Pak Darwin, Saya juga awam sih sama mahluk inflasi di Indo ini.
Saya hanya melihat kalau suku bunga murah maka dana masyarakat tdk akan parkir dalam bentuk deposito tp akan masuk ke investasi langsung, seperti bikin pabrik, membeli property, kendaraan, buka toko, ekspor/impor. Nah karena banyak yg beli tersebut maka terjadilah keseimbangan baru dalam supply n demand nya dg demikian roda ekonomi masyarakat bergerak menyesuailan keseimbangan tersebut. Buat yg pegang saham emiten terkait akan senyum lebar karena semakin naik harganya... Tetangga yg menaikkan suku bunga biarkan saja ga usah dipikirkan, kita ga rugi koq dg hal tsb ga usah takut jadi capital out lah... Singapura, Ausie yg tetangga sebelah kita suku bunganya lebih murah tapi sangat menarik untuk invest disana... Pasti ada faktor lain yg membuat mereka tdk ditinggal kabur oleh investor, nah ga tahu deh ini jadi tugasnya siapa untuk di Indonya... Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Darwin Hutabarat <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 14 Jan 2011 11:06:46 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [saham] BI dan suku bunga, sekali lagi? Pak Faried, ane masih awam, tapi menurut ane ke 2 kebijakan moneter tersebut : Menaikkan GWM dan Menaikkan BI rate bisa di terapkan yang salah satunya untuk mengendalikan infaltion rate. dan keduanya mempunyai kemujarabannya masing2. Tapi sebaiknya kebijakan yang diambil harus di lihat sebereapa effektif dan cepat untuk mengcounter tingkat inflasi yang sedang di hadapi Kalau suku bunga tetap rendah tidak menarik juga nvest, sementara kalau negara tetangga sdh menaikkan suku bunganya, yang invest bisa lari ke negara2 yang memberikan tingakt bunga lebih tinggi. sederhananya kalau kita nabung pasti cari bank yang memberikan bunga tinggi disamping performance bank itu sendiri. yang penting BI menaikan BI rate jangan terlalu tinggi. dan kalau nanti inflasi bisa dikendalikan di angka yang di tetapkan dari awal, BI kan juga bisa cepat menurukan tingkat BI Rate lagi ini hanya pengelihatan ane sebagai pedagang. dh > menulis: Dari: Faried <[email protected]> Judul: Re: [saham] BI dan suku bunga, sekali lagi? Kepada: [email protected] Tanggal: Jumat, 14 Januari, 2011, 9:40 AM Om Positip01 dan Bang IAN thanks untuk ilmunya, kalau suku bunga pinjaman bisa murah tentunya roda ekonomi bisa rally sangat kencang ya, otomatis harga2 saham bisa lebih menarik jadinya ya... Powered by Telkomsel BlackBerry® From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Fri, 14 Jan 2011 02:47:42 +0000 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [saham] BI dan suku bunga, sekali lagi? Thx bang lan sharingnya, :) Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 14 Jan 2011 09:35:59 +0700 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [saham] BI dan suku bunga, sekali lagi? Suku bunga ngga perlu naik karena malah jadi penyebab inflasi itu sendiri dalam kasus Indonesia. Naikan saja GWM nya, Giro Wajib Minimum (kalau istilah di buku pelajaran adalah Reserve Requirement) yang saat ini masih terlalu rendah, baru 8%, untuk negara dengan growth seperti Indonesia. China tingkat GWM nya 18,5%. Sementara tingka suku bunga deposito 1 tahun di China hanya 2,75% dan tingkat suku bunga pinjaman di China 5,81%. Peningkatan GWM sangat efektif dalam menekan jumlah uang beredar. Bagi yg ingin belajar apa itu GWM dan bagaimana pengaruhnya ke ekonomi, silakan baca2 di: http://en.wikipedia.org/wiki/Reserve_requirement jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu On Fri, Jan 14, 2011 at 9:24 AM, positif01 <[email protected]> wrote: Ferry Wong, head of Indonesia research at Macquarie Securities in Jakarta, said the central bank was behind the curve on inflation. "I think some foreign investors were not too comfortable with the central bank's not raising interest rates despite high inflation," he said. (Reuters) BI’s decision to keep its policy interest rate at 6.5 per cent for the 17th month in a row rests on two assumptions: that food price inflation won’t spill into core inflation, and that interest-rate increases would attract damaging short-term capital flows. Both are dubious. First, it is true that the core inflation rate (excluding food and energy) held steady in December at 4.3 per cent, while headline consumer price inflation – driven by food, which accounts for about a third of the CPI basket – continued to accelerate to 7 per cent, well outside the target zone of 4 to 6. But headline and core never decouple for long. Consumer surveys and rising 10-year bond yields suggest that inflation expectations are taking root. Second, rate rises need not attract inordinate amounts of hot money if capital controls are effective, and everyone else is tightening too. (Financial Times).
