Iya Shanghai… amsiong
Salam cuan, Tommy Yu Trainer & Technical Analyst --------------------------------------- Authorized Reseller Metastock & Amibroker Reseller FREE - 30 day Trial Metastock 11.0 & FREE 30 - day Realtime Datafeed, klik link dibawah ini <http://go.metastock.com/forms/trial?whc=JSXPro&pc=EQ-JSXPro> http://go.metastock.com/forms/trial?whc=JSXPro&pc=EQ-JSXPro Visit http://www.jsxpro.com Milis: [email protected] FB / Twitter : technicalist / @technicalist YM: [email protected] / MSN: [email protected] From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Jati Negara Sent: Friday, November 12, 2010 3:05 PM To: [email protected] Subject: Re: [saham] Morgan Stanley: Kurangi porto saham Indonesia! Boleh boleh saja Morgan kasih review seperti itu. Soal bener nggak nya ya kita lihatlah. Kalo ikut saran dia, coba anda lihat hari ini China, jeblok - blokkk ! --- Pada Jum, 12/11/10, [email protected] <[email protected]> menulis: Dari: [email protected] <[email protected]> Judul: Re: [saham] Morgan Stanley: Kurangi porto saham Indonesia! Kepada: [email protected] Tanggal: Jumat, 12 November, 2010, 2:25 AM Nice reviewwww Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone _____ From: positif01 <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 12 Nov 2010 09:21:02 +0700 ReplyTo: [email protected] Subject: [saham] Morgan Stanley: Kurangi porto saham Indonesia! Sangat menarik mencermati pemberitaan di media lokal Indonesia karena tidak ada satu pun yang mengangkat rilis posisi salah satu investment manager global terbesar, Morgan Stanley terhadap prospek saham Indonesia. Alih-alih, pemberitaan justru meng-eskalasi sentimen pemodal untuk berduyun-duyun mengakumulasi di bawah momentum IPO Krakatau Steel yang juga sudah di luar proporsi. Sentimen yang bersifat sementara sangat pendek sayangnya tidak dikonfirmasi dengan posisi asing selaku pemegang 67% nilai transaksi di bursa Indonesia. Pada tanggal 31 Oktober, Rohatyn Group yang berisikan mantan bankir JP Morgan mengeluarkan rilis untuk keluar dari pasar obligasi Indonesia (http://www.bloomberg.com/news/2010-11-01/indonesia-local-currency-debt-rally-will-end-in-tears-rohatyn-predicts.html). Sontak, mempengaruhi sentimen asing untuk memulai distribusi "big cap stocks" seperti TLKM dan subsektor semen yang ditandai dengan koreksi tajam. Dan pada 09 November, Selasa kemarin, Morgan Stanley menyatakan lebih eksplisit untuk mengurangi secara drastis portofolio saham di Asia Tenggara khususnya Indonesia, sembari menekankan pengalihan dana ke Cina dan Korea Selatan (http://www.bloomberg.com/news/2010-11-10/morgan-stanley-picks-china-korea-equities-over-southeast-asia.html). Yang menjadi perhatian utama dalam analisis Morgan Stanley adalah valuasi ekuitas yang sudah terlampau tinggi dirasakan tidak lagi mengimbangi potensi laba emiten yang tinggi. "...high earnings growth expectations are embedded in valuations for some Southeast Asian markets, leaving them “no margin of error” for unexpected interest rate increases," ujar Jonathan Garner, Morgan Stanley’s Hong Kong-based chief Asian and emerging-market strategist. Tanpa menunggu lama, dua hari terakhir bursa Indonesia disuguhkan dengan atraksi awal distribusi asing, mulai dari debutan baru Krakatau Steel, dan kemarin INDY. Beberapa hari ke depan diprediksi distribusi akan berlanjut. Bagaimana investor/trader sebaiknya mengantisipasi? Waspada dan jauhi big-cap stocks khususnya yang beberapa saham utama dalam LQ45. Ikuti ritme kecenderungan pasar global yang saat ini mulai menjauhi komoditas. Fokus kepada mid-cap stocks khususnya yang pada sektor defensif seperti ritel dan konsumer yang mengalami cukup pullback seperti MPPA dan MAPI. Pada sektor lain yang mungkin masih menyimpan bobot upside, seperti IPOL, atau big-cap yang kembali diakumulasi asing seperti TLKM. Untuk antisipasi distribusi asing, jika cermat mengikuti akumulasi asing satu tahun terakhir maka dapat diprediksikan next target hit list yang akan terseret turun, yaitu saham yang telah terakumulasi cukup besar, antara lain: ADRO, ASII, INCO, BBRI dan AALI. Ingat, ini bukan 'exhaustive list'. Bagaimana KRAS? Tidak perlu penjelasan panjang lebar. Jika investor long-term tulen seperti Warren Buffet sudah menjadi 'rule of thumb' bahwa investor tidak akan menumpuk dana pada aset 'cyclical' yang dipengaruhi fluktuasi harga musiman. 'Underwriter' KRAS sendiri pun sudah membuka truf rahasia bagaimana valuasi awal yang dilakukan menempatkan harga terbawah di 600 (http://www.detikfinance.com/read/2010/11/05/153617/1487267/6/underwriter-semula-tetapkan-harga-saham-ks-rp-600-800). Fakta bahwa penetapan target privatisasi harus menempuh jalur politik berupa persetujuan parlemen tidak lagi menjadikan valuasi semata-mata persoalan pendekatan teknis keuangan. Demikianlah "so on and so forth" kompromi tercapai di 850. Bahkan jika valuasi dilakukan secara lebih konservatif untuk mendapatkan 'margin of safety' untuk long term investment, 600 masih bisa didiskon menjadi 400-450. Valuasi PBV terhadap global peer membenarkan hal tersebut mengingat valuasi PER menimbulkan distorsi yang terlalu tinggi. Tidak cukup sentimen dan cinta yang melandasi akumulasi, tetapi butuh akal sehat dan suasana dingin. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di AS pada 1999-2000 yang dikenal dengan 'internet technologi bubble crash' sekalipun mayoritas analis/trader berpijak pada premis simplisistis: "apapun yang berbau internet pasti naik" sebelum akhirnya dalam 6-9 bulan terkapar. "+"
