Mari kita lihat ETF berbasiskan saham-saham unggulan Indonesia yang
diperdagangkan di NYSE/LSE setelah BEI ditutup kemarin. Dalam perspektif
investor luar yang memperdagangkan ETF Indonesia yang mengacu kepada
portofolio MSCI Indonesia Investable ini, faktor/sentimen yang mengiringi
IHSG sampai pagi tadi sebelum penutupan NYSE sudah diperhitungkan. Dalam
beberapa hal, ETF ini dapat 'dipersamakan' dengan 'futures' IHSG yang lebih
representatif.

-EIDO: -2,91% dengan volume perdagangan 120% volume rata-rata 3 bulan (
http://finance.yahoo.com/q?s=EIDO&ql=0);
-IDX: -3,03% (http://finance.yahoo.com/q?s=IDX&ql=0)
-DBXT yang diperdagangkan di LSE: -1,49% (
http://finance.yahoo.com/q?s=XMID.L&ql=0)

Ketiganya minus dalam. Apa yang perlu dicermati dari ketiga ETF ini
merupakan reaksi alamiah sebagaimana sedang dialami oleh IHSG dalam
pergolakan siklus ekonomi dengan konfirmasi inflasi. Coba kita lihat
persentase aset ETF tersebut terkait dengan 5 large caps banking Indonesia
yang rentan dan wajar mengalami penyesuaian. Pada IHSG, ke-5 saham ini
menguasai 12,1% laju IHSG, sementara pada ETF ini % net assets:

BBCA   8,65%
BBRI   6,35%
BMRI   4,87%
BBNI   2,85%
BDMN   1,84%
total  24,56%.
Bayangkan, itu hanya 5 large caps, belum yang mid caps-nya yang masuk dalam
porto.

Bagaimana bersikap? Panik atau tenang-tenang saja?

Silakan panik, kalau Anda memutuskan untuk menentang siklus ekonomi yang
sudah konfirmasi inflasi, dengan mengoleksi saham-saham yang rentan terhadap
tekanan inflasi, seperti perbankan. "Tetapi, kenapa asing masih ada yang
'collect'?", begitu tanya Anda. Jawabannya, apakah Anda tahu portofolio
perbankan asing tersebut. Apakah Anda tahu asing selektif tersebut sudah
masuk perbankan pada beberapa fase berbeda, misalnya sejak 2005 atau awal
2009 pada saat 'market bottoming', sehingga penambahan porto pada situasi
inflasi ini dianggap sebagai spekulasi dalam konteks 'averaging down'.
Pernah Anda bandingkan harga rata-rata saham-saham perbankan mereka dengan
Anda yang baru masuk pada siklus koreksi 2-3 minggu lalu?

5 saham largest caps perbankan Indonesia yang menguasai 12,1% IHSG.
Penyesuaian terhadap target harga ideal pada kisaran forward PBV 2,5 'peer'
regional-nya akan mengembalikan 'attractiveness' IHSG

BBCA: Rp3.575
BMRI: Rp4.200
BBRI: Rp3.525
BBNI: Rp2.900
BDMN: Rp5.050

Mengapa banking perlu dan harus 'sell-off'? Nanti, penjelasan ringkasnya
yang lebih spesifik.

Lain cerita kalau pilihan Anda berselancar mengikuti ombak siklus ekonomi
yang tahan inflasi, seperti oil&gas dan coal-related. "Tetapi, mereka kan
juga ikut turun", begitu tanya Anda lagi. No worries. Dalam perdagangan
bursa dikenal istilah 'follow-on effect'. Karena bobot finansial yang besar
pada IHSG, wajar jika sub-sektor lain ikut terpengaruh. Namanya pasar yang
didominasi manusia dengan segala ketakutan dan kerakusannya...faktor
sentimen akan mempengaruhi. Namun, tidak akan terlalu lama pasar akan
bertindak rasional dan mulai berpikir bahwa selalu ada 'silver lining in the
clouds'. Apakah 'doom' komoditas 2008 sudah dekat? Well, masih jauh, dan
susah dibayangkan akan terulang. Banyak indikator penting 2008 yang belum
jadi 'headline' dalam reportase ekonomi. Di samping itu, momok yang baru
berlalu 3 tahun lalu masih melekat kuat di ingatan para pengambil kebijakan
dan pelaku pasar yang lebih siap untuk terjerumus 2 kali dalam waktu begitu
dekat.

Apakah dengan fakta ETF Indonesia di atas, IHSG akan masuk 'primary bearish
cycle'. Nope. Terlalu hampa harapan itu. Tadi malam saja ke-4 emerging
market baru yang di-create oleh Goldman Sachs untuk meneruskan BRIC, yaitu
MIKT (Mexico, Indonesia, Korea, Turkey), ke-4 ETF-nya merah dalam di atas
1-2%. So, it's not only Indonesia. But, it's clearly the problem when you
pick stocks against the odds.

Banking dihempaskan, IHSG maintain 'primary bullish cycle' di inflationary
mood. ELSA dan DOID salah satu contoh dari beberapa yang hard-commodities
related, masih 'maintained to buy/hold'. Investor keduanya, tenang-tenang
saja. Anda tidak membayangkan hari ini atau lusa, tapi membayangkan akhir
tahun 2011 setidaknya. Yang terjadi hari ini atau lusa atau besoknya lagi,
simply noise.

Yang mengikuti bocoran WikiLeaks, tentu sudah membaca informasi intelijen AS
yang dilansir juga oleh Bloomberg.

Saudi Arabia’s oil output will start to fall once it has pumped half of its
360 billion barrels of recoverable reserves, according to Sadad al-Husseini,
a former Saudi Aramco official, The Guardian newspaper said, citing U.S.
embassy cables obtained by WikiLeaks, an anti-secrecy group.

The world’s biggest state-owned oil company has already produced 116 billion
barrels of oil, and can produce a further 64 billion barrels before output
begins to decline, according to the cable dated Dec. 10, 2007, posted on the
Guardian’s website.

'+'

Kirim email ke