Nice reviewwww 

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: positif01 <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 12 Nov 2010 09:21:02 
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Morgan Stanley: Kurangi porto saham Indonesia!

Sangat menarik mencermati pemberitaan di media lokal Indonesia karena tidak
ada satu pun yang mengangkat rilis posisi salah satu investment manager
global terbesar, Morgan Stanley terhadap prospek saham Indonesia. Alih-alih,
pemberitaan justru meng-eskalasi sentimen pemodal untuk berduyun-duyun
mengakumulasi di bawah momentum IPO Krakatau Steel yang juga sudah di luar
proporsi. Sentimen yang bersifat sementara sangat pendek sayangnya tidak
dikonfirmasi dengan posisi asing selaku pemegang 67% nilai transaksi di
bursa Indonesia.

Pada tanggal 31 Oktober, Rohatyn Group yang berisikan mantan bankir JP
Morgan mengeluarkan rilis untuk keluar dari pasar obligasi Indonesia (
http://www.bloomberg.com/news/2010-11-01/indonesia-local-currency-debt-rally-will-end-in-tears-rohatyn-predicts.html).
Sontak, mempengaruhi sentimen asing untuk memulai distribusi "big cap
stocks" seperti TLKM dan subsektor semen yang ditandai dengan koreksi tajam.
Dan pada 09 November, Selasa kemarin, Morgan Stanley menyatakan lebih
eksplisit untuk mengurangi secara drastis portofolio saham di Asia Tenggara
khususnya Indonesia, sembari menekankan pengalihan dana ke Cina dan Korea
Selatan (
http://www.bloomberg.com/news/2010-11-10/morgan-stanley-picks-china-korea-equities-over-southeast-asia.html).
Yang menjadi perhatian utama dalam analisis Morgan Stanley adalah valuasi
ekuitas yang sudah terlampau tinggi dirasakan tidak lagi mengimbangi potensi
laba emiten yang tinggi. "...high earnings growth expectations are embedded
in valuations for some Southeast Asian markets, leaving them “no margin of
error” for unexpected interest rate increases," ujar Jonathan Garner, Morgan
Stanley’s Hong Kong-based chief Asian and emerging-market strategist.

Tanpa menunggu lama, dua hari terakhir bursa Indonesia disuguhkan dengan
atraksi awal distribusi asing, mulai dari debutan baru Krakatau Steel, dan
kemarin INDY. Beberapa hari ke depan diprediksi distribusi akan berlanjut.
Bagaimana investor/trader sebaiknya mengantisipasi? Waspada dan jauhi
big-cap stocks khususnya yang beberapa saham utama dalam LQ45. Ikuti ritme
kecenderungan pasar global yang saat ini mulai menjauhi komoditas. Fokus
kepada mid-cap stocks khususnya yang pada sektor defensif seperti ritel dan
konsumer yang mengalami cukup pullback seperti MPPA dan MAPI. Pada sektor
lain yang mungkin masih menyimpan bobot upside, seperti IPOL, atau big-cap
yang kembali diakumulasi asing seperti TLKM. Untuk antisipasi distribusi
asing, jika cermat mengikuti akumulasi asing satu tahun terakhir maka dapat
diprediksikan next target hit list yang akan terseret turun, yaitu saham
yang telah terakumulasi cukup besar, antara lain:  ADRO, ASII, INCO, BBRI
dan AALI. Ingat, ini bukan 'exhaustive list'.

Bagaimana KRAS? Tidak perlu penjelasan panjang lebar. Jika investor
long-term tulen seperti Warren Buffet sudah menjadi 'rule of thumb' bahwa
investor tidak akan menumpuk dana pada aset 'cyclical' yang dipengaruhi
fluktuasi harga musiman. 'Underwriter' KRAS sendiri pun sudah membuka truf
rahasia bagaimana valuasi awal yang dilakukan menempatkan harga terbawah di
600 (
http://www.detikfinance.com/read/2010/11/05/153617/1487267/6/underwriter-semula-tetapkan-harga-saham-ks-rp-600-800).
Fakta bahwa penetapan target privatisasi harus menempuh jalur politik berupa
persetujuan parlemen tidak lagi menjadikan valuasi semata-mata persoalan
pendekatan teknis keuangan. Demikianlah "so on and so forth" kompromi
tercapai di 850. Bahkan jika valuasi dilakukan secara lebih konservatif
untuk mendapatkan 'margin of safety' untuk long term investment, 600 masih
bisa didiskon menjadi 400-450. Valuasi PBV terhadap global peer membenarkan
hal tersebut mengingat valuasi PER menimbulkan distorsi yang terlalu tinggi.
Tidak cukup sentimen dan cinta yang melandasi akumulasi, tetapi butuh akal
sehat dan suasana dingin. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di AS pada
1999-2000 yang dikenal dengan 'internet technologi bubble crash' sekalipun
mayoritas analis/trader berpijak pada premis simplisistis: "apapun yang
berbau internet pasti naik" sebelum akhirnya dalam 6-9 bulan terkapar.

"+"

Kirim email ke