Hati-hati lho, kalau kita lihat hasil gerakan pasar IHSG hari ini sih sudah 'downtrend under pressure' tuh..., hehehehe.
--- On Wed, 1/19/11, Teguh Diyanto <[email protected]> wrote: From: Teguh Diyanto <[email protected]> Subject: Re: [saham] US & Indonesia Market Update (19 Januari 2011) To: [email protected] Date: Wednesday, January 19, 2011, 5:33 PM Kita masih "uptrend under pressure" ya pak ? --- On Wed, 1/19/11, positif01 <[email protected]> wrote: From: positif01 <[email protected]> Subject: [saham] US & Indonesia Market Update (19 Januari 2011) To: Date: Wednesday, January 19, 2011, 8:25 PM Saham AS Ambruk Pasar saham AS ditutup mendekati level terendah ('session lows') Rabu, dan sektor teknologi yang paling mendapatkan hujaman terburuk dengan semakin banyaknya laporan laba emiten yang jelek ('bad earnings') setelah sesi perdagangan dibuka. Kejatuhan saham ini merupakan proporsi terbesar dalam 2 bulan terakhir. Indeks komposit Nasdaq terperosok 1,5% yang merupakan pukulan terburuk sejak 23 November, sementara komposit NYSE kehilangan 1,1%. Dow masih lebih baik dengan hanya turun 0,1% dan berakhir mendekati level tengah 'trading range'. Volume perdagangan meningkat di Nasdaq sehingga menjadikannya sebagai hari distribusi, namun demikian volume menipis di NYSE. Perdagangan Rabu diawali dengan catatan buruk mengenai laporan laba yang mengecewakan dari raksasa Wall Street, Goldman Sachs, yang terjerembab 5%. Sementara Selasa sebelumnya, Cree, emiten teknologi 'chip' juga menurunkan laporan yang lebih jelek lagi sehingga sahamnya tengkurap 14% Rabu dan meningkatkan tensi perdagangan yang memburuk. Sebagaimana diprediksi oleh para analis dan di-posting kemarin, data 'housing starts' atau indikasi yang menggambarkan banyaknya awal pembangunan rumah-rumah baru di AS dilaporkan turun dari data Desember. Bahkan penurunannya jauh lebih buruk dari yang diestimasi 550.000 menjadi 529.000 (4,3%) dan merupakan level terendah sejak Oktober 2009. Penurunan 'housing starts' yang kemungkinan akan disusul dengan memburuknya 'jobless claims' besok merupakan faktor kondusif bagi prospek pasar saham 'emerging markets', khususnya Asia termasuk Indonesia. Data-data ekonomi kunci perumahan dan tingkat pengangguran AS akan mengunci Bank Sentral AS untuk tidak menaikkan suku bunga yang akan berimplikasi terhadap melajunya 'capital inflow' ke 'higher yielding assets' yang berlokasi di 'emerging markets'. Sementara itu, Cina akan mengumumkan pertumbuhan GDP dan indeks harga konsumen (IHK) yang menjadi indikator kunci tingkat inflasi. Sebagaimana di-posting kemarin, informasi yang 'dibocorkan' sehari sebelumnya menunjukkan bahwa GDP tumbuh 10,3% tahun lalu dan IHK hanya naik 4,6% jauh dari data November yang di atas 5%. (http://www.bloomberg.com/news/2011-01-19/china-2010-economic-growth-10-3-phoenix-tv-reports-correct-.html) Dengan 'outlook' pasar saham AS terkini serta jika data dari Cina mengkonfirmasi reaksi pasar Cina, Hongkong dan sejumlah indeks Asia lainnya yang positif kemarin maka pasar saham Indonesia berpotensi mengalami 'rebound' yang signifikan setelah bergerak 'sideways' pasca kenaikan di atas 2% pada 12 Januari lalu. IHSG sendiri berhasil ditutup pada 'upper-half range' kemarin -0,4% setelah sempat menyentuh titik terendah ('session low') di -1,02%. Meningkatnya nilai transaksi asing menjelang akhir perdagangan menandakan 'confidence' yang tumbuh di kalangan pelaku pasar. Justru investor lokal yang masih bersikap ragu atas prospek ke depan. Reli uptrend IHSG ke depan akan cukup ditentukan oleh pergerakan positif menjelang akhir pekan ini. Kamis dan Jumat ini, sektor 'mining' berpotensi memimpin penguatan setelah kemarin sub-sektor 'coal mining' mengalami tekanan yang bertolak belakang dengan perkembangan saham-saham batubara global/regional. Secara teknikal, indeks sektoral 'mining' menunjukkan indikator beli dengan menembus garis MA10-nya kemarin. Sub-sektor batubara berpotensi lebih besar untuk meningkat dibandingkan 'industrial & precious metal'. Adapun saham-saham komoditas lainnya sektor agrikultur telah mengawali 'rebound' kemarin. US market outlook: 'Market in Confirmed Uptrend' Indonesia market outlook: 'Market Uptrend under Pressure' '+'
