Ya, benar. Jika semuanya, misalnya, dalam 3 hari terakhir melihat indikator
komoditas berusaha kembali mendapatkan kejayaan singkatnya, tentu semua
'traders/investors' dari segala penjuru dunia sudah melihat atau bahkan
mengetahui lebih dulu satu dari lainnya. Jika semuanya berpikir, indikator
komoditas naik maka besok saya tumpuk komoditas, semua orang akan melakukan
hal yang sama. Kenapa? Karena terlalu sederhana dan mudah memahaminya.
Permasalahannya, sudah seberapa cepat Anda bereaksi? Apakah aksi Anda di
awal atau justru di penghujung hajatan, lebih 'cilaka' lagi setelah hajatan
singkat selesai. Dalam konteks ini, kita mengingat pepatah pasar bahwa
"Market discounts everything" yang artinya pasar, khususnya pasar saham,
selalu bergerak mengantisipasi lebih dulu.

Oleh karena itu, mengenai gejala 'rebound' komoditas beberapa hari terakhir
ini, terindikasi sudah diperhitungkan ('priced-in') dalam harga saham-saham
komoditas di BEI bukan lagi sejak Desember, tetapi sejak November lalu.
Kondisi ini menjustifikasi sekaligus menjawab pertanyaan, mengapa harga
saham-saham komoditas tidak bisa naik lebih jauh lagi. Market, terlebih
smart and big money tidak dalam posisi 'stand-by' untuk masuk, tetapi
'stand-by' untuk mengamati koreksi harga saham-saham komoditas yang
memberikan bobot 60-70% IHSG yang sudah dalam tahap 'overvalued' menurut
konsensus banyak analis, lokal maupun global. Kita bisa refleksikan tindakan
'timing' dari pemain-pemain komoditas besar global yang sudah mendiskon dan
mengantisipasi pasar lebih dulu. Belum lama kita dengar bagaimana JPMorgan
telah dituding banyak pihak bahwa mereka telah melakukan penjualan'
besar-besaran atas komoditas perak ('silver') sehingga mendorong
dilakukannya investigasi oleh CFTC (US Commodity Futures Trading Comission).
Kontroversi penjualan masif perak oleh JPMorgan kemudian dibarengi dengan
aksi mereka memborong tembaga ('copper') yang oleh media Inggris memuat
berita disebutkan sejumlah US$1,5 miliar atau menurut LME sekitar 50-80%
dari stok 350.000 ton. JPMorgan, namun demikian, pernah salah dan kalah juga
ketika pada April lalu salah satu 'trader'-nya Chan Bhima kehilangan US$130
juga karena bertaruh kenaikan harga batubara Eropa pada waktu yang tidak
tepat. (
http://www.fiercefinance.com/story/jpmorgans-commodities-prowess-stokes-controversy/2010-12-14?utm_medium=rss&utm_source=rss
)

Dalam kondisi pasar menjelang akhir tahun yang volatil dengan kecenderungan
melemah di tengah sejumlah ketidakpastian regional dan global, lebih bijak
menghindari kontroversi dan saham-saham yang kenaikannya sudah jauh
diantisipasi sebelumnya seperti komoditas, dan memilih justru sebaliknya
saham-saham yang penurunannya sudah dihitung dalam perkembangan harga
terkini. Ciri-ciri saham yang sudah dihitung turun harganya oleh pasar,
seperti ASII. Pilihan big caps ini menjelang akhir tahun tidak salah juga
mengingat salah satu broker terbesar dunia, Deutsche Bank (DB), belum lama
ini memberikan indikasi dalam catatannya tentang prospek saham-saham Asia
yang berpotensi naik sampai 30% di 2011 atas dasar stimulus. Kurang lebih
ahli-ahli strategi DB merekomendasikan 'cyclical industries' untuk Asia, di
antaranya auto dan retail (
http://www.bloomberg.com/news/2010-12-14/asia-stocks-to-gain-as-much-as-30-in-2011-on-stimulus-deutsche-bank-says.html).
Untuk dua kategori ini, saat ini yang langsung terbersit dalam pikiran
adalah ASII dan MPPA. Sehubungan dengan ASII gejalan 'priced-in' atau sudah
diperhitungkannya faktor-faktor eksternal negatif, seperti pencabutan
subsidi BBM dan bahkan rencana penerapan ERP (electronic road pricing) oleh
Pemda DKI, sudah berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan lalu, dan
refleksi harga 2 minggu terakhir yang hanya bergelayut di 52-55.000
menunjukkan bahwa pasar sedang dan sudah menghitung dampaknya. Saatnya
justru, sentimen positif yang selama ini menjiwai investor untuk pilihan
auto akan segera berbalik mendorong harga ke atas. Persis seperti yang
disampaikan oleh Reuters "Analysts say the move could temporarily dampen
record car sales by firms such as Toyota and PT Astra International .
Investors have been betting on firms exposed to strong domestic demand that
is driving the economy."

So, ada yang 'priced-in' turun, kenapa pilih yang 'priced-in' naik? Jangan
terjebak 'bull trap' tapi tangkap 'bear trapped'!

'+'

Kirim email ke