Masih bilang ini koreksi boongan mr + ??? Capek deh...zzzzz Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
-----Original Message----- From: Djoni <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Mon, 10 Jan 2011 10:28:14 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [saham] Saham Indonesia: Best time to BUY in the start of Year 2011 Sudah lah, Wong posting informasi kok disalah salahkan seh. Grow up, 2011/1/10 heru <[email protected]> > > > Yg bener nih? Ntar disalahin lagi hihihi... > > *ngabur...sebelum di lempar bata > > Sent from my BlackBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > ------------------------------ > *From: * [email protected] > *Sender: * [email protected] > *Date: *Mon, 10 Jan 2011 02:26:55 +0000 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *Re: [saham] Saham Indonesia: Best time to BUY in the start of > Year 2011 > > > > Hayo tunggu apalagi. Buruan serbu. Ntar nyesel lho. Hehehe > ------------------------------ > *From: * positif01 <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Mon, 10 Jan 2011 09:23:16 +0700 > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *[saham] Saham Indonesia: Best time to BUY in the start of Year > 2011 > > > > Jika tahun 2011 adalah waktu yang tersisa dalam hidup Anda ('lifetime'), > maka Jumat lalu dan beberapa hari ke depan adalah waktu terbaik Anda untuk > masuk dalam saham-saham pilihan untuk mengarungi prospek investasi 2011, now > is your best chance in your lifetime as these days may not come back for the > rest of the year. > > Jumat lalu, investors/traders Indonesia 'dikagetkan' dengan reaksi pasar > yang begitu 'bearish' terhadap 'pull-back' di awal tahun. Bayangkan hanya > dalam 1 hari, IHSG sempat jatuh hingga 3,6% dan dana asing yang keluar ('net > ouflows') lebih dari Rp1,5 triliun merupakan 'outflows' yang terbesar sejak > Juli 2008. > > Panik? Ya, jika Anda hanya berkutat pada hari Jumat itu saja dengan > mengabaikan ('dismiss') sejumlah fakta dan data, baik ke belakang (historis) > maupun proyeksi ke depan. Jika, cukup komprehensif membaca situasi, menurut > saya, saat ini justru adalah saat terbaik untuk mengarungi prospek 2011. > Tentu, Anda tidak dapat selalu berharap saham dan indeks akan terus naik > tanpa pernah turun. "What goes up must come down!", begitu yang terjadi > Jumat lalu sebagai 'pull-back'. Seperti laksana argo taksi, maka 'start' > yang positif di awal tahun 2011 lalu ibarat di-reset ulang ke titik 0. Itu > sama halnya dengan kesempatan kedua yang diberikan pasar kepada Anda untuk > dapat lari lebih baik di waktu tersisa. Mengapa saat yang terbaik untuk > mengawali investasi 2011? > > 1) Mayoritas indeks utama global/regional Jumat lalu mengalami 'pull-back', > tidak terkecuali NYSE/Nasdaq, FTSE hingga Asia Tenggara. Namun demikian, > perkembangan semua indeks kunci mengawali tahun 2011 ini bersepakat satu > kata: memulai Naik, termasuk IHSG. Bahkan beberapa indeks acuan global > seperti S&P 500 masih naik 1,1% pada 5 hari pertama perdagangan di 2011, > sekaligus merupakan kenaikan terbesar mingguan dalam 4 minggu terakhir. > Secara keseluruhan saham-saham AS naik selama 6 minggu berturut-turut dan > merupakan rangkaian kenaikan berturut terlama sejak April 2010. Mengenai > perkembangan indeks di Asia Tenggara, Reuters melaporkan Jumat lalu setelah > penutupan perdagangan yang dramatis bahwa, "However, stocks in the region > had a strong start in the first trading week of the year thanks to hopes of > good earnings growth at listed firms and of strong economic growth in Asia." > > 2) Laju saham AS tetap positif tetapi dalam tempo melambat. Adalah > kepentingan 'emerging markets', untuk melihat saham-saham AS tetap melaju > agar tidak menghambat 'global economy recovery', tetapi juga tidak melaju > sedemikian kencang yang akan mendorong dana-dana murah ('hot money') hasil > 'quantitative easing' kembali dari 'emerging markets' ke 'home countries' > AS/Eropa. Dan, berterima kasih kepada rilis data tenaga kerja AS Jumat lalu > yang masih menunjukkan hasil yang 'mixed'. Meski 'unemployment rate' turun > signifikan dari 9,8% menjadi 9,4% yang merupakan terendah sejak May 2009, > akan tetapi kenaikan 'non-farm payrolls' atau indikasi jumlah pekerjaan baru > yang terisi, hanya naik sebanyak 103.000 atau jauh di bawah ekspektasi > 150.000. Kondisi ini menunjukkan bahwa terlepas dari membaiknya mayoritas > indikator ekonomi AS, khususnya yang menggambarkan progress/prospek di pasar > keuangan, realitas riil di masyarakat, perbaikan ekonomi masih berjalan > tertatih-tatih. Ben Bernanke, Gubernur Federal Reserve, menguatkan > sinyalemen kemajuan dalam tempo yang lambat ini dengan menyatakan Jumat > lalu, "it could take four to five more years for the job market to normalize > fully". Sinyalemen ini memberikan kesempatan bagi sejumlah 'emerging > markets', seperti Indonesia untuk 'buying time' membenahi fasilitas > infrastruktur yang dapat menopang laju foreign direct investment, sekaligus > mengejar status 'investment grade'-nya pada tahun ini dengan menjaga > stabilitas fiskal dan moneter sebaik mungkin. Data yang 'mixed' dari AS ini > akan kembali menjadikan dana-dana asing harus berpikir 10 kali sebelum > benar-benar memutuskan untuk keluar dari 'emerging markets'. > > 3) Antisipasi Inflasi di Indonesia. Inflasi telah menjadi isu sentral di > awal 2011. Dengan inflasi tahunan pada Desember lalu yang di atas estimasi > BI dan serangkaian kenaikan komoditas, turut menambah kekhawatiran sejumlah > pelaku pasar. Terlebih, BI memilih untuk menaikkan GWM ketimbang suku bunga, > sehingga persepsi pelaku pasar cenderung untuk men-downgrade prospek nilai > investasi di Indonesia yang tergerus dengan kenaikan inflasi. Namun > demikian, kekhawatiran ini, sudah coba dijawab oleh Pemerintah Indonesia > dengan serangkaian tindakan konkret, khususnya terkait pengendalian harga > pangan yang telah menjadi sumber kenaikan inflasi. Pada akhir pekan lalu, > setidaknya ada 2 sinyalemen tindakan penting yang perlu dicatat oleh pelaku > pasar: > a) Pemerintah Indonesia akan memangkas bea impor pangan ( > http://www.reuters.com/article/idUSJKB00420220110107); > b) selain langkah langsung pemadaman harga pangan, Pemerintah melalui BPS > juga akan 'membenahi' perhitungan angka inflasi khususnya bobot pada > komponen pangan yang volatil ( > http://economy.okezone.com/read/2011/01/07/20/411535/bps-didesak-keluarkan-cabai-dari-perhitungan-inflasi). > Meski BPS mengkonfirmasi cabai tetap dalam komponen perhitungan inflasi, > tetapi bobot komponen volatil seperti pangan (cabai dan lainnya) akan > ditinjau ulang ( > http://bisnis.vivanews.com/news/read/198106-bps--harga-cabai-tetap-dihitung-di-inflasi). > Penyesuaian ini bukan sesuatu yang aneh, Pemerintah AS sekalipun baru-baru > ini dan tetap akan menyesuaikan perhitungan 'unemployment rate', dan itu > menjelaskan mengapa 'rate' rilis Jumat lalu bisa turun hingga 9,4%. > Pemerintah AS juga mengabaikan komponen volatil inflasi yang disumbang oleh > pangan dan bahan bakar, dengan hanya fokus kepada inflasi inti ('core > inflation'). Dan terkait inflasi inti ini BI telah menegaskan proyeksinya > selama 2011: > http://www.bloomberg.com/news/2011-01-07/indonesia-says-2011-core-inflation-may-not-exceed-5-update1-.html > . > > 4) Rilis laba AS segera mulai. Pekan ini, Alcoa, sebagai emiten dengan > tradisi pengumuman laba kuartalan paling awal, akan merilis laporan > keuangannya, dan ekspektasi pasar positif. Ini akan menjadi gong akselarasi > kenaikan indeks, dan mempengaruhi 'tone' bursa saham global ( > http://www.reuters.com/article/idUSTRE7065U720110109). > > 5) Jika Anda mengkhawatirkan 'outlows' asing Jumat lalu yang terbesar sejak > Juli 2008 atau sebelum krisis finansial global, sekarang perhatikan chart > IHSG setelah Juli 2008. Anda akan menemukan bahwa indeks tidak jatuh > seketika, kecuali setelah kejatuhan indeks AS karena pengumuman kepailitan > Lehman Brothers. Dan, jangan lupa satu hal, bahwa sebelum Juli, yang > merupakan indikasi akan terjadinya krisis finansial global, sudah dimulai > dengan kolapsnya institusi keuangan klasik Bear Sterns pada Maret 2008, dan > disusul dengan institusi 'mortgage' Freedie Mac. Pertanyaan kritis yang > diajukan kepada para pelaku pasar yang bimbang saat ini, ada kejadian > fundamental luar biasa apa yang sudah terjadi sehingga bisa menjustifikasi > krisis sebagaimana 2008?...Jawabnya, tidak ada, kecuali harga komoditas > naik. Oleh karena itu, kekhawatiran tersebut masih belum cukup alasan, dan > oleh karena itu 'pull-back' yang terjadi tidak lebih dari penyesuaian > temporer yang menyediakan kesempatan beli/investasi yang terbaik. > > Terakhir, coba lihat sejarah ke belakang. Perhatikan waktu-waktu di mana > IHSG memasuki 'intermediate/long-term bearish cycle'-nya, apakah 'bearish' > terjadi pada saat BI rate ada pada satu digit, misalnya seperti 6,5% saat > ini? Jawabnya, jelas tidak, sejarah menunjukkan setiap krisis, posisi BI > rate ada pada 2 digit. Kondisi yang sama, juga menjawab kekhawatiran 'double > dip' pada bursa saham AS sepanjang awal 2010 lalu. Bagaimana bisa krisis > kembali saat Fed discount rate ada pada level terendah mendekati 0%? Sampai > di sini, kesimpulan dari salah satu analis Indonesia sebagaimana dikutip > oleh Reuters, cukup tepat. > > Despite the bearish session, brokers in the region remained generally > optimistic. "There's no negative news in the market and I think it's purely > a healthy correction because investors realised profits," said Jakarta-based > John Teja, director at broker Ciptadana Securities. > > Namun demikian, jangan sampai salah pilih subsektor dan saham untuk prospek > investasi 2011. Untuk jangka pendek, 'big caps' dan komoditas masih akan > mengalami tekanan. > > '+' > > > > > > >
