Hebat heebaaaat !!! Tembakin terus Bro +, biar tambah ambrol. Cari terus pelor 
yang lain, kalo perlu pake meriam. Ngomong2 sempet nampung ngak ?

--- Pada Rab, 16/2/11, positif01 <[email protected]> menulis:


Dari: positif01 <[email protected]>
Judul: [saham] Salah Besar Warren Buffett untuk Investor GIAA (Garuda Indonesia 
Airlines): Suatu Pelajaran
Kepada: 
Tanggal: Rabu, 16 Februari, 2011, 1:01 AM


  



Jika ada satu investor yang memenuhi secara sempurna semua kriteria ideal 
investor maka nominasi teratas pasti dipegang oleh Warren Buffett, yang juga 
tercatat sebagai barisan utama orang terkaya dunia. Banyak cerita yang membahas 
kesuksesan Warren Buffett, namun sedikit yang mengulas kesalahannya dalam 
mengambil keputusan investasi.


Menariknya, dan menjadi relevan untuk para pemula atau investor kawakan yang 
sedang menimang atau mempertimbangkan saham penerbangan, salah satunya yang 
sudah 'listing' di bursa lokal, Garuda Indonesia Airlines (GIAA), kesalahan 
('failure') Warren Buffett ini terjadi dalam 'stock picking'-nya di saham 
penerbangan US Airways yang tercatat di NYSE.


Buffett membeli saham preferen US Airways di awal tahun 1990. Tidak lama 
setelah memegang saham sekaligus kendali manajemen US Airways dengan duduk di 
Dewan Komisaris ('board of directors'), Buffett menyadari kesalahan besarnya 
telah memutuskan untuk masuk ke dalam saham US Airways, khususnya saham 
penerbangan. Buffett kemudian memutuskan untuk 'cut loss' namun mengingat 
kondisi pasar dan prospek saham penerbangan saat itu dan besarnya ukuran 
portofolio-nya, tidak mudah bagi Buffett untuk menjual sahamnya. Dan pada 
akhirnya, 1997, dia berhasil menjual saham US Airways. Meski pada hari-hari 
terakhir mendekati realisasi keputusan keluar ('cut loss') atas porto US 
Airways terjadi 'rebound' harga saham di luar perkiraan Buffett, dia tetap 
memutuskan melego semua sahamnya. Buffett sendiri mengakui jika pada akhirnya 
dia masih bisa mendapatkan 'capital gain' dari penjualan United Airways, itu 
bukan karena kalkulasinya tetapi lebih karena faktor keberuntungan
 pada hari-hari terakhir setelah keputusan 'cut loss' diambil. Ini satu 
pelajaran penting, bahwa 'cut loss' tidak hanya berlaku bagi traders tetapi 
juga long-term investor sekalipun ketika menemukan adanya kesalahan fundamental 
yang dilakukan dalam mengambil keputusan investasi.


Apa kesalahan Buffett dalam memilih US Airways, atau secara umum saham 
penerbangan? Hal ini penting untuk dipertimbangkan oleh para investor atau 
calon investor saham-saham penerbangan.


Kesalahan terbesar dari seorang kampiun sekalipun bermuara kepada 
'over-confident' dan lalai dalam melaksanakan metodologi kerja yang telah 
dibuatnya sendiri dan mengantarkannya kepada sukses selama ini.


Buffett selalu mengatakan, "Charlie and I look for companies that have a) a 
business we understand; b)favorable long term economics c)able and trust worthy 
management d) a sensible price tag. (Berkshire Letter to Shareholders 2007).


Di antara kriteria fundamental tersebut, yang menarik untuk digarisbawahi pada 
kesalahan Buffett memilih US Airways/saham penerbangan adalah terkait 
kegagalannya untuk mengevaluasi secara jernih 'understandable business' dan 
'sustainable competitive advantage'.


Understandable Business (bisnis emiten yang jelas dan mudah dipahami)
Dilihat dari luar sepertinya bisnis penerbangan ('airline') itu adalah hal yang 
cukup mudah untuk dipahami. Pendapatan diperoleh dari memindahkan ('transport') 
pelanggan dan paket barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun demikian, 
dibalik bisnis yang terlihat mudah tersebut, ternyata, misalnya di AS, bisnis 
penerbangan ibaratnya perjudian terbesar dengan resiko mengingat 183 maskapai 
penerbangan jatuh bangkrut sejak 1978. Selain itu, modal usaha yang diperlukan 
sangat besar dan menjadi aset mati yang tidak dapat melindungi kesinambungan 
bisnis dalam hal terjadi pembalikan kondisi perekonomian dalam waktu singkat.


Sustainable Competitive Advantage (keuntungan kompetitif yang berkelanjutan)
Bagian terbesar dari alasan mengapa begitu banyak maskapai penerbangan yang 
jatuh bangkrut umumnya disebabkan oleh fakta bahwa konsumer atau pelanggan 
secara umum susah membedakan pelayanan antara satu maskapai dengan maskapai 
lainnya. Semua pesawat umumnya memiliki kesamaan model, penumpang berangkat 
dari bandara yang sama, para pilot juga umumnya dididik dari sekolah yang sama, 
makanan yang disajikan untuk penumpang juga mirip-mirp dan begitu juga film 
yang disuguhkan dalam penerbangan. Pada akhirnya, bagi pelanggan yang 
terpenting adalah harga tiket, yaitu maskapai mana yang bisa menerbangkan 
penumpang dengan harga lebih murah. Dalam hal US Airways, apakah US Airways 
memiliki kontrol penuh terhadap harga/tarif dibandingkan pesaingnya? Jawabannya 
tidak, karena US Airways ikut peraturan yang sama dengan maskapai lain, dan 
juga dikenakan biaya-biaya bandara yang juga sama dengan maskapai lainnya. 
Jadi, sulit untuk melihat bahwa ada 'sustainable
 competitive advantage' pada US Airways, sebagaimana maskapai-maskapai 
penerbangan lainnya.


Sampai kepada pertimbangan di atas, tidak salah jika dalam 'posting' sebelumnya 
disebutkan (http://groups.yahoo.com/group/saham/message/101776):


"Bayangkan, sejak tahun 1990, salah satu indikator penting 'group industry' 
airline di AS, S&P aviation sub-sector, hanya naik tidak lebih dari 5% (baca: 
LIMA persen). Sejak 1990 sampai sekarang, berarti 20 tahun lebih. Sementara 
indeks utama S&P sendiri naik 93 kali lipat (SEMBILAN PULUH TIGA X) dari indeks 
sub-sektor penerbangan tersebut. Kemudian, dari seluruh maskapai penerbangan di 
dunia yang telah tercatat di bursa saham masing-masing, separuh (1/2)-nya tidak 
menghasilkan keuntungan ('no money') sama sekali selama 12 bulan terakhir. 
Padahal kurun waktu 2009-2010 adalah tahun yang baik bagi industri penerbangan."


Apakah GIAA akan lain sendiri dari evaluasi kesalahan Buffett pada US Airways, 
atau contoh lain Cebu Air, maskapai penerbangan terbesar kedua Filipina yang 
baru IPO pada Oktober 2010 lalu, yang saat ini sudah merosot 30% dari harga 
perdana (http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102060)?


Coba kita simak kutipan langsung dari pernyataan Buffett tentang kegagalannya 
menjalankan aturan pemilihan saham yang dia buat sendiri dan berujung kepada 
keputusan yang buruk pada US Airways:


"I liked and admired Ed Colodny, the company’s then-CEO, and I still do. But my 
analysis of USAir’s business was both superficial and wrong. I was so beguiled 
by the company’s long history of profitable operations, and by the protection 
that ownership of a senior security seemingly offered me, that I overlooked the 
crucial point: USAir’s revenues would increasingly feel the effects of an 
unregulated, fiercely-competitive market whereas its cost structure was a 
holdover from the days when regulation protected profits. These costs, if left 
unchecked, portended disaster, however reassuring the airline’s past record 
might be. (1996 Letter to Shareholders, Warren Buffett)


By the way, bagaimana dengan porto Buffett sekarang? Well, terhitung per 16 
Pebruari 2011, tidak terlihat Warren Buffett ada memegang saham maskapai 
penerbangan.


Informasi tentang kesalahan terbesar Buffett dalam memilih US Airways, dapat 
disimak lebih lanjut di http://buyingvalue.com/2009/02/buffetts-biggest-mistake/


'+'








Last updated:  Wednesday, February 16, 2011   




Rank
Stock
# of Shares
(millions)
% Weighting 
of Portfolio
(as of 6/30/09)

1
Coca-Cola (KO)
200.0
21.60%

2
Wells Fargo (WFC*)
320.0
19.56%

3
American Express (AXP)
151.6
12.28%

4
Procter & Gamble (PG*)
79.1
9.83%

5
Kraft Foods Inc. (KFT)
106.7
6.34%

6
Wesco Financial Corp. (WSC)
5.7
4.32%

7
Wal-Mart (WMT)
39.0
4.26%

8
US Bancorp (USB)
69.0
3.51%

9
ConocoPhillips (COP)
34.2
3.43%

10
Johnson & Johnson (JNJ)
23.9
3.06%

11
Moody's Corp. (MCO)
30.8
1.80%

12
Washington Post Co. (WPO)
1.7
1.51%

13
Nike Inc. (NKE)
7.6
1.10%

14
M&T Bank Corp. (MTB)
5.6
0.87%

15
Republic Services Inc. (RSG) ADDED TO POSITION!
10.8
0.62%

16
USG Corp. (USG)
17.1
0.58%

17
Costco (COST)
4.3
0.51%

18
Nalco Holding Co. (NLC)
9.0
0.43%

19
Comcast (CMCSK)
12.0
0.42%

20
Iron Mountain Inc. (IRM) ADDED TO POSITION!
7.8
0.42%

21
Ingersoll-Rand (IR)
5.6
0.39%

22
CarMax Inc. (KMX)
7.7
0.38%

23
Nestle S.A. (NSRGY.PK)
3.4
0.34%

24
Lowe's (LOW)
6.5
0.31%

25
Torchmark Corp. (TMK)
2.8
0.30%

26
Sanofi-Aventis (SNY)
3.9
0.29%

27
General Electric (GE)
7.8
0.28%

28
Becton Dickinson & Co. (BDX) ADDED TO POSITION!
1.7
0.27%

29
NRG Energy, Inc. (NRG)
6.0
0.25%

30
United Parcel Service, Inc. (UPS*)
1.4
0.18%

31
Bank of America (BAC*)
5.0
0.18%

32
Home Depot (HD*)
2.8
0.18%

33
GlaxoSmithKline (GSK)
1.5
0.11%

34
Gannett Co., Inc. (GCI)
1.7
0.06%









35
Exxon Mobil (XOM)
0.4
0.06%

36
Comdisco Holding Co. Inc. (CDCO.OB)
1.5
0.03%

Acq
Burlington Northern Santa Fe (BNI)**
0.0
0.00%


 






Kirim email ke