Semua indeks utama AS tertekan dan ditutup mendekat level terendah ('lows')
'intradays' Jumat. Indeks terpukul oleh krisis Mesir dan rilis laporan
keuangan yang mengecewakan dari sejumlah emiten, khususnya Ford dan Amazon.
Indeks komposit Nasdaq anjlok -2,5% sementara indeks komposit NYSE dan S&P
500 keduanya melorot -1,8%. Volume perdagangan melonjak di kedua bursa, dan
tercatat sebagai hari distribusi yang merupakan sinyal bahwa investor
institusi melakukan penjualan masif.

Hampir semua sub-sektor industri mengalami tekanan, dan hanya sub-sektor
enerji serta pertambangan yang mampu bertahan dan berbalik mengalami
penguatan yang signifikan didorong oleh melonjaknya harga minyak mentah
lebih dari +4% dalam hitungan jam. Selama pekan lalu saham-saham enerji AS
tercatat naik +1,2%.

Data ekonomi AS yang akan dirilis Senin, di antaranya Chicago purchasing
managers' index. Beberapa emiten penting yang akan merilis laporan keuangan
Senin: Baidu, Check Point Software dan Exxon Mobil.

Sementara, indeks utama Indonesia, IHSG, ditutup melemah -0,77% Jumat lalu
setelah berhasil mengurangi penurunan 'intraday' hingga -1,49%. Pelemahan
-0,77% dipandang rasional mengingat sentimen negatif pasca penurunan
peringkat kredit Jepang Kamis lalu yang menekan indeks Nikkei lebih dari
-1,2%. Asing tercatat melakukan 'nett sell' hingga Rp300 miliar setelah
sehari sebelumnya mencatat 'nett buy' lebih Rp700 miliar. Secara teknikal,
pelemahan Jumat yang tidak disertai peningkatan volume perdagangan
dibandingkan hari sebelumnya masih belum mengkualifikasi Jumat lalu sebagai
hari distribusi. Tanpa memperhitungkan krisis Mesir yang kemudian memanas
pasca ditutupnya pasar saham Indonesia Jumat lalu, IHSG sendiri secara
teknikal sudah memasuki tahapan beli strategis, meski secara fundamental
pembelian investasi oleh sejumlah investor institusi sudah dilakukan
beberapa hari lalu.

Pasca penutupan Jumat, krisis Mesir mengalami eskalasi yang lebih serius
dibandingkan dengan perkiraan sejumlah pihak. Kekhawatiran yang menjalar
dari krisis politik Tunisia, Mesir dan kemudian diperkirakan akan mengancam
sejumlah negara kunci di Timur Tengah telah menciptakan sentimen negatif
tidak hanya bagi 'emerging market' tetapi juga 'developed market'. Praktis
semua bursa dari belahan barat hingga timur telah dan akan mengalami
tekanan, tidak terkecuali bursa Indonesia Senin ini.

Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu dicatat sebagai pertimbangan
rasional, khususnya untuk investor, antara lain:

1. Krisis Mesir adalah krisis politik yang berbasis ketidakpuasan massa
dengan karakteristik yang khas, monopoli kekuasaan politik sekian lama
berkat sistem politik yang otoriter plus ketiadaan pembatasan kekuasaan
politik. Menimbang konteks dan penyebab krisis politik seperti di Timur
Tengah ini, dalam hal Indonesia kondisi serupa sudah dialami lebih dahulu
pada krisis finansial Asia 1997/98. Era reformasi dengan sejumlah
kekurangannya, setidaknya telah berhasil dalam mengatasi 2 permasalahan
mendasar politik di sejumlah negara berkembang. Oleh karena itu, meski ada
sejumlah gerakan politik ketidakpuasan di Indonesia, menimbang fakta bahwa
tampuk kekuasaan bahkan sudah dipilih secara langsung atau jauh lebih maju
dari kampiun demokrasi seperti AS, dan kekuasaan presidensial dibatasi
hingga 2 periode, kemungkinan-kemungkinan eskalasi gerakan politik akan
menjadi seperti di Timur Tengah dalam kalkulasi investasi resiko politik
menjadi sangat kecil. Bahkan bagi sejumlah pihak yang tidak puas, akan jauh
lebih efisien mempersiapkan pertaruangan politik pada 2014 ketimbang
membuang enerji untuk berpikir tentang penggulingan kekuasaan yang akan
memakan ongkos besar dan belum tentu akan menempatkan yang bersangkutan
sebagai pemimpin negeri. Tentu banyak yang tidak lupa dengan tokoh-tokoh
bersemangat pada tahun 1999 lalu pasca turunnya Presiden Soeharto.

2. Pertumbuhan ekonomi dunia sama sekali tidak mati. Ketika pandangan ke
depan di tengah krisis begitu buruk, sesungguhnya data-data yang muncul
justru mengisyaratkan sebaliknya. Secara pertumbuhan global, meski GDP AS
tidak naik sebanyak yang diperkirakan sejumlah analis (+3,5%) namun kenaikan
+3,2% pada kuartal 4 lalu disertai dengan meningkatnya belanja konsumer
jelas mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi AS masih tetap berjalan.
Selain itu, komitmen Bank Sentral AS untuk melanjutkan 'quantitative easing'
dengan menggelontorkan $600 miliar ke pasar keuangan juga masih memberikan
harapan akan likuiditas pasar.

3. Kondisi 'developed market' sebagaimana disaksikan dengan penurunan
peringkat kredit Jepang dan fakta bahwa indeks-indeks utama saham AS pun
tidak mampu bertahan dari penurunan akibat sentimen global, kembali
memberikan kepercayaan kepada 'emerging market' khususnya kawasan Asia bahwa
potensi pertumbuhan kawasan akan mampu melampaui ekspektasi pasar global,
dan daya tarik pertumbuhan ini akan tetap mengalihkan konsentrasi investor
ke 'emerging market' yang lebih mampu memberikan pengembalian investasi
lebih tinggi. 'Emerging market' masih tetap atraktif dibandingkan sejumlah
'developed market' selama 2011.

Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor di atas, dan perkembangan
situasional moneter dalam kondisi pengetatan, maka pilihan saham-saham yang
diuntungkan dari sejumlah tekanan situasional tersebut menjadi pilihan yang
sangat menentukan potensi keuntungan sekaligus menekan resiko selama 52
minggu ke depan. Saham-saham pertambangan, khususnya yang terkait erat
dengan gejolak bahan bakar global, seperti batubara, masih menjadi
rekomendasi utama. Investor melihat setidaknya untuk 52 minggu ke depan.
Dan, investor/trader yang mampu bereaksi/'trading on news' dengan tepat akan
banyak diuntungkan dalam kondisi pasar yang volatil.

US market outlook: 'Market Uptrend under Pressure'
Indonesia market outlook: 'Market Uptrend under Pressure'

'+'

Kirim email ke