Jadi maksudnya jual dulu UNSP, AALI, LSIP, ya ?
2010/12/15 positif01 <[email protected]>
>
>
> Ya, benar. Jika semuanya, misalnya, dalam 3 hari terakhir melihat indikator
> komoditas berusaha kembali mendapatkan kejayaan singkatnya, tentu semua
> 'traders/investors' dari segala penjuru dunia sudah melihat atau bahkan
> mengetahui lebih dulu satu dari lainnya. Jika semuanya berpikir, indikator
> komoditas naik maka besok saya tumpuk komoditas, semua orang akan melakukan
> hal yang sama. Kenapa? Karena terlalu sederhana dan mudah memahaminya.
> Permasalahannya, sudah seberapa cepat Anda bereaksi? Apakah aksi Anda di
> awal atau justru di penghujung hajatan, lebih 'cilaka' lagi setelah hajatan
> singkat selesai. Dalam konteks ini, kita mengingat pepatah pasar bahwa
> "Market discounts everything" yang artinya pasar, khususnya pasar saham,
> selalu bergerak mengantisipasi lebih dulu.
>
> Oleh karena itu, mengenai gejala 'rebound' komoditas beberapa hari terakhir
> ini, terindikasi sudah diperhitungkan ('priced-in') dalam harga saham-saham
> komoditas di BEI bukan lagi sejak Desember, tetapi sejak November lalu.
> Kondisi ini menjustifikasi sekaligus menjawab pertanyaan, mengapa harga
> saham-saham komoditas tidak bisa naik lebih jauh lagi. Market, terlebih
> smart and big money tidak dalam posisi 'stand-by' untuk masuk, tetapi
> 'stand-by' untuk mengamati koreksi harga saham-saham komoditas yang
> memberikan bobot 60-70% IHSG yang sudah dalam tahap 'overvalued' menurut
> konsensus banyak analis, lokal maupun global. Kita bisa refleksikan tindakan
> 'timing' dari pemain-pemain komoditas besar global yang sudah mendiskon dan
> mengantisipasi pasar lebih dulu. Belum lama kita dengar bagaimana JPMorgan
> telah dituding banyak pihak bahwa mereka telah melakukan penjualan'
> besar-besaran atas komoditas perak ('silver') sehingga mendorong
> dilakukannya investigasi oleh CFTC (US Commodity Futures Trading Comission).
> Kontroversi penjualan masif perak oleh JPMorgan kemudian dibarengi dengan
> aksi mereka memborong tembaga ('copper') yang oleh media Inggris memuat
> berita disebutkan sejumlah US$1,5 miliar atau menurut LME sekitar 50-80%
> dari stok 350.000 ton. JPMorgan, namun demikian, pernah salah dan kalah juga
> ketika pada April lalu salah satu 'trader'-nya Chan Bhima kehilangan US$130
> juga karena bertaruh kenaikan harga batubara Eropa pada waktu yang tidak
> tepat. (
> http://www.fiercefinance.com/story/jpmorgans-commodities-prowess-stokes-controversy/2010-12-14?utm_medium=rss&utm_source=rss
> )
>
> Dalam kondisi pasar menjelang akhir tahun yang volatil dengan kecenderungan
> melemah di tengah sejumlah ketidakpastian regional dan global, lebih bijak
> menghindari kontroversi dan saham-saham yang kenaikannya sudah jauh
> diantisipasi sebelumnya seperti komoditas, dan memilih justru sebaliknya
> saham-saham yang penurunannya sudah dihitung dalam perkembangan harga
> terkini. Ciri-ciri saham yang sudah dihitung turun harganya oleh pasar,
> seperti ASII. Pilihan big caps ini menjelang akhir tahun tidak salah juga
> mengingat salah satu broker terbesar dunia, Deutsche Bank (DB), belum lama
> ini memberikan indikasi dalam catatannya tentang prospek saham-saham Asia
> yang berpotensi naik sampai 30% di 2011 atas dasar stimulus. Kurang lebih
> ahli-ahli strategi DB merekomendasikan 'cyclical industries' untuk Asia, di
> antaranya auto dan retail (
> http://www.bloomberg.com/news/2010-12-14/asia-stocks-to-gain-as-much-as-30-in-2011-on-stimulus-deutsche-bank-says.html).
> Untuk dua kategori ini, saat ini yang langsung terbersit dalam pikiran
> adalah ASII dan MPPA. Sehubungan dengan ASII gejalan 'priced-in' atau sudah
> diperhitungkannya faktor-faktor eksternal negatif, seperti pencabutan
> subsidi BBM dan bahkan rencana penerapan ERP (electronic road pricing) oleh
> Pemda DKI, sudah berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan lalu, dan
> refleksi harga 2 minggu terakhir yang hanya bergelayut di 52-55.000
> menunjukkan bahwa pasar sedang dan sudah menghitung dampaknya. Saatnya
> justru, sentimen positif yang selama ini menjiwai investor untuk pilihan
> auto akan segera berbalik mendorong harga ke atas. Persis seperti yang
> disampaikan oleh Reuters "Analysts say the move could temporarily dampen
> record car sales by firms such as Toyota and PT Astra International .
> Investors have been betting on firms exposed to strong domestic demand that
> is driving the economy."
>
> So, ada yang 'priced-in' turun, kenapa pilih yang 'priced-in' naik? Jangan
> terjebak 'bull trap' tapi tangkap 'bear trapped'!
>
> '+'
>
>
>