*Saham AS Ambruk*

Pasar saham AS ditutup mendekati level terendah ('session lows') Rabu, dan
sektor teknologi yang paling mendapatkan hujaman terburuk dengan semakin
banyaknya laporan laba emiten yang jelek ('bad earnings') setelah sesi
perdagangan dibuka. Kejatuhan saham ini merupakan proporsi terbesar dalam 2
bulan terakhir.

Indeks komposit Nasdaq terperosok 1,5% yang merupakan pukulan terburuk sejak
23 November, sementara komposit NYSE kehilangan 1,1%. Dow masih lebih baik
dengan hanya turun 0,1% dan berakhir mendekati level tengah 'trading range'.
Volume perdagangan meningkat di Nasdaq sehingga menjadikannya sebagai hari
distribusi, namun demikian volume menipis di NYSE.

Perdagangan Rabu diawali dengan catatan buruk mengenai laporan laba yang
mengecewakan dari raksasa Wall Street, Goldman Sachs, yang terjerembab 5%.
Sementara Selasa sebelumnya, Cree, emiten teknologi 'chip' juga menurunkan
laporan yang lebih jelek lagi sehingga sahamnya  tengkurap 14% Rabu dan
meningkatkan tensi perdagangan yang memburuk.

Sebagaimana diprediksi oleh para analis dan di-posting kemarin, data
'housing starts' atau indikasi yang menggambarkan banyaknya awal pembangunan
rumah-rumah baru di AS dilaporkan turun dari data Desember. Bahkan
penurunannya jauh lebih buruk dari yang diestimasi 550.000 menjadi 529.000
(4,3%) dan merupakan level terendah sejak Oktober 2009. Penurunan 'housing
starts' yang kemungkinan akan disusul dengan memburuknya 'jobless claims'
besok merupakan faktor kondusif bagi prospek pasar saham 'emerging markets',
khususnya Asia termasuk Indonesia. Data-data ekonomi kunci perumahan dan
tingkat pengangguran AS akan mengunci Bank Sentral AS untuk tidak menaikkan
suku bunga yang akan berimplikasi terhadap melajunya 'capital inflow' ke
'higher yielding assets' yang berlokasi di 'emerging markets'.

Sementara itu, Cina akan mengumumkan pertumbuhan GDP dan indeks harga
konsumen (IHK) yang menjadi indikator kunci tingkat inflasi. Sebagaimana
di-posting kemarin, informasi yang 'dibocorkan' sehari sebelumnya
menunjukkan bahwa GDP tumbuh 10,3% tahun lalu dan IHK hanya naik 4,6% jauh
dari data November yang di atas 5%. (
http://www.bloomberg.com/news/2011-01-19/china-2010-economic-growth-10-3-phoenix-tv-reports-correct-.html
)

Dengan 'outlook' pasar saham AS terkini serta jika data dari Cina
mengkonfirmasi reaksi pasar Cina, Hongkong dan sejumlah indeks Asia lainnya
yang positif kemarin maka pasar saham Indonesia berpotensi mengalami
'rebound' yang signifikan setelah bergerak 'sideways' pasca kenaikan di atas
2% pada 12 Januari lalu. IHSG sendiri berhasil ditutup pada 'upper-half
range' kemarin -0,4% setelah sempat menyentuh titik terendah ('session low')
di -1,02%. Meningkatnya nilai transaksi asing menjelang akhir perdagangan
menandakan 'confidence' yang tumbuh di kalangan pelaku pasar. Justru
investor lokal yang masih bersikap ragu atas prospek ke depan. Reli uptrend
IHSG ke depan akan cukup ditentukan oleh pergerakan positif menjelang akhir
pekan ini.

Kamis dan Jumat ini, sektor 'mining' berpotensi memimpin penguatan setelah
kemarin sub-sektor 'coal mining' mengalami tekanan yang bertolak belakang
dengan perkembangan saham-saham batubara global/regional. Secara teknikal,
indeks sektoral 'mining' menunjukkan indikator beli dengan menembus garis
MA10-nya kemarin. Sub-sektor batubara berpotensi lebih besar untuk meningkat
dibandingkan 'industrial & precious metal'. Adapun saham-saham komoditas
lainnya sektor agrikultur telah mengawali 'rebound' kemarin.

US market outlook: 'Market in Confirmed Uptrend'
Indonesia market outlook: 'Market Uptrend under Pressure'

'+'

Kirim email ke