anda atas
koreksi/fluktuasi selama IHSG mengarungi separuh/sepertiga sisa kejayaan
super bullish cycle-nya hingga paling lambat 2014.

"+"

Kirim email ke