komentar ane buat point (1)..
bungung sama sikap dunia yg lebay sama krisis ini..
a. it happened since 23/01 ngekor tunisia. tapi kok mulai banyak dibahasnya 
baru 
sejak 27-28? baik di newsfeed bloomberg n bahkan milis ini.
b. unlike korea, mesir gak punya posisi strategis dalam ekonomi global. kecuali 
dari terusan suez yg bahkan diurus admin internasional . sumber negara 
terbesarnya pun aneh.. bantuan dari US!, yg ironisnya mayoritas diputer buat 
belanja militer. kalo yg dikawatirkan efek domino ke teluk sebagai sumber 
energi.. dipastikan masih jauh..



________________________________
From: positif01 <[email protected]>
Sent: Mon, January 31, 2011 8:32:54 AM
Subject: [saham] US & Indonesia Market Update (28 Januari 2011)

  
Semua indeks utama AS tertekan dan ditutup mendekat level terendah ('lows') 
'intradays' Jumat. Indeks terpukul oleh krisis Mesir dan rilis laporan keuangan 
yang mengecewakan dari sejumlah emiten, khususnya Ford dan Amazon. Indeks 
komposit Nasdaq anjlok -2,5% sementara indeks komposit NYSE dan S&P 500 
keduanya 
melorot -1,8%. Volume perdagangan melonjak di kedua bursa, dan tercatat sebagai 
hari distribusi yang merupakan sinyal bahwa investor institusi melakukan 
penjualan masif.

Hampir semua sub-sektor industri mengalami tekanan, dan hanya sub-sektor enerji 
serta pertambangan yang mampu bertahan dan berbalik mengalami penguatan yang 
signifikan didorong oleh melonjaknya harga minyak mentah lebih dari +4% dalam 
hitungan jam. Selama pekan lalu saham-saham enerji AS tercatat naik +1,2%.

Data ekonomi AS yang akan dirilis Senin, di antaranya Chicago purchasing 
managers' index. Beberapa emiten penting yang akan merilis laporan keuangan 
Senin: Baidu, Check Point Software dan Exxon Mobil.

Sementara, indeks utama Indonesia, IHSG, ditutup melemah -0,77% Jumat lalu 
setelah berhasil mengurangi penurunan 'intraday' hingga -1,49%. Pelemahan 
-0,77% 
dipandang rasional mengingat sentimen negatif pasca penurunan peringkat kredit 
Jepang Kamis lalu yang menekan indeks Nikkei lebih dari -1,2%. Asing tercatat 
melakukan 'nett sell' hingga Rp300 miliar setelah sehari sebelumnya mencatat 
'nett buy' lebih Rp700 miliar. Secara teknikal, pelemahan Jumat yang tidak 
disertai peningkatan volume perdagangan dibandingkan hari sebelumnya masih 
belum 
mengkualifikasi Jumat lalu sebagai hari distribusi. Tanpa memperhitungkan 
krisis 
Mesir yang kemudian memanas pasca ditutupnya pasar saham Indonesia Jumat lalu, 
IHSG sendiri secara teknikal sudah memasuki tahapan beli strategis, meski 
secara 
fundamental pembelian investasi oleh sejumlah investor institusi sudah 
dilakukan 
beberapa hari lalu.

Pasca penutupan Jumat, krisis Mesir mengalami eskalasi yang lebih serius 
dibandingkan dengan perkiraan sejumlah pihak. Kekhawatiran yang menjalar dari 
krisis politik Tunisia, Mesir dan kemudian diperkirakan akan mengancam sejumlah 
negara kunci di Timur Tengah telah menciptakan sentimen negatif tidak hanya 
bagi 
'emerging market' tetapi juga 'developed market'. Praktis semua bursa dari 
belahan barat hingga timur telah dan akan mengalami tekanan, tidak terkecuali 
bursa Indonesia Senin ini.

Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu dicatat sebagai pertimbangan 
rasional, khususnya untuk investor, antara lain:

1. Krisis Mesir adalah krisis politik yang berbasis ketidakpuasan massa dengan 
karakteristik yang khas, monopoli kekuasaan politik sekian lama berkat sistem 
politik yang otoriter plus ketiadaan pembatasan kekuasaan politik. Menimbang 
konteks dan penyebab krisis politik seperti di Timur Tengah ini, dalam hal 
Indonesia kondisi serupa sudah dialami lebih dahulu pada krisis finansial Asia 
1997/98. Era reformasi dengan sejumlah kekurangannya, setidaknya telah berhasil 
dalam mengatasi 2 permasalahan mendasar politik di sejumlah negara berkembang. 
Oleh karena itu, meski ada sejumlah gerakan politik ketidakpuasan di Indonesia, 
menimbang fakta bahwa tampuk kekuasaan bahkan sudah dipilih secara langsung 
atau 
jauh lebih maju dari kampiun demokrasi seperti AS, dan kekuasaan presidensial 
dibatasi hingga 2 periode, kemungkinan-kemungkinan eskalasi gerakan politik 
akan 
menjadi seperti di Timur Tengah dalam kalkulasi investasi resiko politik 
menjadi 
sangat kecil. Bahkan bagi sejumlah pihak yang tidak puas, akan jauh lebih 
efisien mempersiapkan pertaruangan politik pada 2014 ketimbang membuang enerji 
untuk berpikir tentang penggulingan kekuasaan yang akan memakan ongkos besar 
dan 
belum tentu akan menempatkan yang bersangkutan sebagai pemimpin negeri. Tentu 
banyak yang tidak lupa dengan tokoh-tokoh bersemangat pada tahun 1999 lalu 
pasca 
turunnya Presiden Soeharto.


2. Pertumbuhan ekonomi dunia sama sekali tidak mati. Ketika pandangan ke depan 
di tengah krisis begitu buruk, sesungguhnya data-data yang muncul justru 
mengisyaratkan sebaliknya. Secara pertumbuhan global, meski GDP AS tidak naik 
sebanyak yang diperkirakan sejumlah analis (+3,5%) namun kenaikan +3,2% pada 
kuartal 4 lalu disertai dengan meningkatnya belanja konsumer jelas 
mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi AS masih tetap berjalan. Selain itu, 
komitmen Bank Sentral AS untuk melanjutkan 'quantitative easing' dengan 
menggelontorkan $600 miliar ke pasar keuangan juga masih memberikan harapan 
akan 
likuiditas pasar.

3. Kondisi 'developed market' sebagaimana disaksikan dengan penurunan peringkat 
kredit Jepang dan fakta bahwa indeks-indeks utama saham AS pun tidak mampu 
bertahan dari penurunan akibat sentimen global, kembali memberikan kepercayaan 
kepada 'emerging market' khususnya kawasan Asia bahwa potensi pertumbuhan 
kawasan akan mampu melampaui ekspektasi pasar global, dan daya tarik 
pertumbuhan 
ini akan tetap mengalihkan konsentrasi investor ke 'emerging market' yang lebih 
mampu memberikan pengembalian investasi lebih tinggi. 'Emerging market' masih 
tetap atraktif dibandingkan sejumlah 'developed market' selama 2011.

Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor di atas, dan perkembangan situasional 
moneter dalam kondisi pengetatan, maka pilihan saham-saham yang diuntungkan 
dari 
sejumlah tekanan situasional tersebut menjadi pilihan yang sangat menentukan 
potensi keuntungan sekaligus menekan resiko selama 52 minggu ke depan. 
Saham-saham pertambangan, khususnya yang terkait erat dengan gejolak bahan 
bakar 
global, seperti batubara, masih menjadi rekomendasi utama. Investor melihat 
setidaknya untuk 52 minggu ke depan. Dan, investor/trader yang mampu 
bereaksi/'trading on news' dengan tepat akan banyak diuntungkan dalam kondisi 
pasar yang volatil.

US market outlook: 'Market Uptrend under Pressure'
Indonesia market outlook: 'Market Uptrend under Pressure'

'+'


 


      

Kirim email ke