Hayo tunggu apalagi. Buruan serbu. Ntar nyesel lho. Hehehe
-----Original Message-----
From: positif01 <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 10 Jan 2011 09:23:16 
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Saham Indonesia: Best time to BUY in the start of Year 2011

Jika tahun 2011 adalah waktu yang tersisa dalam hidup Anda ('lifetime'),
maka Jumat lalu dan beberapa hari ke depan adalah waktu terbaik Anda untuk
masuk dalam saham-saham pilihan untuk mengarungi prospek investasi 2011, now
is your best chance in your lifetime as these days may not come back for the
rest of the year.

Jumat lalu, investors/traders Indonesia 'dikagetkan' dengan reaksi pasar
yang begitu 'bearish' terhadap 'pull-back' di awal tahun. Bayangkan hanya
dalam 1 hari, IHSG sempat jatuh hingga 3,6% dan dana asing yang keluar ('net
ouflows') lebih dari Rp1,5 triliun merupakan 'outflows' yang terbesar sejak
Juli 2008.

Panik? Ya, jika Anda hanya berkutat pada hari Jumat itu saja dengan
mengabaikan ('dismiss') sejumlah fakta dan data, baik ke belakang (historis)
maupun proyeksi ke depan. Jika, cukup komprehensif membaca situasi, menurut
saya, saat ini justru adalah saat terbaik untuk mengarungi prospek 2011.
Tentu, Anda tidak dapat selalu berharap saham dan indeks akan terus naik
tanpa pernah turun. "What goes up must come down!", begitu yang terjadi
Jumat lalu sebagai 'pull-back'. Seperti laksana argo taksi, maka 'start'
yang positif di awal tahun 2011 lalu ibarat di-reset ulang ke titik 0. Itu
sama halnya dengan kesempatan kedua yang diberikan pasar kepada Anda untuk
dapat lari lebih baik di waktu tersisa. Mengapa saat yang terbaik untuk
mengawali investasi 2011?

1) Mayoritas indeks utama global/regional Jumat lalu mengalami 'pull-back',
tidak terkecuali NYSE/Nasdaq, FTSE hingga Asia Tenggara. Namun demikian,
perkembangan semua indeks kunci mengawali tahun 2011 ini bersepakat satu
kata: memulai Naik, termasuk IHSG. Bahkan beberapa indeks acuan global
seperti S&P 500 masih naik 1,1% pada 5 hari pertama perdagangan di 2011,
sekaligus merupakan kenaikan terbesar mingguan dalam 4 minggu terakhir.
Secara keseluruhan saham-saham AS naik selama 6 minggu berturut-turut dan
merupakan rangkaian kenaikan berturut terlama sejak April 2010. Mengenai
perkembangan indeks di Asia Tenggara, Reuters melaporkan Jumat lalu setelah
penutupan perdagangan yang dramatis bahwa, "However, stocks in the region
had a strong start in the first trading week of the year thanks to hopes of
good earnings growth at listed firms and of strong economic growth in Asia."

2) Laju saham AS tetap positif tetapi dalam tempo melambat. Adalah
kepentingan 'emerging markets', untuk melihat saham-saham AS tetap melaju
agar tidak menghambat 'global economy recovery', tetapi juga tidak melaju
sedemikian kencang yang akan mendorong dana-dana murah ('hot money') hasil
'quantitative easing' kembali dari 'emerging markets' ke 'home countries'
AS/Eropa. Dan, berterima kasih kepada rilis data tenaga kerja AS Jumat lalu
yang masih menunjukkan hasil yang 'mixed'. Meski 'unemployment rate' turun
signifikan dari 9,8% menjadi 9,4% yang merupakan terendah sejak May 2009,
akan tetapi kenaikan 'non-farm payrolls' atau indikasi jumlah pekerjaan baru
yang terisi, hanya naik sebanyak 103.000 atau jauh di bawah ekspektasi
150.000. Kondisi ini menunjukkan bahwa terlepas dari membaiknya mayoritas
indikator ekonomi AS, khususnya yang menggambarkan progress/prospek di pasar
keuangan, realitas riil di masyarakat, perbaikan ekonomi masih berjalan
tertatih-tatih. Ben Bernanke, Gubernur Federal Reserve, menguatkan
sinyalemen kemajuan dalam tempo yang lambat ini dengan menyatakan Jumat
lalu, "it could take four to five more years for the job market to normalize
fully". Sinyalemen ini memberikan kesempatan bagi sejumlah 'emerging
markets', seperti Indonesia untuk 'buying time' membenahi fasilitas
infrastruktur yang dapat menopang laju foreign direct investment, sekaligus
mengejar status 'investment grade'-nya pada tahun ini dengan menjaga
stabilitas fiskal dan moneter sebaik mungkin. Data yang 'mixed' dari AS ini
akan kembali menjadikan dana-dana asing harus berpikir 10 kali sebelum
benar-benar memutuskan untuk keluar dari 'emerging markets'.

3) Antisipasi Inflasi di Indonesia. Inflasi telah menjadi isu sentral di
awal 2011. Dengan inflasi tahunan pada Desember lalu yang di atas estimasi
BI dan serangkaian kenaikan komoditas, turut menambah kekhawatiran sejumlah
pelaku pasar. Terlebih, BI memilih untuk menaikkan GWM ketimbang suku bunga,
sehingga persepsi pelaku pasar cenderung untuk men-downgrade prospek nilai
investasi di Indonesia yang tergerus dengan kenaikan inflasi. Namun
demikian, kekhawatiran ini, sudah coba dijawab oleh Pemerintah Indonesia
dengan serangkaian tindakan konkret, khususnya terkait pengendalian harga
pangan yang telah menjadi sumber kenaikan inflasi. Pada akhir pekan lalu,
setidaknya ada 2 sinyalemen tindakan penting yang perlu dicatat oleh pelaku
pasar:
a) Pemerintah Indonesia akan memangkas bea impor pangan (
http://www.reuters.com/article/idUSJKB00420220110107);
b) selain langkah langsung pemadaman harga pangan, Pemerintah melalui BPS
juga akan 'membenahi' perhitungan angka inflasi khususnya bobot pada
komponen pangan yang volatil (
http://economy.okezone.com/read/2011/01/07/20/411535/bps-didesak-keluarkan-cabai-dari-perhitungan-inflasi).
Meski BPS mengkonfirmasi cabai tetap dalam komponen perhitungan inflasi,
tetapi bobot komponen volatil seperti pangan (cabai dan lainnya) akan
ditinjau ulang (
http://bisnis.vivanews.com/news/read/198106-bps--harga-cabai-tetap-dihitung-di-inflasi).
Penyesuaian ini bukan sesuatu yang aneh, Pemerintah AS sekalipun baru-baru
ini dan tetap akan menyesuaikan perhitungan 'unemployment rate', dan itu
menjelaskan mengapa 'rate' rilis Jumat lalu bisa turun hingga 9,4%.
Pemerintah AS juga mengabaikan komponen volatil inflasi yang disumbang oleh
pangan dan bahan bakar, dengan hanya fokus kepada inflasi inti ('core
inflation'). Dan terkait inflasi inti ini BI telah menegaskan proyeksinya
selama 2011:
http://www.bloomberg.com/news/2011-01-07/indonesia-says-2011-core-inflation-may-not-exceed-5-update1-.html
.

4) Rilis laba AS segera mulai. Pekan ini, Alcoa, sebagai emiten dengan
tradisi pengumuman laba kuartalan paling awal, akan merilis laporan
keuangannya, dan ekspektasi pasar positif. Ini akan menjadi gong akselarasi
kenaikan indeks, dan mempengaruhi 'tone' bursa saham global (
http://www.reuters.com/article/idUSTRE7065U720110109).

5) Jika Anda mengkhawatirkan 'outlows' asing Jumat lalu yang terbesar sejak
Juli 2008 atau sebelum krisis finansial global, sekarang perhatikan chart
IHSG setelah Juli 2008. Anda akan menemukan bahwa indeks tidak jatuh
seketika, kecuali setelah kejatuhan indeks AS karena pengumuman kepailitan
Lehman Brothers. Dan, jangan lupa satu hal, bahwa sebelum Juli, yang
merupakan indikasi akan terjadinya krisis finansial global, sudah dimulai
dengan kolapsnya institusi keuangan klasik Bear Sterns pada Maret 2008, dan
disusul dengan institusi 'mortgage' Freedie Mac. Pertanyaan kritis yang
diajukan kepada para pelaku pasar yang bimbang saat ini, ada kejadian
fundamental luar biasa apa yang sudah terjadi sehingga bisa menjustifikasi
krisis sebagaimana 2008?...Jawabnya, tidak ada, kecuali harga komoditas
naik. Oleh karena itu, kekhawatiran tersebut masih belum cukup alasan, dan
oleh karena itu 'pull-back' yang terjadi tidak lebih dari penyesuaian
temporer yang menyediakan kesempatan beli/investasi yang terbaik.

Terakhir, coba lihat sejarah ke belakang. Perhatikan waktu-waktu di mana
IHSG memasuki 'intermediate/long-term bearish cycle'-nya, apakah 'bearish'
terjadi pada saat BI rate ada pada satu digit, misalnya seperti 6,5% saat
ini? Jawabnya, jelas tidak, sejarah menunjukkan setiap krisis, posisi BI
rate ada pada 2 digit. Kondisi yang sama, juga menjawab kekhawatiran 'double
dip' pada bursa saham AS sepanjang awal 2010 lalu. Bagaimana bisa krisis
kembali saat Fed discount rate ada pada level terendah mendekati 0%? Sampai
di sini, kesimpulan dari salah satu analis Indonesia sebagaimana dikutip
oleh Reuters, cukup tepat.

Despite the bearish session, brokers in the region remained generally
optimistic. "There's no negative news in the market and I think it's purely
a healthy correction because investors realised profits," said Jakarta-based
John Teja, director at broker Ciptadana Securities.

Namun demikian, jangan sampai salah pilih subsektor dan saham untuk prospek
investasi 2011. Untuk jangka pendek, 'big caps' dan komoditas masih akan
mengalami tekanan.

'+'

Kirim email ke